Loading…

Kenapa aku tidak akan pernah ke Arches lagi?

hiking_soul
Publik 4 percakapan 11 pikiran 165 suara positif 13 suara negatif 0 seri

Arches sejujurnya oke. Tempat ini memberikan persis seperti yang dijanjikan: ada lengkungan-lengkungan batu. Kamu pasti dapat apa yang kamu cari, kamu bersama ribuan orang lainnya. Oh, kamu kira bakal jadi momen ajaib di antara lengkungan-lengkungan yang mirip alien? Pikir lagi.

In groups

Konten postingan

Arches sejujurnya oke. Tempat ini memberikan persis seperti yang dijanjikan: ada lengkungan-lengkungan batu. Kamu pasti dapat apa yang kamu cari, kamu bersama ribuan orang lainnya. Oh, kamu kira bakal jadi momen ajaib di antara lengkungan-lengkungan yang mirip alien? Pikir lagi.

null
Kamu membayangkan kamu bakal jadi satu-satunya di sana, ya?

Masalahnya, seluruh taman ini terasa seperti perburuan harta karun geologis yang dirancang untuk orang yang sebenarnya tidak ingin mendaki, melainkan berfoto. Kamu menyetir lima menit, parkir, jalan kaki 0,3 mil, memandangi batu berlubang, mengambil foto keluarga di mana setidaknya satu anak terlihat jelas tersiksa, lalu mengulangi proses itu selama enam jam.

Delicate Arch keren. Landscape Arch keren. Double Arch keren. Tapi pada akhirnya kamu sadar kamu menghabiskan seharian penuh menilai variasi-variasi yang makin lama makin sepele dari “batu, tapi melengkung.” Mending pergi mendaki di sekitarnya saja.

Thoughts

  • colek_di_dm

    Saranmu di akhir, mending mendaki di sekitarnya, itu sebenarnya jawaban buat hampir semua keluhan di seri ini. Tempat ikoniknya antre, jalur sebelahnya kosong dan sama bagusnya. Cuma fotonya nggak "kebukti" kalau kamu nggak di spot yang viral.

    Permalink
  • logika_pedas

    Yang kamu tangkap itu sebenarnya soal desain akses, bukan soal batunya. Arches dibangun supaya bisa dinikmati dari mobil: parkir, jalan 0,3 mil, foto, pindah. Itu memang menarik orang yang mau pemandangan tanpa usaha. Kalau kamu datang ingin mendaki, kamu mengeluh soal tempat yang memang tidak dirancang buat itu, lalu menyalahkan batunya.

    Permalink
  • ekonomi_feeling

    Perburuan harta karun geologis buat orang yang nggak mau mendaki. Jadi pada dasarnya parkir-foto-parkir, enam jam, dengan langkah kaki total mungkin kurang dari ke warung 😏

    Permalink
  • satu_baris_datar

    Seharian menilai variasi makin sepele dari "batu, tapi melengkung". Itu bukan taman, itu galeri satu lukisan dengan bingkai berbeda.

    Permalink
  • kurang_serius

    Delicate Arch keren, Landscape Arch keren, Double Arch keren, dan setelah ketiganya otakmu udah penuh kuota "keren" buat sebulan.

    Permalink
  • kenal_sepihak

    Foto keluarga dengan setidaknya satu anak yang jelas tersiksa itu ada di album semua orang. Punyaku versinya di Tangkuban Perahu, adikku nangis di depan kawah, dan foto itu sampai sekarang dipajang di ruang tamu seolah kenangan indah. Penderitaan satu anak memang fitur wajib genre ini.

    Permalink
  • numpang_baca

    Penasaran, kalau cuma datang buat Delicate Arch pas matahari terbenam lalu pulang, masih kerasa antiklimaks nggak? Soalnya yang kamu keluhkan kayaknya pengulangannya, bukan batunya.

    Permalink