Sepuluh hari.
Kalau dipikir-pikir, angka itu sebenarnya sederhana. Cuma satu dan nol yang berdiri berdampingan. Tapi entah kenapa, ketika angka itu menjadi jumlah hari bersamamu, rasanya seperti sesuatu yang jauh lebih besar.
Karena sepuluh hari lalu, kita baru mulai menjadi "kita".
Sekarang, namamu sudah jadi bagian dari hari-hariku. Ada di sela-sela tawa, di antara obrolan random, di pikiran yang tiba-tiba melayang entah ke mana, lalu berhenti di satu tempat yang sama: kamu.
Khail, aku masih suka heran sendiri.
Kok bisa seseorang yang baru beberapa hari lalu resmi menjadi pacarku sekarang terasa seperti seseorang yang sudah lama kutunggu? Kok bisa satu nama membuat hari biasa terasa sedikit lebih lucu? Kok bisa pesan sederhana darimu bikin aku senyum seperti orang aneh?
Mungkin karena cinta memang tidak pernah pandai menghitung waktu.
Ia tidak peduli apakah baru sepuluh hari atau sudah bertahun-tahun. Ia hanya tahu bahwa ada seseorang yang membuat kita ingin berbagi cerita, bahkan cerita paling tidak penting sekalipun.
Hari kesepuluh ini terasa seperti duduk di tepi laut setelah bermain seharian. Rambut berantakan, kaki kena pasir, mungkin sedikit capek, tapi hati rasanya penuh.
Aku menoleh ke belakang dan melihat sembilan hari yang sudah kita lewati.
Ada deg-degan. Ada salting. Ada tawa. Ada obrolan receh. Ada momen kecil yang mungkin kelihatannya tidak berarti bagi orang lain, tapi entah kenapa menjadi bagian favoritku.
Dan sekarang ada hari kesepuluh.
Aku tidak tahu berapa banyak hari yang akan datang setelah ini. Mungkin puluhan. Mungkin ratusan. Mungkin nanti kita bahkan lupa kapan tepatnya kita mulai menghitung.
Tapi untuk hari ini, aku cuma ingin menikmati satu hal:
aku senang kamu ada.
Senang kita bertemu. Senang kita memilih menjadi kita. Senang karena dari sekian banyak orang di dunia, aku bisa punya satu nama yang membuat hatiku terasa sedikit lebih ramai.
Selamat hari kesepuluh, Khail.
Sepuluh hari mungkin baru awal dari perjalanan yang panjang.
Tapi kalau setiap halaman berikutnya masih boleh kutulis bersamamu, aku tidak keberatan membuka halaman baru berkali-kali.
Hari kesebelas. Hari kedua belas. Hari ketiga belas.
Sampai nanti angka-angka itu terlalu banyak untuk dihitung.
Dan kalau suatu hari kita lupa sudah sampai hari keberapa, aku harap kita tetap ingat satu hal:
di antara begitu banyak hari yang pernah kita lewati,
aku pernah memilihmu.
Dan aku masih memilihmu.
Hari ini. Besok. Dan satu hari lagi setelahnya.