Sembilan belas hari.
Besok angka itu akan berubah menjadi dua puluh, tapi entah kenapa aku ingin berhenti sebentar di hari ini. Menikmati satu hari terakhir sebelum kita meninggalkan angka belasan.
Karena ternyata, sembilan belas hari bersamamu menyimpan lebih banyak cerita daripada yang pernah kubayangkan.
Khail, dulu aku kira mencintai seseorang akan selalu terasa seperti jantung yang berlari setiap kali namanya disebut.
Ternyata tidak.
Kadang cinta justru terasa seperti tenang.
Seperti mengetahui bahwa ada seseorang yang bisa kucari ketika ingin bercerita. Seseorang yang membuatku ingin membagikan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting. Seseorang yang keberadaannya saja sudah cukup membuat hari terasa sedikit lebih ringan.
Dan aku menemukan rasa itu di kamu.
Sembilan belas hari ini mengajarkanku bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dalam bentuk sesuatu yang besar.
Kadang ia datang sebagai satu pesan. Satu candaan. Satu perhatian kecil. Satu nama yang muncul di layar.
Kadang ia datang sebagai seseorang yang membuat kita tersenyum tanpa sadar.
Kamu.
Kalau sembilan belas hari ini adalah perjalanan menyusuri pantai, mungkin aku tidak akan memilih untuk langsung sampai ke ujungnya.
Aku ingin berjalan pelan.
Menikmati pasir di bawah kaki. Mendengar suara ombak. Menertawakan hal-hal random. Berhenti sebentar ketika lelah. Lalu berjalan lagi.
Asalkan kamu masih di sebelahku.
Besok kita akan sampai pada hari kedua puluh.
Tapi sebelum itu, izinkan aku menyimpan hari kesembilan belas ini sedikit lebih lama.
Sebagai pengingat bahwa sebelum ada angka dua puluh, pernah ada sembilan belas hari yang membuatku belajar satu hal sederhana:
aku ternyata sangat suka menjadi "kita".
Selamat hari kesembilan belas, Khail.
Besok halaman baru akan terbuka.
Dan aku sudah tahu siapa yang ingin kutulis di dalamnya.
Kamu.
Selalu kamu.