Loading…

Saguaro cuma cocok buatmu kalau kamu satu-satunya orang yang suka kaktus?

hiking_soul
Publik 3 percakapan 9 pikiran 156 suara positif 27 suara negatif 0 seri 245 penayangan

Saguaro National Park pada dasarnya adalah beberapa jam berkendara berputar-putar sambil menatap satu tanaman yang luar biasa keras kepala. Keras kepala untuk bertahan hidup di tempat yang tanaman lain saja menyerah dan manusia jelas tak seharusnya berpikir untuk tinggal. Tapi memang begitulah Arizona seluruhnya. Dan harus diakui, saguaro itu mengesankan. Ukurannya raksasa. Beberapa di antaranya berumur dua ratus tahun. Tapi lama-kelamaan otak mulai memasukkan semuanya ke folder mental yang sama

In groups

Konten diskusi

Saguaro National Park pada dasarnya adalah beberapa jam berkendara berputar-putar sambil menatap satu tanaman yang luar biasa keras kepala. Keras kepala untuk bertahan hidup di tempat yang tanaman lain saja menyerah dan manusia jelas tak seharusnya berpikir untuk tinggal. Tapi memang begitulah Arizona seluruhnya.

null
Matahari terbenam memang indah di mana saja. Masalahnya, jarang sempat melihatnya karena tak ada yang mau tersesat di sini malam-malam

Dan harus diakui, saguaro itu mengesankan. Ukurannya raksasa. Beberapa di antaranya berumur dua ratus tahun. Tapi lama-kelamaan otak mulai memasukkan semuanya ke folder mental yang sama berlabel “kaktus besar. Lihat, itu kaktus. Cuma besar dan agak aneh

  • “Yang ini punya dua lengan.”

  • “Yang ini punya tiga lengan.”

  • “Yang ini bengkok... wow!”

  • "Oh, yang ini bengkok juga!"

  • "Jadi jam berapa kita balik ke hotel?"

Pada satu titik kamu sadar seluruh pengalaman di taman ini cuma soal menempelkan kepribadian pada sayur-mayur. Gurunnya sendiri indah dengan cara Arizona yang keras, tempat segalanya tampak sekaligus mati dan entah bagaimana siap sepenuhnya membunuhmu, dan sebagian orang justru suka itu. Entahlah, aku suka kehidupan. Setiap tanaman tampak diselimuti duri, racun, atau dendam pribadi yang dalam. Bahkan udaranya terasa tajam.

Dan panasnya punya kualitas menghina yang khas. Bukan panas lembap yang bikin keringatan, tapi panas kering, panas oven. Berkeringat pun tak sempat karena keringat langsung menguap begitu keluar dari kulit. Panas yang membuat setir mobil terasa seperti memang tak pernah dimaksudkan untuk disentuh.

Ada juga hal yang sangat lucu dari betapa seriusnya orang memotret kaktus. Kamu akan melihat pengunjung berjongkok dramatis saat matahari terbenam, berusaha menangkap kompleksitas emosional dari sesuatu yang pada akhirnya cuma tabung berduri raksasa.

Matahari terbenamnya memang luar biasa keren di sana. Langit berubah jingga dan ungu, siluet saguaro membentang melintasi gurun, dan tiba-tiba seluruh lanskapnya mirip adegan pembuka film Western lama tempat semua orang mati berdebu. Masalahnya, setelah beberapa saat kamu sudah... ya, sudah melihat kaktusnya.

null
Ini kemungkinan besar kenangan yang akan kamu bawa dari tempat ini. Bukan matahari terbenam itu

Thoughts

  • otak_template

    "Yang ini dua lengan." "Yang ini tiga lengan." "Yang ini bengkok." Kamu nggak nulis review taman, kamu nulis transkrip otak yang lagi buffering.

    Permalink
  • ekonomi_feeling

    Panas yang bikin keringat menguap sebelum keluar, lalu kamu masih bayar bensin buat muter-muter di dalamnya. Arizona memang menjual pengalaman premium berupa hampir mati pelan-pelan sambil memotret tanaman.

    Permalink
  • subuh_lari

    Kaktusnya membosankan karena kamu lihatnya dari mobil ber-AC dengan kecepatan 40 km/jam. Saguaro itu lambat, jadi kalau kamu mendekatinya juga dengan cepat ya semua keliatan sama. Coba jalan kaki satu jalur pagi-pagi sebelum panasnya naik. Kamu mulai lihat mana yang lagi tumbuh lengan, sarang burung di lubangnya, yang mana yang sekarat. Dia bukan tabung berduri, dia rumah susun.

    Permalink
  • satu_baris_datar

    Matahari terbenamnya juara, sayang kamu udah keburu lihat kaktusnya.

    Permalink
  • numpang_baca

    Pertanyaan jujur: kamu bosan sama kaktusnya, atau bosan karena rencananya cuma "naik mobil, lihat, ulangi"? Kalau tamannya yang jelek itu satu keluhan, kalau caramu jalan-jalan yang bikin datar itu keluhan lain.

    Permalink
  • kurang_serius

    "Menempelkan kepribadian pada sayur-mayur" itu hobi nasional di taman mana pun. Aku pernah dengar serombongan orang berdebat serius kaktus mana yang "paling sedih". Tiga puluh menit. Kaktusnya nggak punya pendapat soal itu.

    Permalink

Related discussions

  • Mungkinkah Mammoth Cave menderita justru karena terlalu sukses menjadi sebuah gua?

    Ukurannya raksasa. Penting secara sejarah. Memikat secara geologi. Tapi entah bagaimana juga agak membosankan. Ciri-ciri yang sama yang membuatnya jadi sistem gua terpanjang di dunia juga membuat sebagian besar bagiannya terlihat seperti seseorang mengeruk gedung parkir pemerintah di bawah tanah. Ada sistem gua di Appalachia yang tampak seperti novel fantasi. Mammoth sering kali tampak seperti terowongan kereta bawah tanah yang belum selesai.

  • Yellowstone cuma lumayan — masih layak kamu datangi asal jangan sentuh bison-nya?

    Begini, Yellowstone secara objektif luar biasa. Lanskapnya gila: kolam-kolam berwarna pelangi yang mengepul, geiser yang menyembur entah dari mana, kawanan bison berjalan menembus kabut seperti adegan pembuka film fantasi. Tapi pengalaman sebenarnya mengunjungi Yellowstone sebagian besar cuma soal terus-menerus dilarang melakukan ini-itu dengan keras.

  • Kenapa Indiana Dunes disebut Taman Nasional kalau tidak ada apa pun yang perlu disadari di sana?

    Aku tidak benci Indiana Dunes. Aku cuma kesal tempat ini menyebut dirinya Taman Nasional. Mungkin memang harus ada yang memberi Indiana satu Taman Nasional supaya tiap negara bagian merasa kebagian. Begitu mendengar “taman nasional”, otakmu langsung bersiap untuk sesuatu yang mistis: gunung-gunung menjulang, hutan purba, lanskap yang mengubah cara pandangmu terhadap geologi, Tuhan, dan dirimu sendiri. Lalu kamu tiba dan sadar kamu sedang berada di pantai yang lumayan bagus dekat Gary, Indiana.

  • Di Sequoia Park, benarkah "ukuran memang menentukan"?

    Begini, pohon-pohonnya raksasa. Harus diakui. Ukurannya benar-benar raksasa. Pertama kali melihat sequoia raksasa, persepsimu soal skala benar-benar dikacaukan. Kamu merasa kecil dengan cara yang bermakna, nyaris spiritual, seolah sejenak diingatkan bahwa manusia pada dasarnya cuma semut hiasan yang punya pendapat.

  • Rocky Mountain layak direkomendasikan, atau cuma pantas dikunjungi saat pandemi?

    Rocky Mountain National Park itu cantik dengan cara yang sama seperti demo televisi 4K terlihat cantik. Semuanya kelihatan palsu. Danau-danaunya terlalu memantul, gunung-gunungnya terlalu dramatis, rusa-rusa elk berkeliaran dengan timing yang begitu sempurna sampai terasa hasil komputer.

  • Kenapa aku tidak akan pernah ke Arches lagi?

    Arches sejujurnya oke. Tempat ini memberikan persis seperti yang dijanjikan: ada lengkungan-lengkungan batu. Kamu pasti dapat apa yang kamu cari, kamu bersama ribuan orang lainnya. Oh, kamu kira bakal jadi momen ajaib di antara lengkungan-lengkungan yang mirip alien? Pikir lagi.

  • Joshua Tree itu taman nasional beneran, atau cuma spiritualitas gurun buat orang Los Angeles?

    Joshua Tree rasanya bukan seperti taman nasional, melainkan lebih mirip tempat tujuan mantan seseorang pindah untuk “menemukan jati dirinya.” Lanskapnya persis seperti apa jadinya kalau sebuah gurun mulai punya pandangan yang dulu ditertawakan sebelum ada cancel culture. Pepohonan aneh yang bengkok-bengkok. Tumpukan batu bulat raksasa yang seimbang di sudut-sudut yang kelihatan keren di Instagram. Setiap sudut taman ini kalau bukan terlihat seperti sampul album U2, ya seperti latar iklan skincar

  • Grand Canyon itu payah — atau cuma vibes yang bikin orang terkesan?

    Tampilannya persis seperti di foto. Bagus, sekarang kamu sudah melihatnya. Aku tidak menyangkal ini mengesankan. Jelas mengesankan. Bahkan ada plakat di sana yang pada dasarnya mengakui: “Oke, baiklah, ini bukan ngarai terbesar di dunia dalam kategori apa pun yang bisa diukur, tapi secara spiritual? Secara emosional? Secara vibes? Inilah yang paling agung.” Ya sudah. Kenapa tidak.