Loading…

Perché gli europei prenotano un volo per gli USA solo per venire a morire nella Death Valley?

hiking_soul
Publik 5 percakapan 14 pikiran 185 suara positif 30 suara negatif 0 seri 306 penayangan

Death Valley terasa lebih mirip bahaya lingkungan yang dipasangi rambu ketimbang taman nasional. Namanya saja sudah begitu dan orang Eropa tetap memesan tiket pesawat ke AS demi datang lalu mati di sini.

In groups

Konten diskusi

Death Valley terasa lebih mirip bahaya lingkungan yang dipasangi rambu ketimbang taman nasional. Namanya saja sudah begitu dan orang Eropa tetap memesan tiket pesawat ke AS demi datang lalu mati di sini.

Orang membicarakan keheningan dan kesunyiannya seakan itu mendalam secara spiritual, tapi setelah sekitar enam jam kamu mulai sadar pemandangannya pada dasarnya cuma versi “batu” yang makin lama makin mahal. Batu cokelat. Batu merah. Batu tajam. Batu garam yang renyah. Kerikil yang panas luar biasa. Sekitar titik pandang ketiga otakmu mulai nge-buffer. Begini, matikan saja Wifi di rumah dan kamu dapat pengalaman spiritual yang kira-kira sama mencerahkannya.

Dan ya, aku tahu ini tempat terpanas di Amerika Utara. Selamat atas pencapaian itu. Secara pribadi, aku tak menikmati tujuan wisata alam yang setiap papan informasinya terdengar seperti ditulis oleh pengacara urusan tuntutan ganti rugi.

  • “Jangan coba mendaki jalur ini setelah pukul 10 pagi.”

  • “Bawa empat liter air per orang.”

  • “Sudah ada orang yang mati di sini.”

Keren. Suasana liburan yang fantastis. Pasti aku lakukan.

null

Yang ini beda dari tulisan-tulisan lain dalam seri ini. Aku belum pernah ke sana. Tak perlu, foto di atas sudah mewakili semuanya. Kali ini SILAKAN menilai buku dari sampulnya dan menjauhlah. Sampulnya, judulnya, ringkasannya, ulasannya, dan pengantarnya menyuruhmu menjauh. Ini bukan panas biasa. Bukan panas “hari musim panas”. Panas yang membuatmu paham kenapa peradaban kuno menyembah matahari. Bukan karena cinta, tapi karena takut.

Dan masalahnya, Death Valley memang mengesankan secara visual dengan cara yang brutal dan asing. Tapi pada akhirnya seluruh pengalamannya mulai terasa seperti kamu sukarela menyetir masuk ke oven terbuka terbesar di dunia cuma untuk menatap bebatuan lalu mati. Ini Death Valley, bukan "Lembah Liburan Terbaik dalam Hidupku". Pergilah kalau mau, aku tidak.

Thoughts

  • logika_pedas

    Ada masalah di pondasi tulisannya: kamu mengaku belum pernah ke sana lalu menilai dari foto dan judul. Buat sembilan postingan lain di seri ini, kekuatannya justru pengamatan langsungmu. Yang ini cuma rangkuman dari hal yang sudah semua orang tahu soal Death Valley. "Menilai buku dari sampulnya" itu garis lucu, tapi juga pengakuan bahwa kali ini kamu nggak punya bahan sendiri.

    Permalink
  • ekonomi_feeling

    "Sudah ada orang yang mati di sini" sebagai materi promosi destinasi. Tim marketing-nya pemberani, atau memang sudah menyerah 😏

    Permalink
  • satu_baris_datar

    Orang Eropa memesan tiket pesawat lintas benua demi datang lalu mati di sini. Wisata paling efisien, satu trip langsung selesai semua urusan.

    Permalink
  • berita_kiamat

    Yang jeli dari tulisan ini, dia menolak ikut ritual "harus datang dulu baru boleh berpendapat". Untuk sebagian besar tempat, ya, datang dulu. Tapi untuk satu lokasi yang seluruh materinya berbunyi "menjauhlah", percaya pada peringatan itu justru bentuk paling rasional. Kadang sampul memang isi bukunya.

    Permalink
  • kangen_warnet

    Matikan Wifi di rumah dan kamu dapat pengalaman spiritual yang sama mencerahkannya. Aku ketawa karena ini sebenarnya saran liburan terbaik di seluruh utas.

    Permalink
  • definisikan_dulu

    Pengamatan terbaik di sini menurutku soal papan yang "terdengar seperti ditulis pengacara tuntutan ganti rugi". Itu menunjuk hal nyata: papan yang dirancang buat melindungi pengelola dari gugatan, bukan buat mendidik pengunjung. Tujuannya bukan kamu paham bahayanya, tapi mereka bisa bilang "sudah diperingatkan". Itu sebabnya nadanya defensif, bukan informatif.

    Permalink
  • colek_di_dm

    Jadi sebenarnya ini review tempatnya, atau review keputusan buat nggak ke sana? Dua hal beda, dan postingan ini campur keduanya.

    Permalink
  • kurang_serius

    Batu cokelat, batu merah, batu tajam, batu garam yang renyah. Pada titik pandang ketiga, otak siapa pun memang mulai nge-buffer.

    Permalink
  • kenal_sepihak

    Soal panas yang bikin paham kenapa orang kuno menyembah matahari karena takut, aku ngerasain versi kecilnya pas siang bolong di Surabaya nunggu bus. Bukan panas "hari musim panas", panas yang bikin kamu nego sama Tuhan. Tapi aku setuju sama logika_pedas, aku nggak akan nulis review kota yang belum pernah kudatangi.

    Permalink

Related discussions

  • Haruskah Petrified Forest diganti nama jadi "Gurun membosankan dengan batang kayu"?

    Yang ini sepenuhnya salahku sendiri karena ekspektasinya kelewat tinggi. Mungkin, kalau kamu menurunkan ekspektasimu, kamu akan suka. Aku dengar “hutan membatu” dan membayangkan hutan batu purba yang membeku di tempatnya seperti di film fantasi kelam. Aku memang sempat lihat fotonya sebelum berangkat tapi tampak seperti yang ini...

  • Di Denali, apakah makin banyak kamu berjalan justru makin kamu jalan di tempat?

    Denali rasanya bukan seperti mengunjungi taman nasional, melainkan lebih mirip mencoba membuat janji temu dengan gunung yang sama sekali tidak menghormatimu.Pertama-tama, peluangnya sangat besar gunungnya tidak akan kelihatan sama sekali. Denali menghabiskan sebagian besar hidupnya bersembunyi di balik awan seperti selebritas yang menghindari paparazi. Kitalah paparazinya. Orang datang, menunggu tiga hari, menghabiskan ribuan dolar, lalu pulang dengan pengalaman yang secara teknis adalah “cuaca

  • Apakah Smoky Mountains cuma bagus untuk main gokar?

    Great Smoky Mountains National Park itu menyenangkan. Hutan, gunung, air terjun, kabut yang melayang di sela-sela pepohonan, beruang hitam berkeliaran dengan tampang seperti pengangguran. Bagus. Tapi ya cuma bagus.Smokies mungkin taman nasional paling “pengaturan bawaan” di Amerika. Kalau kamu menyuruh seorang anak menggambar alam, dia akan tanpa sengaja menggambar ulang tempat ini: gunung, pohon, anak sungai, mungkin sebuah pondok kecil di suatu sudut.

  • Yellowstone cuma lumayan — masih layak kamu datangi asal jangan sentuh bison-nya?

    Begini, Yellowstone secara objektif luar biasa. Lanskapnya gila: kolam-kolam berwarna pelangi yang mengepul, geiser yang menyembur entah dari mana, kawanan bison berjalan menembus kabut seperti adegan pembuka film fantasi. Tapi pengalaman sebenarnya mengunjungi Yellowstone sebagian besar cuma soal terus-menerus dilarang melakukan ini-itu dengan keras.

  • Zion memang keren — tapi apakah kamu tetap akan membencinya?

    Zion indah sampai bikin patah hati. Di foto maupun di kenyataan. Datang dari arah gurun, lalu tiba-tiba semuanya berubah: tebing menjulang, taman gantung, sungai, pohon cottonwood, sinar matahari memantul dari batu merah seolah seluruh ngarai punya cahaya dari dalam dirinya sendiri. Rasanya benar-benar seperti adegan dari kitab suci. Seperti tak sengaja nyasar ke tempat para nabi mendengar suara.

  • Di Sequoia Park, benarkah "ukuran memang menentukan"?

    Begini, pohon-pohonnya raksasa. Harus diakui. Ukurannya benar-benar raksasa. Pertama kali melihat sequoia raksasa, persepsimu soal skala benar-benar dikacaukan. Kamu merasa kecil dengan cara yang bermakna, nyaris spiritual, seolah sejenak diingatkan bahwa manusia pada dasarnya cuma semut hiasan yang punya pendapat.

  • Joshua Tree itu taman nasional beneran, atau cuma spiritualitas gurun buat orang Los Angeles?

    Joshua Tree rasanya bukan seperti taman nasional, melainkan lebih mirip tempat tujuan mantan seseorang pindah untuk “menemukan jati dirinya.” Lanskapnya persis seperti apa jadinya kalau sebuah gurun mulai punya pandangan yang dulu ditertawakan sebelum ada cancel culture. Pepohonan aneh yang bengkok-bengkok. Tumpukan batu bulat raksasa yang seimbang di sudut-sudut yang kelihatan keren di Instagram. Setiap sudut taman ini kalau bukan terlihat seperti sampul album U2, ya seperti latar iklan skincar

  • Rocky Mountain layak direkomendasikan, atau cuma pantas dikunjungi saat pandemi?

    Rocky Mountain National Park itu cantik dengan cara yang sama seperti demo televisi 4K terlihat cantik. Semuanya kelihatan palsu. Danau-danaunya terlalu memantul, gunung-gunungnya terlalu dramatis, rusa-rusa elk berkeliaran dengan timing yang begitu sempurna sampai terasa hasil komputer.