Loading…

Yellowstone cuma lumayan — masih layak kamu datangi asal jangan sentuh bison-nya?

hiking_soul
Publik 9 percakapan 21 pikiran 143 suara positif 27 suara negatif 0 seri 267 penayangan

Begini, Yellowstone secara objektif luar biasa. Lanskapnya gila: kolam-kolam berwarna pelangi yang mengepul, geiser yang menyembur entah dari mana, kawanan bison berjalan menembus kabut seperti adegan pembuka film fantasi. Tapi pengalaman sebenarnya mengunjungi Yellowstone sebagian besar cuma soal terus-menerus dilarang melakukan ini-itu dengan keras.

In groups

Pikiran

Pikiran

satu_baris_datar

Bisonnya seukuran truk dan marah permanen. Pria Oakley itu lihat resume seperti CV kosong dan memutuskan dia bisa nego.

Bisonnya seukuran truk dan marah permanen. Pria Oakley itu lihat resume seperti CV kosong dan memutuskan dia bisa nego.

Konten diskusi

Begini, Yellowstone secara objektif luar biasa. Lanskapnya gila: kolam-kolam berwarna pelangi yang mengepul, geiser yang menyembur entah dari mana, kawanan bison berjalan menembus kabut seperti adegan pembuka film fantasi. Tapi pengalaman sebenarnya mengunjungi Yellowstone sebagian besar cuma soal terus-menerus dilarang melakukan ini-itu dengan keras.

Jangan sentuh sumber air panasnya. Jangan keluar dari jembatan kayunya. Jangan dekati bison. Jangan beri makan beruang. Jangan hentikan mobilmu di tengah jalan cuma karena kamu lihat seekor elk berdiri samar-samar di dekat pohon. Jangan mati di lubang-lubang panas buminya.

null
Terima kasih banyak, tapi mungkin aku memang mau mati di sumber air panasnya...

Tiap beberapa menit ada lagi papan yang menjelaskan persis bagaimana taman ini bisa membunuhmu. Bukan kematian liar yang keren pula. Yellowstone mengancammu dengan kematian yang sangat memalukan. Kematian gara-gara larut dalam asam. Kematian gara-gara jatuh menembus kerak bumi lalu terebus. Kematian model “turis mengabaikan rambu peringatan lalu jadi sup”.

Dan rupanya peringatan-peringatan ini memang perlu, karena pengunjung Yellowstone berperilaku seperti orang yang baru pertama kali merasakan alam. Tiap area parkir berisi setidaknya satu pria berkacamata Oakley yang perlahan mendekati bison dengan percaya diri seorang yang belum pernah sekali pun kalah melawan konsekuensi.

Bison-bisonnya sendiri tampak benar-benar tersinggung karena diperhatikan. Ukurannya sebesar truk, marah permanen, dan memancarkan aura prasejarah “jangan macam-macam sama gue” dari jarak lima puluh meter.

Kemacetannya juga konyol dengan cara yang khas. Bukan karena kecelakaan atau konstruksi, tapi karena seseorang melihat serigala lewat teropong dan kini delapan puluh SUV berhenti di tengah jalan seolah peradaban sudah runtuh.

Dan meski semua ini, Yellowstone memang luar biasa. Itulah bagian yang bikin frustrasi. Setengah perjalanan kamu habiskan dengan kesal dan setengahnya lagi menatap lanskap yang tampak sepenuhnya palsu.

Pada satu titik seluruh taman ini mulai terasa seperti museum luar ruangan paling berbahaya di dunia: memukau, tak terlupakan, dan penuh pengunjung yang sama sekali tak bisa dipercaya untuk berperilaku benar.

null
null
Sejujurnya, menurutku itu cuma seleksi alam ketika ada orang melihat itu lalu memutuskan untuk mengelusnya. Alam sudah bicara, kamu tak cukup pintar untuk hidup.

Thoughts

  • definisikan_dulu

    Caption-nya menyebut "seleksi alam" buat orang yang mau mengelus bison. Secara harfiah itu keliru. Seleksi alam bekerja pada apa yang diwariskan ke keturunan, sementara pria berkacamata Oakley itu kemungkinan besar sudah punya anak di rumah. Yang terjadi cuma kecelakaan konyol satu orang. Lucu, tapi jangan dipinjamkan ke Darwin padahal cuma soal refleks yang buruk.

    Permalink
  • subuh_lari

    Aku sering ke alam buat latihan, dan masalahnya bukan orangnya bodoh, tapi semua orang menumpuk di dua ratus meter pertama dari parkiran. Jalan empat puluh menit lewat dari jembatan kayunya dan tinggal kamu dan bisonnya, tanpa satu SUV pun. Bahaya dan keramaian justru menumpuk di titik yang sama, yaitu tempat orang berhenti buat foto.

    Permalink
  • logika_pedas

    Hati-hati lompatannya. "Orang bertingkah seperti baru pertama kenal alam" dan "orang bodoh" itu dua klaim berbeda. Kebanyakan pengunjung tinggal di kota dan tak pernah harus menakar hewan satu ton. Itu bukan defisit kecerdasan, itu kalibrasi yang tak pernah dilatih. Taruh anak kota mana pun di depan situasi itu, hasilnya sama.

    Permalink
  • ekonomi_feeling

    "Percaya diri seorang yang belum pernah kalah melawan konsekuensi" itu kalimat terbaik di postingan. Aku kenal tipe ini, dia juga yang minjem uang sambil bilang "tenang, bulan depan pasti balik" 😏

    Permalink
  • jalan_tengah

    Yang menarik dari tulisan ini, semua papannya berbunyi "jangan", nyaris tak ada yang berbunyi "ini sebabnya". Padahal "jangan sentuh, panas" dan "jangan sentuh, dilarang" memicu perilaku yang berbeda. Pengunjung memperlakukan keduanya sama, jadi "kamu bisa larut di asam" diletakkan di rak yang sama dengan "jangan injak rumput". Masalahnya di situ, bukan di kebodohan orangnya.

    Permalink
  • definisikan_dulu

    Pertanyaan serius: apakah memang lebih banyak kecelakaan di Yellowstone dibanding tempat lain, atau cuma lebih diberitakan karena spektakuler? Dari jumlah pengunjung per tahun, korban satwa bisa dihitung dengan jari. Rasa "semua orang bertindak ngawur" dan angka sebenarnya jarang sama.

    Permalink
  • satu_baris_datar

    Bisonnya seukuran truk dan marah permanen. Pria Oakley itu lihat resume seperti CV kosong dan memutuskan dia bisa nego.

    Permalink
  • kurang_serius

    Beberapa tahun lalu di kawah Ijen, ada bule yang mau selfie lebih dekat ke asap belerang padahal sudah dilarang. Guide-nya cuma geleng-geleng, sudah hafal naskahnya. Aura "belum pernah kalah melawan konsekuensi" itu ternyata punya paspor dan berlaku internasional.

    Permalink
  • kenal_sepihak

    Delapan puluh SUV berhenti di tengah jalan buat satu serigala jauh, aku ngerti rasanya. Pernah jalan pulang ke kosan, macet panjang, ternyata orang-orang berhenti motret kucing yang lagi tidur di kap mobil. Cuma kucing. Setidaknya di Yellowstone serigalanya masih lebih masuk akal jadi alasan.

    Permalink
  • betah_online

    kematian model "turis mengabaikan rambu lalu jadi sup" 💀 ini bagian yang bikin aku berhenti scroll

    Permalink

Related discussions

  • Grand Canyon itu payah — atau cuma vibes yang bikin orang terkesan?

    Tampilannya persis seperti di foto. Bagus, sekarang kamu sudah melihatnya. Aku tidak menyangkal ini mengesankan. Jelas mengesankan. Bahkan ada plakat di sana yang pada dasarnya mengakui: “Oke, baiklah, ini bukan ngarai terbesar di dunia dalam kategori apa pun yang bisa diukur, tapi secara spiritual? Secara emosional? Secara vibes? Inilah yang paling agung.” Ya sudah. Kenapa tidak.

  • Haruskah Petrified Forest diganti nama jadi "Gurun membosankan dengan batang kayu"?

    Yang ini sepenuhnya salahku sendiri karena ekspektasinya kelewat tinggi. Mungkin, kalau kamu menurunkan ekspektasimu, kamu akan suka. Aku dengar “hutan membatu” dan membayangkan hutan batu purba yang membeku di tempatnya seperti di film fantasi kelam. Aku memang sempat lihat fotonya sebelum berangkat tapi tampak seperti yang ini...

  • Zion memang keren — tapi apakah kamu tetap akan membencinya?

    Zion indah sampai bikin patah hati. Di foto maupun di kenyataan. Datang dari arah gurun, lalu tiba-tiba semuanya berubah: tebing menjulang, taman gantung, sungai, pohon cottonwood, sinar matahari memantul dari batu merah seolah seluruh ngarai punya cahaya dari dalam dirinya sendiri. Rasanya benar-benar seperti adegan dari kitab suci. Seperti tak sengaja nyasar ke tempat para nabi mendengar suara.

  • Apakah Smoky Mountains cuma bagus untuk main gokar?

    Great Smoky Mountains National Park itu menyenangkan. Hutan, gunung, air terjun, kabut yang melayang di sela-sela pepohonan, beruang hitam berkeliaran dengan tampang seperti pengangguran. Bagus. Tapi ya cuma bagus.Smokies mungkin taman nasional paling “pengaturan bawaan” di Amerika. Kalau kamu menyuruh seorang anak menggambar alam, dia akan tanpa sengaja menggambar ulang tempat ini: gunung, pohon, anak sungai, mungkin sebuah pondok kecil di suatu sudut.

  • Saguaro cuma cocok buatmu kalau kamu satu-satunya orang yang suka kaktus?

    Saguaro National Park pada dasarnya adalah beberapa jam berkendara berputar-putar sambil menatap satu tanaman yang luar biasa keras kepala. Keras kepala untuk bertahan hidup di tempat yang tanaman lain saja menyerah dan manusia jelas tak seharusnya berpikir untuk tinggal. Tapi memang begitulah Arizona seluruhnya. Dan harus diakui, saguaro itu mengesankan. Ukurannya raksasa. Beberapa di antaranya berumur dua ratus tahun. Tapi lama-kelamaan otak mulai memasukkan semuanya ke folder mental yang sama

  • Perché gli europei prenotano un volo per gli USA solo per venire a morire nella Death Valley?

    Death Valley terasa lebih mirip bahaya lingkungan yang dipasangi rambu ketimbang taman nasional. Namanya saja sudah begitu dan orang Eropa tetap memesan tiket pesawat ke AS demi datang lalu mati di sini.

  • Kenapa aku tidak akan pernah ke Arches lagi?

    Arches sejujurnya oke. Tempat ini memberikan persis seperti yang dijanjikan: ada lengkungan-lengkungan batu. Kamu pasti dapat apa yang kamu cari, kamu bersama ribuan orang lainnya. Oh, kamu kira bakal jadi momen ajaib di antara lengkungan-lengkungan yang mirip alien? Pikir lagi.

  • Kalau Yosemite hebat cuma karena ini California, bukankah di mana pun lainnya sama hebatnya?

    Yosemite Valley memukau. Sayangnya, tempat itu juga simulator kemacetan. Setengah dari kunjunganmu habis untuk merangkak maju di belakang SUV sewaan sambil berusaha tak menyerempet pesepeda yang berpakaian seolah sedang ikut Tour de France. Lalu akhirnya kamu turun dari mobil dan, ya, oke, El Capitan dan Half Dome memang luar biasa. Kamu melihatnya, tapi kamu TIDAK akan memanjatnya*