Ombak yang besar itu biasanya baru datang sesudah bulan ketiga, pas sudah ndak malu-malu lagi. Tapi yang nulis tiap hari begini biasanya kuat nahan.
Dua Puluh Tujuh Hari Menjadi Kita.
Pikiran
Ombak yang besar itu biasanya baru datang sesudah bulan ketiga, pas sudah ndak malu-malu lagi. Tapi yang nulis tiap hari begini biasanya kuat nahan.
Konten postingan
Hari ini hari kedua puluh tujuh.
Dua puluh tujuh hari.
Hampir sebulan, tapi rasanya aku masih menemukan hal-hal baru untuk kusukai darimu. Mungkin itu yang membuat perjalanan ini terasa menyenangkan—ternyata mengenal seseorang tidak pernah benar-benar selesai.
Setiap hari selalu ada sesuatu yang baru.
Satu kebiasaan kecil yang baru kusadari. Satu candaan yang membuatku tertawa. Satu cerita yang ingin kusimpan. Satu sisi dirimu yang membuatku berpikir, oh, ternyata Khail seperti ini.
Dan aku suka semuanya.
Khail, dua puluh tujuh hari ini membuatku sadar bahwa aku tidak ingin terburu-buru mengetahui seluruh cerita tentangmu.
Aku ingin mengenalnya sedikit demi sedikit.
Seperti membaca buku yang halaman-halamannya tidak perlu dibalik sekaligus. Cukup satu halaman hari ini, satu halaman besok, lalu satu halaman lagi setelahnya.
Karena mungkin bagian paling indah dari mencintai seseorang adalah proses menemukan mereka berulang kali.
Hari ini menemukan sisi lucumu.
Besok mungkin menemukan sisi lembutmu.
Lusa mungkin menemukan sesuatu yang bahkan belum pernah kulihat sebelumnya.
Dan setiap kali itu terjadi, aku ingin tetap berkata:
“oh, aku suka kamu yang ini juga.”
Kalau kita adalah laut, mungkin dua puluh tujuh hari ini baru sebatas beberapa ombak yang berhasil kita lewati bersama.
Masih ada laut yang luas di depan.
Masih ada hari yang tenang. Masih ada hari yang berangin. Masih ada hari ketika ombak datang terlalu besar.
Tapi aku tidak takut.
Karena sekarang aku tahu, perjalanan ini tidak harus selalu tentang laut yang tenang.
Kadang yang penting adalah tahu siapa yang ingin kita temui ketika akhirnya sampai di pantai.
Dan aku tahu siapa yang ingin kutemui.
Kamu.
Selamat hari kedua puluh tujuh, Khail.
Dua puluh tujuh hari sudah kita lewati.
Dan ternyata, setelah semua tawa, cerita, hari baik, dan hari yang sedikit sulit—
lautnya masih biru.
Langitnya masih luas.
Dan aku?
Masih di sini.
Masih mencintaimu.
Masih ingin tahu cerita apa yang akan kita tulis besok.
Karena kalau dua puluh tujuh hari saja sudah punya sebanyak ini cerita,
aku jadi penasaran seperti apa kisah kita ketika angka itu nanti berubah menjadi seratus.
Tapi untuk sekarang—
cukup hari ini.
Cukup kamu.
Cukup kita.
Thoughts
-
PermalinkMaaf kalau nanya dasar, hitungan hari ini mulainya dari hari jadian atau dari pertama kenal Khail? ^^
-
PermalinkOmbak yang besar itu biasanya baru datang sesudah bulan ketiga, pas sudah ndak malu-malu lagi. Tapi yang nulis tiap hari begini biasanya kuat nahan.
-
PermalinkMembaca buku satu halaman sehari, dan tulisan ini sendiri juga datang satu hari satu tulisan. Kalau semuanya dikumpulkan sampai angka seratus yang disebut di akhir, jadinya buku kecil yang cuma bisa ditulis sekali, selagi semuanya masih baru ditemukan. Senang ada halaman kedua puluh tujuh ini di sini, terima kasih sudah membagikannya :)
-
PermalinkPengen kenal Khail sedikit demi sedikit, satu halaman sehari, itu yang nempel di aku. Orang baru jadian biasanya malah pengen tahu semuanya di minggu pertama. Aku sama suamiku dulu begitu, kebablasan cepat je, baru belakangan sadar masih banyak halaman yang dilewati.
Related posts
-
Hari Ketujuh Mencintaimu.
Hari ini hari ketujuh.
-
Happy August, Sahabatku.
Aku pernah berpikir, mungkin laut memang diciptakan supaya orang-orang punya tempat untuk menyimpan tawa.
-
perempuan di pinggir halaman
“Kalau dia tidak salah, dan aku juga tidak salah, lalu kenapa yang menangis hanya aku?”
-
Hari Kesebelas Mencintaimu.
Sebelas hari.
- Bertumpu Di Atas Kaki Besi
-
Hari Kedelapan Mencintaimu.
Hari ini hari kedelapan.
-
Hari Kesembilan Belas Mencintaimu.
Sembilan belas hari.
-
Hari Kedelapan Belas Mencintaimu.
Hari ini hari kedelapan belas.
Hari ini hari kedua puluh tujuh.