Khail beruntung sih :')
Dua Puluh Lima Hari, Setelah Hujan.
Pikiran
Khail beruntung sih :')
Konten postingan
Hari ini hari kedua puluh lima.
Dua puluh lima hari.
Dan rasanya lucu sekali melihat angka itu setelah kemarin kita melewati hari yang sedikit berbeda. Tidak semua hari ternyata bisa berjalan seperti langit cerah. Kadang ada awan, kadang hujan turun tanpa aba-aba, dan kadang kita hanya perlu berhenti sebentar agar semuanya kembali tenang.
Tapi pagi selalu datang lagi.
Dan hari ini, aku ingin datang dengan hati yang lebih lembut kepadamu.
Khail, aku masih belajar memahami bahwa mencintai seseorang berarti belajar melihat perasaan dari dua sisi. Bukan hanya tentang bagaimana aku merasa, tetapi juga bagaimana perkataanku mungkin sampai kepadamu.
Mungkin aku belum selalu pandai.
Mungkin kadang aku masih salah memilih kata.
Kadang bercandaku kelewatan.
Kadang aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri sampai lupa melihat apa yang kamu rasakan.
Tapi satu hal yang tidak berubah:
aku peduli kepadamu.
Aku peduli ketika kamu senang.
Aku peduli ketika kamu tertawa.
Dan aku juga peduli ketika hatimu sedang tidak baik-baik saja.
Setelah dua puluh lima hari, aku mulai mengerti bahwa "kita" bukan berarti tidak pernah membuat kesalahan.
"Kita" berarti ketika ada kesalahan, kita mau belajar dari sana.
Seperti laut setelah hujan.
Permukaannya mungkin masih bergelombang, tapi perlahan kembali tenang. Langit mungkin masih menyisakan awan, tapi di baliknya biru tetap ada.
Dan mungkin begitu juga kita.
Tidak harus langsung sempurna.
Cukup terus mencoba.
Hari ini aku ingin kembali menikmati hal-hal kecil tentang kita. Tawa yang receh. Cerita yang random. Saling mengganggu hanya untuk mendapatkan perhatian. Bahkan obrolan sederhana yang mungkin tidak berarti apa-apa bagi orang lain, tapi selalu punya tempat kecil di hatiku.
Dua puluh lima hari sudah berlalu.
Dan kalau ada satu hal yang ingin kubawa dari semua hari itu, mungkin ini:
aku tidak hanya mencintai hari-hari ketika kita tertawa.
Aku juga ingin belajar mencintai kita ketika hari sedang tidak mudah.
Selamat hari kedua puluh lima, Khail.
Semoga setelah hujan kemarin, hari ini kita bisa melihat sedikit lebih banyak biru.
Dan kalau masih ada sisa awan, tidak apa-apa.
Kita tidak perlu buru-buru.
Kita punya hari esok.
Dan selama masih ada hari esok, aku masih ingin menulis halaman berikutnya bersamamu.
Thoughts
-
PermalinkSaya baca sampai selesai. Semoga birunya hari ini lebih banyak dari kemarin.
-
PermalinkBapak saya dulu kalau habis ribut sama ibu tidak pernah minta maaf pakai kata-kata. Besok paginya kacamata ibu yang gagangnya longgar sudah dikencangkan, ditaruh di samping gelas teh. Ibu pakai kacamatanya, lalu mereka ngobrol lagi soal harga beras seperti tidak ada apa-apa. Surat seperti ini tidak pernah ada di rumah kami, nggih.
-
PermalinkKhail beruntung sih :')
-
PermalinkAku suka laut setelah hujan itu, permukaannya masih bergelombang tapi pelan-pelan tenang. Pas buat hari sesudah ribut, nggak dipaksa langsung cerah.
-
PermalinkDua puluh lima hari itu masih sangat muda, Nak, dan sudah ada yang mau menuliskan kesalahannya sendiri satu per satu. Waktu masih bertugas di kelurahan, saya sering melihat pasangan datang mengurus surat nikah, dan jarang sekali ada yang sanggup mengakui bercandanya kelewatan. Tawa yang receh itu biasanya yang paling lama diingat orang.
-
PermalinkDua puluh lima hari itu dihitung mulai dari hari apa, euy? Penasaran, soalnya angkanya kamu sebut terus sampai kalimat terakhir.
-
PermalinkBercanda kelewatan emang paling susah ditarik balik. Ditulis sepanjang ini sih kayaknya Khail gak bakal lama-lama marah.
-
PermalinkMenulis untuk seseorang setiap hari dan memberinya nomor itu kebiasaan yang jarang bertahan sampai dua puluh lima. Biasanya orang berhenti di hari sesudah bertengkar, karena menulis jadi terasa berat. Di sini hari yang berat itu malah jadi isi tulisannya, dan buat saya itu yang bikin angka dua puluh lima ini terasa. Terima kasih sudah berbagi di sini!
-
PermalinkSaling ganggu cuma buat dapat perhatian itu lucu, kukira cuma aku yang begitu. Kebayang Khail bacanya sambil senyum walau kemarin masih kesel.
Related posts
- Bertumpu Di Atas Kaki Besi
-
Dua Puluh Hari Menjadi Kita.
Dua puluh hari.
-
Hari Pertama Mencintaimu.
Katanya cinta pertama itu ribet. Tapi entah kenapa sama Khail, rasanya malah kayak nemu kerang paling lucu di pantai—nggak mahal, nggak heboh, cuma bikin senyum setiap kali digenggam.
-
Hari Kesepuluh Mencintaimu.
Sepuluh hari.
-
perempuan di pinggir halaman
“Kalau dia tidak salah, dan aku juga tidak salah, lalu kenapa yang menangis hanya aku?”
-
Tiga Puluh Hari, di Laut yang Sama.
Tiga puluh hari.
-
Dua Puluh Tiga Hari Menjadi Kita.
Hari ini hari kedua puluh tiga.
-
Dua Puluh Sembilan Hari Menjadi Kita.
Satu hari lagi.
Hari ini hari kedua puluh lima.