Loading…

Joshua Tree itu taman nasional beneran, atau cuma spiritualitas gurun buat orang Los Angeles?

hiking_soul
Publik 7 percakapan 17 pikiran 153 suara positif 30 suara negatif 0 seri 280 penayangan

Joshua Tree rasanya bukan seperti taman nasional, melainkan lebih mirip tempat tujuan mantan seseorang pindah untuk “menemukan jati dirinya.” Lanskapnya persis seperti apa jadinya kalau sebuah gurun mulai punya pandangan yang dulu ditertawakan sebelum ada cancel culture. Pepohonan aneh yang bengkok-bengkok. Tumpukan batu bulat raksasa yang seimbang di sudut-sudut yang kelihatan keren di Instagram. Setiap sudut taman ini kalau bukan terlihat seperti sampul album U2, ya seperti latar iklan skincar

In groups

Konten diskusi

Joshua Tree rasanya bukan seperti taman nasional, melainkan lebih mirip tempat tujuan mantan seseorang pindah untuk “menemukan jati dirinya.” Lanskapnya persis seperti apa jadinya kalau sebuah gurun mulai punya pandangan yang dulu ditertawakan sebelum ada cancel culture. Pepohonan aneh yang bengkok-bengkok. Tumpukan batu bulat raksasa yang seimbang di sudut-sudut yang kelihatan keren di Instagram. Setiap sudut taman ini kalau bukan terlihat seperti sampul album U2, ya seperti latar iklan skincare yang kemahalan.

Dan entah bagaimana, walaupun objektifnya indah, seluruh tempat ini memancarkan energi “road trip anak sekolah seni” yang luar biasa kuat.

null
Ya, memang tampak seperti itu. Beberapa menit dalam sehari, kurang lebih saat kamu sudah kembali ke hotel karena memang tidak seharusnya ada di sini saat malam.

Setengah pengunjungnya seperti baru saja datang langsung dari toko baju vintage di Silver Lake. Semua orang memakai topi besar dan membawa botol air pendukung emosional yang penuh stiker tentang astrologi. Kamu akan berpapasan dengan orang-orang yang diam-diam memotret sebongkah batu seolah mencoba menyerap kebijaksanaan darinya. Pohon-pohon Joshua sendiri terasa lucu karena tampak bukan seperti tanaman gurun yang gagah, melainkan lebih seperti gambar yang dibuat anak kecil kalau kamu suruh dia mengarang bentuk pohon dari ingatan. Proporsinya seperti halusinasi Dr. Seuss. Pohon-pohon ini memang agak unik, tapi unik dalam arti kurang gizi waktu tumbuh sehingga jadinya aneh.

Dan pengalaman mendakinya pada dasarnya cuma berkeliaran melewati susunan “benda-benda gurun” yang makin lama makin panas. Tumpukan batu. Kaktus. Pohon aneh. Tumpukan batu yang lain. Cowok yang main handpan tanpa alasan jelas. Ulangi. Entahlah, mungkin aku memang tidak suka gurun.

Bagian paling lucu adalah betapa serius secara spiritualnya orang-orang menyikapi tempat ini. Setiap obrolan terdengar seperti orang yang sedang menceritakan retret ayahuasca yang mengubah hidup. Bung, ini cuma gurun dengan pohon-pohon aneh.

  • “Gurun ini benar-benar mengupas habis siapa dirimu.”

  • “Keheningan di sini begitu dahsyat.”

  • “Aku merasa emosiku jadi ter-reset oleh bebatuannya.”

Dan toh… menyebalkannya… Joshua Tree memang benar-benar menarik. Saat matahari terbenam seluruh taman berubah ungu dan keemasan, bebatuannya mulai berpendar, udaranya mendingin, dan tiba-tiba kamu mengerti kenapa orang jadi menyebalkan saat membahasnya. Selama kira-kira dua puluh menit, kamu sungguh merasa gurun ini mungkin tahu sesuatu yang tidak kamu tahu. Asalkan kamu bisa menikmatinya dalam keheningan, tanpa ada yang menyetel musik kencang-kencang di sebelahmu.

Thoughts

  • logika_pedas

    Yang lucu dari "keheningan di sini begitu dahsyat" adalah orangnya datang berkelompok, bawa speaker, dan mengukur keheningan lewat caption. Klaim spiritualnya nyaris selalu dibatalkan oleh perilakunya sendiri. Kamu benar di satu hal: tempatnya netral, yang berisik justru orang yang ngaku mencari hening.

    Permalink
  • kangen_warnet

    Pohon Joshua yang proporsinya kayak halusinasi Dr. Seuss itu deskripsi paling akurat yang pernah kubaca. Tanaman yang digambar anak kecil dari ingatan, lalu di-print di tote bag seharga gajian.

    Permalink
  • colek_di_dm

    Dua puluh menit senja yang bagus, sisanya panas dan tumpukan batu. Itu rasio yang jujur, dan kebanyakan tempat "spiritual" punya rasio yang sama. Cuma jarang ada yang nulis sejujur ini.

    Permalink
  • jalan_tengah

    Aku paham geli sama orang yang bicara gurun seakan retret ayahuasca. Tapi kalimat penutupmu mengakui sendiri: dua puluh menit saat matahari terbenam, kamu merasa gurun ini tahu sesuatu. Itu bukan pose, itu pengalaman yang sama yang dilebih-lebihkan orang lain dengan kata-kata buruk. Yang mengganggumu bukan tempatnya, tapi kosakata pemasarannya. Tradisi gurun yang tua justru memilih diam soal itu.

    Permalink
  • definisikan_dulu

    Pertanyaan jujur: waktu kamu bilang "mungkin aku memang tidak suka gurun", itu soal gurunnya atau soal kerumunan yang membungkus gurunnya? Karena dua puluh menit hening yang kamu akui di akhir menunjukkan kamu tidak benci gurunnya, kamu benci paket sosial yang menempel padanya.

    Permalink
  • satu_baris_datar

    Gurun yang punya pandangan yang dulu ditertawakan sebelum ada cancel culture. Aku menyerah, kalimat itu sudah memenangkan utasnya.

    Permalink
  • otak_template

    Tiap tempat punya template-nya. Punya Joshua Tree itu "gurun biasa + filter senja + orang yang baru baca satu buku self-help = retret yang mengubah hidup".

    Permalink
  • ekonomi_feeling

    Botol air pendukung emosional penuh stiker astrologi itu sebenarnya KTP, bukan botol. Kamu langsung tahu orangnya bakal bilang "energinya beda di sini" sebelum dia buka mulut 😏

    Permalink
  • kenal_sepihak

    Cowok main handpan tanpa alasan jelas itu spesies universal. Aku ketemu versinya di pantai selatan, main di atas batu pas matahari terbenam, lalu minta donasi lewat QR. Bukan masalah handpan-nya, masalahnya kamu nggak pernah diminta jadi penonton dan tiba-tiba sudah jadi penonton.

    Permalink
  • berita_kiamat

    Yang menarik, makin sebuah tempat dipuji sebagai transformatif, makin sedikit orang mengecek apakah mereka memang berubah. "Emosiku ter-reset oleh bebatuannya" itu klaim yang tak bisa dibantah dan tak bisa dibuktikan, jadi aman dipakai siapa saja. Gurunnya tetap diam. Yang ramai cuma keterangan di bawah fotonya.

    Permalink

Related discussions

  • Kalau Yosemite hebat cuma karena ini California, bukankah di mana pun lainnya sama hebatnya?

    Yosemite Valley memukau. Sayangnya, tempat itu juga simulator kemacetan. Setengah dari kunjunganmu habis untuk merangkak maju di belakang SUV sewaan sambil berusaha tak menyerempet pesepeda yang berpakaian seolah sedang ikut Tour de France. Lalu akhirnya kamu turun dari mobil dan, ya, oke, El Capitan dan Half Dome memang luar biasa. Kamu melihatnya, tapi kamu TIDAK akan memanjatnya*

  • Zion memang keren — tapi apakah kamu tetap akan membencinya?

    Zion indah sampai bikin patah hati. Di foto maupun di kenyataan. Datang dari arah gurun, lalu tiba-tiba semuanya berubah: tebing menjulang, taman gantung, sungai, pohon cottonwood, sinar matahari memantul dari batu merah seolah seluruh ngarai punya cahaya dari dalam dirinya sendiri. Rasanya benar-benar seperti adegan dari kitab suci. Seperti tak sengaja nyasar ke tempat para nabi mendengar suara.

  • Rocky Mountain layak direkomendasikan, atau cuma pantas dikunjungi saat pandemi?

    Rocky Mountain National Park itu cantik dengan cara yang sama seperti demo televisi 4K terlihat cantik. Semuanya kelihatan palsu. Danau-danaunya terlalu memantul, gunung-gunungnya terlalu dramatis, rusa-rusa elk berkeliaran dengan timing yang begitu sempurna sampai terasa hasil komputer.

  • Mungkinkah Mammoth Cave menderita justru karena terlalu sukses menjadi sebuah gua?

    Ukurannya raksasa. Penting secara sejarah. Memikat secara geologi. Tapi entah bagaimana juga agak membosankan. Ciri-ciri yang sama yang membuatnya jadi sistem gua terpanjang di dunia juga membuat sebagian besar bagiannya terlihat seperti seseorang mengeruk gedung parkir pemerintah di bawah tanah. Ada sistem gua di Appalachia yang tampak seperti novel fantasi. Mammoth sering kali tampak seperti terowongan kereta bawah tanah yang belum selesai.

  • Apakah Smoky Mountains cuma bagus untuk main gokar?

    Great Smoky Mountains National Park itu menyenangkan. Hutan, gunung, air terjun, kabut yang melayang di sela-sela pepohonan, beruang hitam berkeliaran dengan tampang seperti pengangguran. Bagus. Tapi ya cuma bagus.Smokies mungkin taman nasional paling “pengaturan bawaan” di Amerika. Kalau kamu menyuruh seorang anak menggambar alam, dia akan tanpa sengaja menggambar ulang tempat ini: gunung, pohon, anak sungai, mungkin sebuah pondok kecil di suatu sudut.

  • Perché gli europei prenotano un volo per gli USA solo per venire a morire nella Death Valley?

    Death Valley terasa lebih mirip bahaya lingkungan yang dipasangi rambu ketimbang taman nasional. Namanya saja sudah begitu dan orang Eropa tetap memesan tiket pesawat ke AS demi datang lalu mati di sini.

  • Haruskah Petrified Forest diganti nama jadi "Gurun membosankan dengan batang kayu"?

    Yang ini sepenuhnya salahku sendiri karena ekspektasinya kelewat tinggi. Mungkin, kalau kamu menurunkan ekspektasimu, kamu akan suka. Aku dengar “hutan membatu” dan membayangkan hutan batu purba yang membeku di tempatnya seperti di film fantasi kelam. Aku memang sempat lihat fotonya sebelum berangkat tapi tampak seperti yang ini...

  • Saguaro cuma cocok buatmu kalau kamu satu-satunya orang yang suka kaktus?

    Saguaro National Park pada dasarnya adalah beberapa jam berkendara berputar-putar sambil menatap satu tanaman yang luar biasa keras kepala. Keras kepala untuk bertahan hidup di tempat yang tanaman lain saja menyerah dan manusia jelas tak seharusnya berpikir untuk tinggal. Tapi memang begitulah Arizona seluruhnya. Dan harus diakui, saguaro itu mengesankan. Ukurannya raksasa. Beberapa di antaranya berumur dua ratus tahun. Tapi lama-kelamaan otak mulai memasukkan semuanya ke folder mental yang sama