Katanya sih alam
Taman nasional, spot pemandangan, dan kenyataan alam wisata tanpa filter.
Discussions
-
Zion memang keren — tapi apakah kamu tetap akan membencinya?
Zion indah sampai bikin patah hati. Di foto maupun di kenyataan. Datang dari arah gurun, lalu tiba-tiba semuanya berubah: tebing menjulang, taman gantung, sungai, pohon cottonwood, sinar matahari memantul dari batu merah seolah seluruh ngarai punya cahaya dari dalam dirinya sendiri. Rasanya benar-benar seperti adegan dari kitab suci. Seperti tak sengaja nyasar ke tempat para nabi mendengar suara.
-
Apakah Smoky Mountains cuma bagus untuk main gokar?
Great Smoky Mountains National Park itu menyenangkan. Hutan, gunung, air terjun, kabut yang melayang di sela-sela pepohonan, beruang hitam berkeliaran dengan tampang seperti pengangguran. Bagus. Tapi ya cuma bagus.Smokies mungkin taman nasional paling “pengaturan bawaan” di Amerika. Kalau kamu menyuruh seorang anak menggambar alam, dia akan tanpa sengaja menggambar ulang tempat ini: gunung, pohon, anak sungai, mungkin sebuah pondok kecil di suatu sudut.
-
Grand Canyon itu payah — atau cuma vibes yang bikin orang terkesan?
Tampilannya persis seperti di foto. Bagus, sekarang kamu sudah melihatnya. Aku tidak menyangkal ini mengesankan. Jelas mengesankan. Bahkan ada plakat di sana yang pada dasarnya mengakui: “Oke, baiklah, ini bukan ngarai terbesar di dunia dalam kategori apa pun yang bisa diukur, tapi secara spiritual? Secara emosional? Secara vibes? Inilah yang paling agung.” Ya sudah. Kenapa tidak.
-
Rocky Mountain layak direkomendasikan, atau cuma pantas dikunjungi saat pandemi?
Rocky Mountain National Park itu cantik dengan cara yang sama seperti demo televisi 4K terlihat cantik. Semuanya kelihatan palsu. Danau-danaunya terlalu memantul, gunung-gunungnya terlalu dramatis, rusa-rusa elk berkeliaran dengan timing yang begitu sempurna sampai terasa hasil komputer.
-
Kenapa aku tidak akan pernah ke Arches lagi?
Arches sejujurnya oke. Tempat ini memberikan persis seperti yang dijanjikan: ada lengkungan-lengkungan batu. Kamu pasti dapat apa yang kamu cari, kamu bersama ribuan orang lainnya. Oh, kamu kira bakal jadi momen ajaib di antara lengkungan-lengkungan yang mirip alien? Pikir lagi.
-
Kenapa Indiana Dunes disebut Taman Nasional kalau tidak ada apa pun yang perlu disadari di sana?
Aku tidak benci Indiana Dunes. Aku cuma kesal tempat ini menyebut dirinya Taman Nasional. Mungkin memang harus ada yang memberi Indiana satu Taman Nasional supaya tiap negara bagian merasa kebagian. Begitu mendengar “taman nasional”, otakmu langsung bersiap untuk sesuatu yang mistis: gunung-gunung menjulang, hutan purba, lanskap yang mengubah cara pandangmu terhadap geologi, Tuhan, dan dirimu sendiri. Lalu kamu tiba dan sadar kamu sedang berada di pantai yang lumayan bagus dekat Gary, Indiana.
-
Joshua Tree itu taman nasional beneran, atau cuma spiritualitas gurun buat orang Los Angeles?
Joshua Tree rasanya bukan seperti taman nasional, melainkan lebih mirip tempat tujuan mantan seseorang pindah untuk “menemukan jati dirinya.” Lanskapnya persis seperti apa jadinya kalau sebuah gurun mulai punya pandangan yang dulu ditertawakan sebelum ada cancel culture. Pepohonan aneh yang bengkok-bengkok. Tumpukan batu bulat raksasa yang seimbang di sudut-sudut yang kelihatan keren di Instagram. Setiap sudut taman ini kalau bukan terlihat seperti sampul album U2, ya seperti latar iklan skincar
-
Di Denali, apakah makin banyak kamu berjalan justru makin kamu jalan di tempat?
Denali rasanya bukan seperti mengunjungi taman nasional, melainkan lebih mirip mencoba membuat janji temu dengan gunung yang sama sekali tidak menghormatimu.Pertama-tama, peluangnya sangat besar gunungnya tidak akan kelihatan sama sekali. Denali menghabiskan sebagian besar hidupnya bersembunyi di balik awan seperti selebritas yang menghindari paparazi. Kitalah paparazinya. Orang datang, menunggu tiga hari, menghabiskan ribuan dolar, lalu pulang dengan pengalaman yang secara teknis adalah “cuaca
-
Yellowstone cuma lumayan — masih layak kamu datangi asal jangan sentuh bison-nya?
Begini, Yellowstone secara objektif luar biasa. Lanskapnya gila: kolam-kolam berwarna pelangi yang mengepul, geiser yang menyembur entah dari mana, kawanan bison berjalan menembus kabut seperti adegan pembuka film fantasi. Tapi pengalaman sebenarnya mengunjungi Yellowstone sebagian besar cuma soal terus-menerus dilarang melakukan ini-itu dengan keras.
-
Haruskah Petrified Forest diganti nama jadi "Gurun membosankan dengan batang kayu"?
Yang ini sepenuhnya salahku sendiri karena ekspektasinya kelewat tinggi. Mungkin, kalau kamu menurunkan ekspektasimu, kamu akan suka. Aku dengar “hutan membatu” dan membayangkan hutan batu purba yang membeku di tempatnya seperti di film fantasi kelam. Aku memang sempat lihat fotonya sebelum berangkat tapi tampak seperti yang ini...
-
Kalau Yosemite hebat cuma karena ini California, bukankah di mana pun lainnya sama hebatnya?
Yosemite Valley memukau. Sayangnya, tempat itu juga simulator kemacetan. Setengah dari kunjunganmu habis untuk merangkak maju di belakang SUV sewaan sambil berusaha tak menyerempet pesepeda yang berpakaian seolah sedang ikut Tour de France. Lalu akhirnya kamu turun dari mobil dan, ya, oke, El Capitan dan Half Dome memang luar biasa. Kamu melihatnya, tapi kamu TIDAK akan memanjatnya*
-
Mungkinkah Mammoth Cave menderita justru karena terlalu sukses menjadi sebuah gua?
Ukurannya raksasa. Penting secara sejarah. Memikat secara geologi. Tapi entah bagaimana juga agak membosankan. Ciri-ciri yang sama yang membuatnya jadi sistem gua terpanjang di dunia juga membuat sebagian besar bagiannya terlihat seperti seseorang mengeruk gedung parkir pemerintah di bawah tanah. Ada sistem gua di Appalachia yang tampak seperti novel fantasi. Mammoth sering kali tampak seperti terowongan kereta bawah tanah yang belum selesai.
-
Perché gli europei prenotano un volo per gli USA solo per venire a morire nella Death Valley?
Death Valley terasa lebih mirip bahaya lingkungan yang dipasangi rambu ketimbang taman nasional. Namanya saja sudah begitu dan orang Eropa tetap memesan tiket pesawat ke AS demi datang lalu mati di sini.
-
Di Sequoia Park, benarkah "ukuran memang menentukan"?
Begini, pohon-pohonnya raksasa. Harus diakui. Ukurannya benar-benar raksasa. Pertama kali melihat sequoia raksasa, persepsimu soal skala benar-benar dikacaukan. Kamu merasa kecil dengan cara yang bermakna, nyaris spiritual, seolah sejenak diingatkan bahwa manusia pada dasarnya cuma semut hiasan yang punya pendapat.
-
Saguaro cuma cocok buatmu kalau kamu satu-satunya orang yang suka kaktus?
Saguaro National Park pada dasarnya adalah beberapa jam berkendara berputar-putar sambil menatap satu tanaman yang luar biasa keras kepala. Keras kepala untuk bertahan hidup di tempat yang tanaman lain saja menyerah dan manusia jelas tak seharusnya berpikir untuk tinggal. Tapi memang begitulah Arizona seluruhnya. Dan harus diakui, saguaro itu mengesankan. Ukurannya raksasa. Beberapa di antaranya berumur dua ratus tahun. Tapi lama-kelamaan otak mulai memasukkan semuanya ke folder mental yang sama