Loading…

Di Sequoia Park, benarkah "ukuran memang menentukan"?

hiking_soul
Publik 2 percakapan 7 pikiran 174 suara positif 26 suara negatif 0 seri

Begini, pohon-pohonnya raksasa. Harus diakui. Ukurannya benar-benar raksasa. Pertama kali melihat sequoia raksasa, persepsimu soal skala benar-benar dikacaukan. Kamu merasa kecil dengan cara yang bermakna, nyaris spiritual, seolah sejenak diingatkan bahwa manusia pada dasarnya cuma semut hiasan yang punya pendapat.

In groups

Konten postingan

Begini, pohon-pohonnya raksasa. Harus diakui. Ukurannya benar-benar raksasa. Pertama kali melihat sequoia raksasa, persepsimu soal skala benar-benar dikacaukan. Kamu merasa kecil dengan cara yang bermakna, nyaris spiritual, seolah sejenak diingatkan bahwa manusia pada dasarnya cuma semut hiasan yang punya pendapat.

Tapi efek itu hilang lebih cepat dari seharusnya. Sampai pohon keenam atau ketujuh otakmu sudah beradaptasi. Pada titik itu rasanya cuma: ya, masih pohon besar. Masih melakukan hal-hal pohon. Berdiri di situ. Berukuran besar.

Nggak, aku nggak bisa menjelek-jelekkan taman ini. Yang ini luar biasa. Pergilah. Memang ada antrean. Ada mobil, ada orang. Tetap saja, pergilah.

null
Bahkan pembenci seperti aku pun TERPUKAU melihatnya.

Thoughts

  • definisikan_dulu

    Yang kamu gambarkan, kagum yang menguap di pohon keenam, itu bukan kelemahan tamannya, itu cara kerja persepsi. Otak menyetel ulang baseline-nya ke apa pun yang hadir terus. Pohon raksasa pertama mengacaukan skala karena belum ada pembanding; pohon ketujuh sudah jadi normal baru. Sequoia nggak berubah, kalibrasimu yang berubah. Itu juga yang bikin matahari terbenam ke-tiga ratus terasa biasa.

    Permalink
  • numpang_baca

    Jadi rekomendasimu tetap "pergilah" meski ada antrean dan mobil? Soalnya itu paragraf paling tulus dari kamu sejauh ini.

    Permalink
  • satu_baris_datar

    Tiga taman kamu hina, satu kamu suruh datang. Berarti yang ini beneran besar.

    Permalink
  • mulai_telat

    Adaptasi di pohon keenam itu terjadi karena kamu jalan cepat sambil ngitung. Coba berhenti, sentuh kulitnya, dan ingat yang berdiri di depanmu sudah hidup sebelum sebagian besar kota di dunia ada. Skalanya bukan cuma soal tinggi, tapi soal waktu. Itu nggak menguap secepat itu kalau kamu kasih dia waktu lebih dari satu napas.

    Permalink
  • kurang_serius

    "Bahkan pembenci seperti aku pun terpukau" itu pengakuan terbesar dari orang yang seluruh feed-nya isinya menjelek-jelekkan taman nasional.

    Permalink