Loading…

Hari Kedelapan Mencintaimu.

Swaru
Publik 0 percakapan 0 pikiran 20 suara positif 0 suara negatif 0 seri

Hari ini hari kedelapan.

In groups

Konten postingan

null

Hari ini hari kedelapan.

Seminggu sudah lewat sejak kita pertama kali menyebut diri kita "kita". Dan lucunya, aku kira setelah tujuh hari rasa gugup itu akan hilang. Ternyata tidak. Setiap kali namamu muncul, masih ada bagian kecil dalam diriku yang berbunyi, "oh, itu Khail." Seolah-olah hatiku masih saja senang setiap kali menemukanmu.

Mungkin sekarang aku mulai mengerti kenapa laut tidak pernah bosan menjadi laut. Ia terus menerima ombak yang sama, angin yang sama, langit yang sama—namun setiap hari selalu terasa sedikit berbeda.

Begitu juga kamu.

Hari ini aku mungkin menyukaimu karena caramu membuatku tertawa. Besok mungkin karena caramu mendengarkan. Lusa mungkin karena satu kalimat kecil yang kamu ucapkan tanpa sadar. Dan mungkin, tanpa kita sadari, alasan-alasan kecil itu akan terus bertambah sampai suatu hari aku tidak bisa lagi menghitungnya.

Aku suka kita yang sekarang. Masih muda, masih belajar, masih suka bercanda tidak jelas, masih bisa saling ganggu hanya demi mendapat perhatian lima detik lebih lama. Tidak sempurna, tidak selalu rapi, tapi terasa nyata.

Kalau kemarin aku menulis tentang tujuh ombak, hari ini aku ingin jadi ombak kedelapan—datang membawa satu hal sederhana: aku masih di sini.

Masih ingin mendengar ceritamu. Masih ingin tertawa bersamamu. Masih ingin menjadi orang yang kamu cari ketika harimu terasa terlalu panjang.

Selamat hari kedelapan, Khail.

Tidak ada janji besar hari ini. Hanya satu harapan kecil: semoga besok kita masih punya alasan untuk saling tersenyum. Lalu lusa, dan lusa lagi.

Sebab mungkin mencintaimu bukan tentang mengetahui akan berakhir di mana.

Mungkin cukup tentang menikmati setiap ombak yang membawa kita semakin dekat, sambil sesekali berhenti di tepi laut dan berkata,

"Eh, ternyata sudah hari kedelapan."

Dan aku masih memilihmu.