Sebelas hari.
Aku masih agak tidak percaya kita sudah sampai sejauh ini, padahal kalau dihitung-hitung, sebelas hari itu cuma sebelas kali matahari terbit dan sebelas kali langit berganti warna. Tapi di antara sebelas hari itu, ternyata ada begitu banyak hal kecil yang berhasil membuatku semakin terbiasa dengan kehadiranmu.
Dan mungkin itu yang paling kusukai.
Aku mulai terbiasa mencari namamu ketika membuka ponsel. Mulai terbiasa ingin menceritakan hal-hal random kepadamu. Mulai terbiasa tersenyum sendiri ketika kamu mengatakan sesuatu yang sebenarnya biasa saja.
Sepertinya kamu perlahan menjadi bagian dari rutinitasku, Khail.
Bukan rutinitas yang membosankan—justru sebaliknya. Seperti suara ombak yang selalu terdengar di pantai. Awalnya mungkin kita memperhatikannya, lalu lama-lama menjadi suara yang membuat kita merasa aman karena tahu ia masih ada.
Aku suka kita yang seperti ini.
Dua orang yang bisa saling mengganggu tanpa alasan. Yang bisa tertawa karena sesuatu yang bahkan tidak lucu. Yang kadang cuma ingin ngobrol karena, "aku pengen ngomong sama kamu," tanpa perlu alasan yang lebih pintar dari itu.
Mungkin cinta memang sesederhana itu.
Bukan selalu tentang jantung yang berdebar kencang atau kata-kata yang indah. Kadang cinta hanya tentang seseorang yang tiba-tiba menjadi orang pertama yang ingin kita cari ketika menemukan sesuatu yang lucu.
Dan entah sejak kapan, orang itu menjadi kamu.
Hari kesebelas ini tidak punya perayaan besar. Tidak ada kembang api. Tidak ada langit yang tiba-tiba menulis nama kita.
Hanya ada aku, kamu, dan satu hari biasa yang terasa sedikit lebih istimewa karena kita melewatinya bersama.
Kalau laut bisa menyimpan kenangan di setiap butir pasirnya, mungkin sebelas hari kita sudah cukup untuk membuat satu pantai penuh cerita.
Dan aku masih ingin menambahkannya.
Satu hari lagi. Satu tawa lagi. Satu cerita lagi. Satu alasan lagi untuk bilang, "eh, hari ini kita masih bareng."
Selamat hari kesebelas, Khail.
Semoga nanti ketika angka sebelas berubah menjadi dua belas, tiga belas, atau angka-angka yang bahkan sudah terlalu jauh untuk dihitung, kita masih menjadi dua orang yang sama:
dua orang yang menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil,
dua orang yang selalu punya cerita untuk dibagikan,
dan dua orang yang, entah bagaimana, masih memilih untuk pulang ke satu sama lain.
Hari ini aku mencintaimu.
Besok mungkin akan ada cerita baru.
Tapi untuk sekarang—
biarkan aku menikmati hari kesebelas ini bersamamu.