Tiga puluh hari.
Satu bulan.
Aku masih suka bingung bagaimana angka yang awalnya cuma satu hari bisa berubah menjadi tiga puluh. Tiga puluh kali matahari terbit, tiga puluh kali langit berganti warna, dan di antara semuanya, ada cerita kecil tentang aku dan kamu yang perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang begitu kusayangi.
Aku masih ingat hari pertama.
Hari ketika kita akhirnya menjadi "kita".
Mungkin waktu itu kita belum tahu akan sampai sejauh ini. Belum tahu akan ada berapa banyak tawa, obrolan random, saling mengganggu, saling merindukan, bahkan hari-hari ketika salah satu dari kita mungkin merasa kesal atau sedih.
Tapi kita tetap berjalan.
Hari demi hari.
Sampai akhirnya hari pertama berubah menjadi hari kedua.
Hari kedua menjadi hari ketiga.
Lalu kesepuluh.
Kedua puluh.
Dan sekarang—
tiga puluh.
Khail, selama tiga puluh hari ini aku belajar bahwa mencintai seseorang bukan hanya tentang perasaan besar yang membuat jantung berdebar.
Kadang cinta adalah hal yang jauh lebih kecil.
Seperti ingin menceritakan sesuatu kepadamu karena kamu adalah orang pertama yang terlintas di kepala.
Seperti tersenyum ketika melihat namamu muncul di layar.
Seperti mengingat hal kecil tentangmu.
Seperti bertanya apakah harimu baik-baik saja.
Seperti tetap ingin berbicara setelah hari yang melelahkan.
Hal-hal sederhana itu mungkin tidak terlihat seperti sesuatu yang besar.
Tapi ketika dikumpulkan selama tiga puluh hari, ternyata mereka menjadi sebuah cerita.
Cerita kita.
Kalau tiga puluh hari ini adalah laut, aku rasa kita baru saja menyentuh permukaannya.
Masih ada begitu banyak ombak yang belum kita kenal.
Masih ada langit yang belum kita lihat.
Masih ada hari-hari yang belum kita lewati.
Dan aku tidak ingin buru-buru sampai ke ujungnya.
Aku ingin menikmati semuanya perlahan.
Hari yang penuh tawa. Hari yang sedikit berantakan. Hari ketika kita saling mengganggu. Hari ketika kita hanya ingin duduk diam. Hari ketika satu pesan sederhana terasa cukup untuk membuat semuanya lebih baik.
Aku ingin semuanya.
Bukan karena aku berharap setiap hari akan sempurna.
Tapi karena semuanya adalah bagian dari menjadi kita.
Dan mungkin itu yang paling indah dari tiga puluh hari ini:
kita tidak menjadi sempurna.
Kita hanya terus belajar.
Belajar memahami. Belajar menjaga. Belajar meminta maaf. Belajar mendengarkan. Belajar mencintai dengan cara yang lebih baik.
Dan aku bersyukur bisa belajar semua itu bersamamu.
Selamat tiga puluh hari, Khail.
Selamat satu bulan untuk kita.
Terima kasih sudah menjadi bagian dari tiga puluh hari yang sekarang menjadi salah satu bagian kecil paling berharga dalam hidupku.
Kalau suatu hari nanti kita melihat kembali halaman ini, mungkin kita akan tertawa.
Mungkin kita akan berkata,
"Gila, dulu kita baru tiga puluh hari."
Dan aku harap saat itu datang, kita masih bisa tersenyum karena tahu bahwa semua yang kita punya hari ini pernah dimulai dari satu hari yang sangat sederhana:
hari ketika kita memilih untuk menjadi kita.
Hari pertama.
Lalu hari kedua.
Lalu hari ketiga.
Sampai akhirnya—
hari ketiga puluh.
Satu bulan mungkin bukan waktu yang panjang.
Tapi kalau tiga puluh hari saja sudah bisa membuatku punya begitu banyak alasan untuk bersyukur karena bertemu kamu, aku jadi tidak sabar melihat berapa banyak halaman lagi yang akan kita isi.
Tidak perlu menghitung terlalu jauh.
Besok saja dulu.
Lalu lusa.
Lalu hari berikutnya.
Pelan-pelan.
Satu hari demi satu hari.
Satu cerita demi satu cerita.
Sampai suatu saat angka tiga puluh ini terasa kecil dibandingkan semua yang sudah kita lewati.
Tapi untuk hari ini, aku ingin berhenti sebentar.
Menatap tiga puluh hari yang sudah kita punya.
Lalu tersenyum.
Karena dari begitu banyak orang, begitu banyak tempat, dan begitu banyak kemungkinan di dunia—
aku menemukan kamu.
Dan setelah tiga puluh hari,
jawabanku masih sama.
Masih kamu.
Masih kita.
Dan aku masih ingin membuka halaman berikutnya bersamamu.