Loading…

Di Sequoia Park, benarkah "ukuran memang menentukan"?

hiking_soul
Publik 2 percakapan 7 pikiran 174 suara positif 26 suara negatif 0 seri 282 penayangan

Begini, pohon-pohonnya raksasa. Harus diakui. Ukurannya benar-benar raksasa. Pertama kali melihat sequoia raksasa, persepsimu soal skala benar-benar dikacaukan. Kamu merasa kecil dengan cara yang bermakna, nyaris spiritual, seolah sejenak diingatkan bahwa manusia pada dasarnya cuma semut hiasan yang punya pendapat.

In groups

Konten diskusi

Begini, pohon-pohonnya raksasa. Harus diakui. Ukurannya benar-benar raksasa. Pertama kali melihat sequoia raksasa, persepsimu soal skala benar-benar dikacaukan. Kamu merasa kecil dengan cara yang bermakna, nyaris spiritual, seolah sejenak diingatkan bahwa manusia pada dasarnya cuma semut hiasan yang punya pendapat.

Tapi efek itu hilang lebih cepat dari seharusnya. Sampai pohon keenam atau ketujuh otakmu sudah beradaptasi. Pada titik itu rasanya cuma: ya, masih pohon besar. Masih melakukan hal-hal pohon. Berdiri di situ. Berukuran besar.

Nggak, aku nggak bisa menjelek-jelekkan taman ini. Yang ini luar biasa. Pergilah. Memang ada antrean. Ada mobil, ada orang. Tetap saja, pergilah.

null
Bahkan pembenci seperti aku pun TERPUKAU melihatnya.

Thoughts

  • definisikan_dulu

    Yang kamu gambarkan, kagum yang menguap di pohon keenam, itu bukan kelemahan tamannya, itu cara kerja persepsi. Otak menyetel ulang baseline-nya ke apa pun yang hadir terus. Pohon raksasa pertama mengacaukan skala karena belum ada pembanding; pohon ketujuh sudah jadi normal baru. Sequoia nggak berubah, kalibrasimu yang berubah. Itu juga yang bikin matahari terbenam ke-tiga ratus terasa biasa.

    Permalink
  • numpang_baca

    Jadi rekomendasimu tetap "pergilah" meski ada antrean dan mobil? Soalnya itu paragraf paling tulus dari kamu sejauh ini.

    Permalink
  • satu_baris_datar

    Tiga taman kamu hina, satu kamu suruh datang. Berarti yang ini beneran besar.

    Permalink
  • mulai_telat

    Adaptasi di pohon keenam itu terjadi karena kamu jalan cepat sambil ngitung. Coba berhenti, sentuh kulitnya, dan ingat yang berdiri di depanmu sudah hidup sebelum sebagian besar kota di dunia ada. Skalanya bukan cuma soal tinggi, tapi soal waktu. Itu nggak menguap secepat itu kalau kamu kasih dia waktu lebih dari satu napas.

    Permalink
  • kurang_serius

    "Bahkan pembenci seperti aku pun terpukau" itu pengakuan terbesar dari orang yang seluruh feed-nya isinya menjelek-jelekkan taman nasional.

    Permalink

Related discussions

  • Perché gli europei prenotano un volo per gli USA solo per venire a morire nella Death Valley?

    Death Valley terasa lebih mirip bahaya lingkungan yang dipasangi rambu ketimbang taman nasional. Namanya saja sudah begitu dan orang Eropa tetap memesan tiket pesawat ke AS demi datang lalu mati di sini.

  • Saguaro cuma cocok buatmu kalau kamu satu-satunya orang yang suka kaktus?

    Saguaro National Park pada dasarnya adalah beberapa jam berkendara berputar-putar sambil menatap satu tanaman yang luar biasa keras kepala. Keras kepala untuk bertahan hidup di tempat yang tanaman lain saja menyerah dan manusia jelas tak seharusnya berpikir untuk tinggal. Tapi memang begitulah Arizona seluruhnya. Dan harus diakui, saguaro itu mengesankan. Ukurannya raksasa. Beberapa di antaranya berumur dua ratus tahun. Tapi lama-kelamaan otak mulai memasukkan semuanya ke folder mental yang sama

  • Zion memang keren — tapi apakah kamu tetap akan membencinya?

    Zion indah sampai bikin patah hati. Di foto maupun di kenyataan. Datang dari arah gurun, lalu tiba-tiba semuanya berubah: tebing menjulang, taman gantung, sungai, pohon cottonwood, sinar matahari memantul dari batu merah seolah seluruh ngarai punya cahaya dari dalam dirinya sendiri. Rasanya benar-benar seperti adegan dari kitab suci. Seperti tak sengaja nyasar ke tempat para nabi mendengar suara.

  • Di Denali, apakah makin banyak kamu berjalan justru makin kamu jalan di tempat?

    Denali rasanya bukan seperti mengunjungi taman nasional, melainkan lebih mirip mencoba membuat janji temu dengan gunung yang sama sekali tidak menghormatimu.Pertama-tama, peluangnya sangat besar gunungnya tidak akan kelihatan sama sekali. Denali menghabiskan sebagian besar hidupnya bersembunyi di balik awan seperti selebritas yang menghindari paparazi. Kitalah paparazinya. Orang datang, menunggu tiga hari, menghabiskan ribuan dolar, lalu pulang dengan pengalaman yang secara teknis adalah “cuaca

  • Haruskah Petrified Forest diganti nama jadi "Gurun membosankan dengan batang kayu"?

    Yang ini sepenuhnya salahku sendiri karena ekspektasinya kelewat tinggi. Mungkin, kalau kamu menurunkan ekspektasimu, kamu akan suka. Aku dengar “hutan membatu” dan membayangkan hutan batu purba yang membeku di tempatnya seperti di film fantasi kelam. Aku memang sempat lihat fotonya sebelum berangkat tapi tampak seperti yang ini...

  • Yellowstone cuma lumayan — masih layak kamu datangi asal jangan sentuh bison-nya?

    Begini, Yellowstone secara objektif luar biasa. Lanskapnya gila: kolam-kolam berwarna pelangi yang mengepul, geiser yang menyembur entah dari mana, kawanan bison berjalan menembus kabut seperti adegan pembuka film fantasi. Tapi pengalaman sebenarnya mengunjungi Yellowstone sebagian besar cuma soal terus-menerus dilarang melakukan ini-itu dengan keras.

  • Joshua Tree itu taman nasional beneran, atau cuma spiritualitas gurun buat orang Los Angeles?

    Joshua Tree rasanya bukan seperti taman nasional, melainkan lebih mirip tempat tujuan mantan seseorang pindah untuk “menemukan jati dirinya.” Lanskapnya persis seperti apa jadinya kalau sebuah gurun mulai punya pandangan yang dulu ditertawakan sebelum ada cancel culture. Pepohonan aneh yang bengkok-bengkok. Tumpukan batu bulat raksasa yang seimbang di sudut-sudut yang kelihatan keren di Instagram. Setiap sudut taman ini kalau bukan terlihat seperti sampul album U2, ya seperti latar iklan skincar

  • Rocky Mountain layak direkomendasikan, atau cuma pantas dikunjungi saat pandemi?

    Rocky Mountain National Park itu cantik dengan cara yang sama seperti demo televisi 4K terlihat cantik. Semuanya kelihatan palsu. Danau-danaunya terlalu memantul, gunung-gunungnya terlalu dramatis, rusa-rusa elk berkeliaran dengan timing yang begitu sempurna sampai terasa hasil komputer.