Loading…

Hari Kedelapan Belas Mencintaimu.

Swaru
Publik 0 percakapan 0 pikiran 17 suara positif 0 suara negatif 0 seri

Hari ini hari kedelapan belas.

Konten postingan

Hari ini hari kedelapan belas.

Delapan belas hari.

Aku kadang masih merasa lucu setiap kali menghitungnya. Seolah-olah baru kemarin kita memulai semuanya, tapi sekarang sudah ada delapan belas hari yang diam-diam tersimpan di belakang kita.

Delapan belas hari yang berisi kamu.

Khail, mungkin aku tidak bisa mengingat setiap percakapan kita satu per satu. Tidak semua candaan akan menetap selamanya di kepala. Tidak semua hari punya kejadian besar.

Tapi aku rasa aku akan selalu mengingat perasaannya.

Perasaan ketika melihat namamu dan tiba-tiba tersenyum. Perasaan ketika ingin menceritakan sesuatu kepadamu. Perasaan ketika hari yang tadinya biasa saja mendadak terasa lebih menyenangkan karena kamu hadir di dalamnya.

Dan mungkin itu yang membuat delapan belas hari ini begitu berarti.

Bukan karena setiap harinya sempurna.

Tapi karena setiap harinya punya sedikit bagian dari kita.

Ada hari ketika kita terlalu banyak bercanda. Ada hari ketika obrolan kita tidak berhenti. Ada hari ketika mungkin kita hanya saling menyapa sebentar.

Namun semuanya tetap terasa seperti potongan kecil dari satu cerita yang sama.

Cerita tentang dua orang yang sedang belajar mencintai.

Aku suka membayangkan kita seperti dua orang yang berjalan di sepanjang pantai. Tidak perlu selalu berjalan cepat. Kadang berhenti untuk melihat laut, kadang lari ketika ombak datang terlalu jauh, kadang malah tertawa karena kaki keburu basah.

Yang penting, kita masih berjalan di arah yang sama.

Selamat hari kedelapan belas, Khail.

Aku tidak tahu berapa banyak halaman yang masih menunggu setelah ini.

Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak terlalu penasaran dengan akhirnya.

Aku lebih ingin menikmati bagian tengahnya.

Hari-hari kecil. Tawa-tawa bodoh. Cerita yang tidak penting. Pesan-pesan sederhana. Dan semua hal yang membuat kita bisa berkata,

“Eh, ternyata hari ini kita masih di sini.”

Masih bersama. Masih tertawa. Masih menjadi kita.

Dan kalau besok datang membawa hari kesembilan belas, aku akan menyambutnya dengan perasaan yang sama:

senang karena masih punya kamu untuk kuceritakan kepada dunia.

Selamat hari kedelapan belas.

Satu hari lagi menuju sembilan belas.

Dan satu hari lagi untuk kembali mencintaimu.