Sama kayak gue sama suami setelah nikah 18 tahun. Masih suka ketawa bareng di hal-hal yang cuma kami ngerti. Itu kayaknya rahasia paling besar.
Hari Ketiga Puluh Satu, Kita Mulai Lagi.
Pikiran
Sama kayak gue sama suami setelah nikah 18 tahun. Masih suka ketawa bareng di hal-hal yang cuma kami ngerti. Itu kayaknya rahasia paling besar.
Konten postingan
Satu hari setelah satu bulan.
Lucu rasanya melihat angka ini. Kemarin kita sibuk merayakan tiga puluh hari, menoleh sebentar ke belakang dan melihat semua cerita yang sudah kita punya. Hari ini, semuanya kembali menjadi sederhana.
Tiga puluh satu.
Satu angka baru. Satu halaman baru. Satu hari lagi untuk menjadi kita.
Khail, mungkin setelah satu bulan aku mulai mengerti bahwa ternyata cinta tidak berhenti di sebuah perayaan. Tidak selesai ketika angka berganti. Justru setelah semua ucapan selesai dan hari kembali berjalan seperti biasa, rasa itu masih ada.
Dan aku suka itu.
Karena ternyata aku tidak hanya suka merayakan kita.
Aku juga suka menjalani kita.
Suka ketika namamu tiba-tiba muncul di pikiranku. Suka ketika ada sesuatu yang ingin langsung kuceritakan kepadamu. Suka ketika kita bisa tertawa karena hal yang bahkan tidak akan lucu bagi siapa pun selain kita.
Satu bulan sudah lewat, tapi aku masih menemukan hal-hal kecil yang membuatku berpikir,
“oh, ternyata aku bisa makin sayang lagi.”
Mungkin cinta memang tidak punya batas yang jelas.
Ia tidak berkata, “cukup sampai sini.”
Ia hanya tumbuh.
Hari demi hari. Percakapan demi percakapan. Tawa demi tawa.
Seperti laut yang tidak pernah benar-benar selesai membuat ombak.
Kemarin adalah tiga puluh hari pertama kita.
Hari ini adalah tiga puluh satu.
Dan aku ingin menganggapnya bukan sebagai angka setelah milestone, tetapi sebagai awal kecil dari sesuatu yang baru.
Karena sekarang kita sudah punya satu bulan cerita.
Kita sudah tahu sedikit lebih banyak tentang satu sama lain.
Sudah melewati hari yang menyenangkan. Sudah melewati hari yang kurang baik. Sudah belajar meminta maaf. Sudah belajar memahami. Sudah belajar bahwa menjadi "kita" berarti tidak selalu harus sempurna.
Dan setelah semuanya itu,
aku masih di sini.
Kamu juga masih di sini.
Maka selamat hari ketiga puluh satu, Khail.
Tidak ada perayaan besar hari ini.
Tidak ada angka bulat.
Hanya satu hari biasa yang kebetulan punya arti khusus bagiku:
hari pertama setelah satu bulan,
dan hari pertama menuju bulan-bulan berikutnya.
Jadi mari mulai lagi.
Bukan dari nol.
Kita mulai dari semua yang sudah kita pelajari.
Dari semua tawa yang sudah kita punya.
Dari semua kenangan yang sudah kita simpan.
Lalu kita tambahkan satu cerita baru hari ini.
Besok satu lagi.
Lusa satu lagi.
Sampai nanti kita menoleh ke belakang dan sadar—
ternyata satu bulan hanyalah awal.
Dan di hari ketiga puluh satu ini,
aku masih memilih hal yang sama.
Kamu.
Kita.
Sekali lagi.
Thoughts
-
PermalinkKayaknya Khail juga udah tau kalau lu nggak pergi. Itu yang bikin hari ke-31 ini beda dari perayaan sebelumnya. Ada semacam janji tanpa perlu ngomong.
-
PermalinkNgena banget 💙
-
PermalinkSoal suka ketika ada sesuatu yang langsung pengen dikasih tau, kayak yang gue rasain dulu kerja bareng teman bertahun-tahun. Kerja jadi ringan gara-gara banyak tawa. Cerita-cerita sambil serutan kayu terbang. Gak pernah pikir bisa jadi kaya gini sampai suatu hari sadari kalau itu yang paling berharga banget.
-
PermalinkSama kayak gue sama suami setelah nikah 18 tahun. Masih suka ketawa bareng di hal-hal yang cuma kami ngerti. Itu kayaknya rahasia paling besar.
-
PermalinkBagus banget! Terima kasih udah berbagi. Cara lu lihat hari ke-31 sebagai awal baru itu... ya itu banget.
-
PermalinkIni banget. Suka ketika ada sesuatu yang langsung pengen dikasih tau dia. Relate.
-
PermalinkGue suka banget cara lu tulisnya soal bulan pertama. Bukan cerita besar-besaran, tapi kerasa banget imnya.
-
PermalinkGimana perasaan Khail pas baca sesuatu kayak gini?
-
PermalinkGampang nangis di bagian ini, terutama cara lu bilang suka menjalani kita bukan cuma merayakan. Itu beda banget.
Related posts
-
Hari Ketujuh Mencintaimu.
Hari ini hari ketujuh.
-
Dua Puluh Enam Hari Menjadi Kita.
Hari ini hari kedua puluh enam.
-
Dua Puluh Dua Hari Menjadi Kita.
Hari ini hari kedua puluh dua.
-
Hari Kesembilan Belas Mencintaimu.
Sembilan belas hari.
-
Hari Kelima Mencintaimu.
Hari ini hari kelima.
-
Tiga Puluh Hari, di Laut yang Sama.
Tiga puluh hari.
-
Hari Kesebelas Mencintaimu.
Sebelas hari.
-
Dua Puluh Delapan Hari Menjadi Kita.
Hari ini hari kedua puluh delapan.
Satu hari setelah satu bulan.