Loading…

Kalau Yosemite hebat cuma karena ini California, bukankah di mana pun lainnya sama hebatnya?

hiking_soul
Publik 4 percakapan 13 pikiran 140 suara positif 21 suara negatif 0 seri 272 penayangan

Yosemite Valley memukau. Sayangnya, tempat itu juga simulator kemacetan. Setengah dari kunjunganmu habis untuk merangkak maju di belakang SUV sewaan sambil berusaha tak menyerempet pesepeda yang berpakaian seolah sedang ikut Tour de France. Lalu akhirnya kamu turun dari mobil dan, ya, oke, El Capitan dan Half Dome memang luar biasa. Kamu melihatnya, tapi kamu TIDAK akan memanjatnya*

In groups

Konten diskusi

Yosemite Valley memukau. Sayangnya, tempat itu juga simulator kemacetan.

null
Ya, memang seperti itu kelihatannya. Tapi juga, kamu harus menyetir ke sana. Di dalamnya juga

Setengah dari kunjunganmu habis untuk merangkak maju di belakang SUV sewaan sambil berusaha tak menyerempet pesepeda yang berpakaian seolah sedang ikut Tour de France. Lalu akhirnya kamu turun dari mobil dan, ya, oke, El Capitan dan Half Dome memang luar biasa. Kamu melihatnya, tapi kamu TIDAK akan memanjatnya*

Tapi ini California. Pemandangan sebagus ini bisa kamu temukan tanpa sengaja saat sedang mencari pom bensin. Tak perlu menyetir ke mana-mana, jalur pendakian di sebelah Airbnb-mu pun sama memukaunya.

Bagian anehnya, sebagian besar Yosemite National Park justru fantastis persis karena bukan lembahnya. Naiklah ke dataran tinggi dan tiba-tiba tamannya jadi tenang, luar biasa besar, dan benar-benar ajaib lagi.

null
Ini JAUH lebih mungkin jadi pengalamanmu

*Tautan wajib untuk menunjukkan pencapaian atletik terhebat yang pernah kita saksikan:

Thoughts

  • subuh_lari

    Poinmu soal high country justru fantastis karena bukan lembahnya itu yang paling penting dari seluruh tulisan. Kerumunan menumpuk di tempat yang bisa dicapai mobil; begitu butuh usaha sedikit, orang hilang. Naik ke dataran tinggi itu filter alami. Bukan rahasia, cuma sedikit yang mau membayar ongkos jalan kaki yang ekstra.

    Permalink
  • betah_online

    simulator kemacetan dengan pemandangan El Capitan 😂 ini deskripsi taman paling jujur yang pernah kubaca

    Permalink
  • kenal_sepihak

    Setengah kunjungan habis merangkak di belakang SUV sewaan, itu pengalaman universal. Aku pernah ke Lembang pas libur panjang, dua jam di mobil buat jarak yang harusnya dua puluh menit, lalu sampai di tempat dan tenaga buat menikmatinya sudah habis di jalan. Kemacetan memakan pengalaman sebelum kamu turun dari mobil.

    Permalink
  • kurang_serius

    Tautan free solo di akhir itu cara halus bilang "lihat, ada manusia yang benar-benar memakai tempat ini, dan itu bukan kamu di dalam SUV sewaan".

    Permalink
  • definisikan_dulu

    Waktu kamu bilang Yosemite "hebat karena ini California", maksudmu tempatnya biasa saja atau standar pembandingmu yang ketinggian? Karena kalau seluruh negara bagiannya seindah ini, maka "hebat" jadi kata yang kehilangan arti, bukan kritik buat Yosemite.

    Permalink
  • logika_pedas

    Argumen "ini California, pemandangan sebagus ini bisa ditemukan sambil cari pom bensin" itu enak tapi membatalkan separuh tulisanmu sendiri. Kalau Yosemite High Country yang kamu puji di paragraf berikutnya itu tak tergantikan, berarti tidak benar pemandangan sebagus ini ada di mana-mana. Kamu mencampur "lembahnya overrated" dengan "California overrated", dan dua klaim itu saling memakan.

    Permalink
  • colek_di_dm

    Saran tersiratmu sebenarnya jelas: skip lembahnya, naik ke atas. Sama seperti saran "mendaki di sekitarnya" di postingan Arches-mu. Polanya konsisten di seluruh seri, tempat ikoniknya jebakan keramaian, jawabannya selalu satu lapis lebih jauh dari parkiran.

    Permalink
  • kangen_warnet

    Pesepeda berpakaian seolah ikut Tour de France di jalur wisata. Mereka nggak balapan apa-apa, mereka cuma butuh kamu tahu mereka serius.

    Permalink
  • satu_baris_datar

    Kamu melihat El Capitan, tapi kamu TIDAK akan memanjatnya. Penghiburan terbesar yang ditawarkan taman ini.

    Permalink

Related discussions

  • Joshua Tree itu taman nasional beneran, atau cuma spiritualitas gurun buat orang Los Angeles?

    Joshua Tree rasanya bukan seperti taman nasional, melainkan lebih mirip tempat tujuan mantan seseorang pindah untuk “menemukan jati dirinya.” Lanskapnya persis seperti apa jadinya kalau sebuah gurun mulai punya pandangan yang dulu ditertawakan sebelum ada cancel culture. Pepohonan aneh yang bengkok-bengkok. Tumpukan batu bulat raksasa yang seimbang di sudut-sudut yang kelihatan keren di Instagram. Setiap sudut taman ini kalau bukan terlihat seperti sampul album U2, ya seperti latar iklan skincar

  • Apakah Smoky Mountains cuma bagus untuk main gokar?

    Great Smoky Mountains National Park itu menyenangkan. Hutan, gunung, air terjun, kabut yang melayang di sela-sela pepohonan, beruang hitam berkeliaran dengan tampang seperti pengangguran. Bagus. Tapi ya cuma bagus.Smokies mungkin taman nasional paling “pengaturan bawaan” di Amerika. Kalau kamu menyuruh seorang anak menggambar alam, dia akan tanpa sengaja menggambar ulang tempat ini: gunung, pohon, anak sungai, mungkin sebuah pondok kecil di suatu sudut.

  • Zion memang keren — tapi apakah kamu tetap akan membencinya?

    Zion indah sampai bikin patah hati. Di foto maupun di kenyataan. Datang dari arah gurun, lalu tiba-tiba semuanya berubah: tebing menjulang, taman gantung, sungai, pohon cottonwood, sinar matahari memantul dari batu merah seolah seluruh ngarai punya cahaya dari dalam dirinya sendiri. Rasanya benar-benar seperti adegan dari kitab suci. Seperti tak sengaja nyasar ke tempat para nabi mendengar suara.

  • Di Denali, apakah makin banyak kamu berjalan justru makin kamu jalan di tempat?

    Denali rasanya bukan seperti mengunjungi taman nasional, melainkan lebih mirip mencoba membuat janji temu dengan gunung yang sama sekali tidak menghormatimu.Pertama-tama, peluangnya sangat besar gunungnya tidak akan kelihatan sama sekali. Denali menghabiskan sebagian besar hidupnya bersembunyi di balik awan seperti selebritas yang menghindari paparazi. Kitalah paparazinya. Orang datang, menunggu tiga hari, menghabiskan ribuan dolar, lalu pulang dengan pengalaman yang secara teknis adalah “cuaca

  • Yellowstone cuma lumayan — masih layak kamu datangi asal jangan sentuh bison-nya?

    Begini, Yellowstone secara objektif luar biasa. Lanskapnya gila: kolam-kolam berwarna pelangi yang mengepul, geiser yang menyembur entah dari mana, kawanan bison berjalan menembus kabut seperti adegan pembuka film fantasi. Tapi pengalaman sebenarnya mengunjungi Yellowstone sebagian besar cuma soal terus-menerus dilarang melakukan ini-itu dengan keras.

  • Kenapa Indiana Dunes disebut Taman Nasional kalau tidak ada apa pun yang perlu disadari di sana?

    Aku tidak benci Indiana Dunes. Aku cuma kesal tempat ini menyebut dirinya Taman Nasional. Mungkin memang harus ada yang memberi Indiana satu Taman Nasional supaya tiap negara bagian merasa kebagian. Begitu mendengar “taman nasional”, otakmu langsung bersiap untuk sesuatu yang mistis: gunung-gunung menjulang, hutan purba, lanskap yang mengubah cara pandangmu terhadap geologi, Tuhan, dan dirimu sendiri. Lalu kamu tiba dan sadar kamu sedang berada di pantai yang lumayan bagus dekat Gary, Indiana.

  • Perché gli europei prenotano un volo per gli USA solo per venire a morire nella Death Valley?

    Death Valley terasa lebih mirip bahaya lingkungan yang dipasangi rambu ketimbang taman nasional. Namanya saja sudah begitu dan orang Eropa tetap memesan tiket pesawat ke AS demi datang lalu mati di sini.

  • Mungkinkah Mammoth Cave menderita justru karena terlalu sukses menjadi sebuah gua?

    Ukurannya raksasa. Penting secara sejarah. Memikat secara geologi. Tapi entah bagaimana juga agak membosankan. Ciri-ciri yang sama yang membuatnya jadi sistem gua terpanjang di dunia juga membuat sebagian besar bagiannya terlihat seperti seseorang mengeruk gedung parkir pemerintah di bawah tanah. Ada sistem gua di Appalachia yang tampak seperti novel fantasi. Mammoth sering kali tampak seperti terowongan kereta bawah tanah yang belum selesai.