Hari ini hari kedua puluh delapan.
Dua puluh delapan hari.
Kalau dipikir-pikir, kita sudah melewati cukup banyak angka sejak hari pertama. Tapi semakin banyak angka yang kulewati, semakin aku sadar bahwa yang paling kusukai bukanlah menghitung berapa lama kita bersama.
Aku suka mengingat apa saja yang terjadi di dalamnya.
Tawa kecil. Obrolan random. Candaan yang tidak jelas. Perhatian-perhatian sederhana. Dan tentu saja, kamu.
Khail, ada satu hal yang baru kusadari akhir-akhir ini.
Aku sudah mulai nyaman.
Nyaman mencari namamu. Nyaman menceritakan hariku. Nyaman menjadi sedikit aneh di depanmu. Nyaman mengirim sesuatu hanya karena aku tahu kamu mungkin akan tertawa melihatnya.
Dan mungkin yang paling lucu—
aku nyaman merindukanmu.
Rindu yang tidak selalu besar. Kadang cuma berupa, “eh, pengen ngobrol sama Khail.” Lalu beberapa saat kemudian sudah sibuk sendiri lagi.
Tapi tetap saja, ada bagian kecil dari hari yang terasa lebih lengkap ketika ada kamu.
Mungkin cinta memang seperti itu.
Tidak selalu datang seperti badai.
Kadang ia cuma seperti angin laut—pelan, hampir tidak terasa, tapi membuat kita sadar bahwa ada sesuatu yang menyentuh kita.
Dan tanpa sadar, kita ingin merasakannya lagi.
Dua puluh delapan hari ini bukan tentang menjadi pasangan yang sempurna.
Aku bahkan tidak yakin pasangan yang sempurna itu benar-benar ada.
Yang aku tahu, kita sedang belajar.
Belajar saling mengerti. Belajar menjaga. Belajar meminta maaf. Belajar tertawa bersama. Belajar menjadi tempat yang nyaman untuk satu sama lain.
Dan aku suka proses itu.
Aku suka bahwa cerita kita tidak harus selalu luar biasa untuk menjadi berharga.
Kadang cukup menjadi hari biasa yang dilewati bersama.
Selamat hari kedua puluh delapan, Khail.
Besok kita akan sampai di angka dua puluh sembilan.
Lalu setelah itu, kita akan semakin dekat dengan satu bulan.
Tapi sebelum sampai ke sana, aku ingin berhenti sebentar di hari ini dan mengucapkan satu hal:
terima kasih sudah membuatku merasa nyaman menjadi diriku sendiri.
Terima kasih sudah menjadi bagian dari hari-hariku.
Dan terima kasih karena sampai sekarang, setelah dua puluh delapan hari,
aku masih bisa melihat namamu dan berpikir—
“iya, aku senang banget punya kamu.”
Jadi mari lanjut satu hari lagi.
Satu cerita lagi.
Satu tawa lagi.
Satu halaman lagi.
Bersamamu.