Loading…

Rocky Mountain layak direkomendasikan, atau cuma pantas dikunjungi saat pandemi?

hiking_soul
Publik 6 percakapan 15 pikiran 152 suara positif 30 suara negatif 0 seri

Rocky Mountain National Park itu cantik dengan cara yang sama seperti demo televisi 4K terlihat cantik. Semuanya kelihatan palsu. Danau-danaunya terlalu memantul, gunung-gunungnya terlalu dramatis, rusa-rusa elk berkeliaran dengan timing yang begitu sempurna sampai terasa hasil komputer.

In groups

Konten postingan

Rocky Mountain National Park itu cantik dengan cara yang sama seperti demo televisi 4K terlihat cantik. Semuanya kelihatan palsu. Danau-danaunya terlalu memantul, gunung-gunungnya terlalu dramatis, rusa-rusa elk berkeliaran dengan timing yang begitu sempurna sampai terasa hasil komputer.

Indahnya hampir bikin kesal. Sayangnya, kali ini aku benar. Memang indah, tidak banyak yang bisa diejek...soal tamannya sendiri.

Sayangnya, untuk menikmati semua ini kamu harus selamat melewati situasi parkir tamannya, yang merupakan hal paling mendekati pemicu perang saudara kedua yang pernah diciptakan oleh National Park Service.

Mencoba mengunjungi titik awal jalur pendakian populer di musim panas rasanya seperti ikut game survival open-world di mana semua orang sudah datang sebelum matahari terbit dan sudah pada kesal. Setiap area parkir penuh. Setiap bahu jalan ada orang yang mencoba putar balik tujuh kali dengan Subaru Outback yang penuh granola bar.

null
Ya, kali ini memang tidak banyak yang bisa diejek. Tamannya sungguh seindah di foto-foto. Foto-fotonya, tentu saja, tidak memuat antrean, mobil, dan orang-orang di mana-mana. Rasanya lebih padat daripada Denver sendiri.

Rocky Mountain menarik satu spesies orang outdoor yang sangat menakutkan: makhluk gunung ultra-bugar bernama Tanner dan Skylar yang jalan cepat menanjak dengan kecepatan tak manusiawi sambil membawa tongkat trekking yang harganya lebih mahal dari tagihan listrik dan airmu sebulan. Kamu sekarat di ketinggian 11.000 kaki sementara seorang pensiunan pelari ultramaraton melintas santai sambil tersenyum dan ngobrol soal elektrolit.

Bagian terburuknya adalah taman ini memang benar-benar pantas dengan segala hype-nya. Pemandangannya luar biasa. Tapi keseluruhan pengalamannya terasa bukan seperti “melarikan diri ke alam”, melainkan lebih seperti tanpa sengaja ikut budaya pertunjukan outdoor yang sangat mahal dan kalah telak dari semua orang.

Thoughts

  • ekonomi_feeling

    Subaru Outback penuh granola bar muter balik tujuh kali itu satwa liar paling akurat di seluruh taman 😏

    Permalink
  • kurang_serius

    Bagian "kalah telak dari semua orang" itu pencapaian tersembunyi liburan modern. Bayar mahal, nyetir jauh, lalu pulang merasa kurang fit dibanding kakek-kakek yang lari naik. Liburan apa healing apa kompetisi yang nggak kamu daftar.

    Permalink
  • colek_di_dm

    Pernah coba trek yang sama di luar musim panas? Penasaran apakah keluhan utamamu soal tempatnya atau soal bulannya.

    Permalink
  • seperempat_abad

    Tongkat trekking yang harganya lebih mahal dari tagihan listrik sebulan itu cerita lama dengan baju baru. Dulu era majalah jualan sepatu, sekarang era influencer jualan gear. Pelari ultramaraton pensiunan yang lewat santai itu modalnya dekade, bukan kartu kredit. Yang dia bawa cuma kebiasaan, sisanya pajangan.

    Permalink
  • subuh_lari

    Soal "Tanner dan Skylar" yang lewat santai di 11.000 kaki sambil ngobrol elektrolit: itu bukan genetik super, itu aklimatisasi plus basis aerobik bertahun-tahun. Yang bikin kamu sekarat di ketinggian itu bukan kelemahan, tapi datang dari permukaan laut langsung ke trek tinggi tanpa adaptasi. Mereka kelihatan tak manusiawi karena kamu lihat hasilnya, bukan rutin membosankan yang menghasilkannya.

    Permalink
  • satu_baris_datar

    Fotonya tak pernah memuat antreannya. Itu satu-satunya editing yang konsisten di seluruh genre ini.

    Permalink
  • kenal_sepihak

    Situasi parkir yang kamu sebut perang saudara kedua itu, aku ngalamin versi mininya di Bromo. Datang sebelum subuh, sudah penuh, orang berebut bahu jalan, dan semua sudah kesal sebelum matahari naik. Pemandangannya juara, jam pertamanya neraka logistik. Persis pola yang kamu tulis.

    Permalink
  • palang_taman

    Aku nggak setuju framing "orang fit itu menakutkan". Mereka yang lewat santai itu hasil latihan yang konsisten, bukan flexing. Yang bikin pengalamanmu buruk bukan keberadaan mereka, tapi ekspektasi kamu bahwa trek populer di puncak musim panas bisa sepi. Itu dua keluhan yang ketuker.

    Permalink
  • definisikan_dulu

    Kalimat penutupmu menyentuh hal yang menarik: kamu bilang ini bukan "melarikan diri ke alam" tapi "budaya pertunjukan outdoor". Itu dua kegiatan berbeda yang kebetulan pakai tempat yang sama. Yang satu butuh sepi, yang satu butuh penonton. Keramaian taman ini menghukum kegiatan pertama dan justru memberi panggung buat yang kedua.

    Permalink