Katanya cinta pertama itu ribet. Tapi entah kenapa sama Khail, rasanya malah kayak nemu kerang paling lucu di pantai—nggak mahal, nggak heboh, cuma bikin senyum setiap kali digenggam.
Kami baru sehari jadi pacar. Day one. Masih malu-malu, masih saling bilang "ih apasih," padahal lima menit kemudian udah nyari satu sama lain lagi. Rasanya kayak ombak kecil yang sengaja nyentuh ujung kaki, mundur bentar, terus balik lagi seolah bilang, "aku di sini kok."
Khail itu lucu. Kadang nyebelin juga. Tapi anehnya, justru hal-hal kecil itu yang bikin hari terasa penuh. Bahkan langit sore yang biasanya cuma biru sekarang jadi biru banget, seolah laut sama langit lagi kompak ngeledekin kami yang senyum-senyum sendiri.
Kalau suatu hari nanti ada yang nanya cinta remaja itu rasanya kayak apa, mungkin aku bakal nunjuk ke laut. Soalnya laut nggak pernah buru-buru. Dia datang pelan lewat ombak, tinggal lewat suara, lalu diam-diam bikin orang betah. Sama kayak Khail yang datang biasa aja, tapi sekarang namanya sudah tinggal di pikiranku hampir setiap jam.
Semoga nanti, saat ombak berganti ribuan kali dan pantai menyimpan jejak kaki yang berbeda-beda, kita masih jadi dua orang yang saling ketawa karena hal receh. Masih saling ngirimin "udah makan belum?" yang sebenarnya berarti, "aku kepikiran kamu."
Kan lucu ya? Baru day one, tapi rasanya dunia mendadak punya lebih banyak warna biru.