Hari ini hari ketujuh.
Seminggu lalu, kita masih berdiri di garis awal. Sedikit canggung, sedikit malu, banyak senyum yang diam-diam disembunyikan. Sekarang, tujuh hari kemudian, aku masih menemukan alasan yang sama untuk tersenyum setiap kali namamu muncul. Ternyata, beberapa kebiasaan paling indah memang lahir dari hal-hal yang sederhana.
Khail, kalau seminggu ini adalah sebuah pantai, maka setiap harinya adalah ombak yang berbeda. Ada yang datang membawa tawa, ada yang membawa rindu kecil, ada yang hanya singgah sebentar lewat satu pesan sederhana. Namun semuanya meninggalkan jejak yang membuat hatiku semakin yakin bahwa aku menyukai perjalanan ini.
Aku suka bagaimana kita tidak berusaha menjadi kisah yang sempurna. Kita cuma dua remaja yang sedang belajar saling mengerti. Kadang saling menggoda, kadang sama-sama malu, kadang tertawa sampai lupa kenapa awalnya tertawa. Dan entah kenapa, justru di situlah rasanya paling hangat.
Seminggu bersamamu membuatku sadar kalau cinta tidak selalu harus dipenuhi kalimat-kalimat besar. Kadang, "udah makan belum?", "hati-hati ya," atau "jangan tidur terlalu malam," sudah cukup menjadi cara lain untuk mengatakan, "aku peduli."
Aku berharap minggu-minggu berikutnya tetap terasa seperti laut di pagi hari. Tenang, jernih, dan selalu memantulkan langit yang paling biru. Semoga kita terus tumbuh tanpa terburu-buru, saling menggenggam tanpa saling mengubah, dan saling memilih bahkan ketika hari-hari terasa biasa.
Selamat hari ketujuh, Khail.
Terima kasih sudah mengisi tujuh hari ini dengan begitu banyak alasan untuk bahagia. Semoga nanti, saat kita membaca kembali halaman pertama sampai halaman ketujuh, kita bisa tersenyum sambil berkata, "ternyata dari awal, kita memang sedang menuju cerita yang indah."
Karena seperti laut yang tidak pernah lelah memeluk pantai, aku berharap hatiku juga tidak pernah lelah menemukan jalan pulang kepadamu.