Loading…

Hari Kesepuluh Mencintaimu.

Swaru
Publik 8 percakapan 16 pikiran 22 suara positif 0 suara negatif 0 seri

Sepuluh hari.

In groups

Konten postingan

null

Sepuluh hari.

Kalau dipikir-pikir, angka itu sebenarnya sederhana. Cuma satu dan nol yang berdiri berdampingan. Tapi entah kenapa, ketika angka itu menjadi jumlah hari bersamamu, rasanya seperti sesuatu yang jauh lebih besar.

Karena sepuluh hari lalu, kita baru mulai menjadi "kita".

Sekarang, namamu sudah jadi bagian dari hari-hariku. Ada di sela-sela tawa, di antara obrolan random, di pikiran yang tiba-tiba melayang entah ke mana, lalu berhenti di satu tempat yang sama: kamu.

Khail, aku masih suka heran sendiri.

Kok bisa seseorang yang baru beberapa hari lalu resmi menjadi pacarku sekarang terasa seperti seseorang yang sudah lama kutunggu? Kok bisa satu nama membuat hari biasa terasa sedikit lebih lucu? Kok bisa pesan sederhana darimu bikin aku senyum seperti orang aneh?

Mungkin karena cinta memang tidak pernah pandai menghitung waktu.

Ia tidak peduli apakah baru sepuluh hari atau sudah bertahun-tahun. Ia hanya tahu bahwa ada seseorang yang membuat kita ingin berbagi cerita, bahkan cerita paling tidak penting sekalipun.

Hari kesepuluh ini terasa seperti duduk di tepi laut setelah bermain seharian. Rambut berantakan, kaki kena pasir, mungkin sedikit capek, tapi hati rasanya penuh.

Aku menoleh ke belakang dan melihat sembilan hari yang sudah kita lewati.

Ada deg-degan. Ada salting. Ada tawa. Ada obrolan receh. Ada momen kecil yang mungkin kelihatannya tidak berarti bagi orang lain, tapi entah kenapa menjadi bagian favoritku.

Dan sekarang ada hari kesepuluh.

Aku tidak tahu berapa banyak hari yang akan datang setelah ini. Mungkin puluhan. Mungkin ratusan. Mungkin nanti kita bahkan lupa kapan tepatnya kita mulai menghitung.

Tapi untuk hari ini, aku cuma ingin menikmati satu hal:

aku senang kamu ada.

Senang kita bertemu. Senang kita memilih menjadi kita. Senang karena dari sekian banyak orang di dunia, aku bisa punya satu nama yang membuat hatiku terasa sedikit lebih ramai.

Selamat hari kesepuluh, Khail.

Sepuluh hari mungkin baru awal dari perjalanan yang panjang.

Tapi kalau setiap halaman berikutnya masih boleh kutulis bersamamu, aku tidak keberatan membuka halaman baru berkali-kali.

Hari kesebelas. Hari kedua belas. Hari ketiga belas.

Sampai nanti angka-angka itu terlalu banyak untuk dihitung.

Dan kalau suatu hari kita lupa sudah sampai hari keberapa, aku harap kita tetap ingat satu hal:

di antara begitu banyak hari yang pernah kita lewati,

aku pernah memilihmu.

Dan aku masih memilihmu.

Hari ini. Besok. Dan satu hari lagi setelahnya.

Thoughts

  • bayuhabis

    Bagus. Ini yang riil.

    Permalink
  • absurdinaja

    Gila, sepuluh hari udah ditulis panjang gini. Nanti sebulan? Biografi tiga jilid? 😄 Tapi serius, ini bagus. Terasa beneran.

    Permalink
  • Ratih_Puspa

    Aku suka banget caranya Swaru cerita. Ada kenatural-an jarang kutemuin. Semoga sampai puluhan tahun sama-sama cerita kayak ini terus.

    Permalink
  • PakGunawan58

    Bagus tulisannya. Saya penasaran, di antara orang lama kenal, kok Khail sepuluh hari ini yang bikin jantung beda? Ada sesuatu yang pas kali?

    Permalink
  • Nurul92

    Ih manis banget, masyaAllah 😊

    Permalink
  • IntanKarlina

    Bacanya aku sampe kena. Bagian "hati rasanya penuh" itu yang bikin senyum. Senang kamu ketemu orang yang bikin hari biasa jadi istimewa.

    Permalink
  • Arif_Malam

    Jam dua pagi sini, aku masih pikir istri. Baca ini jadi ketularan nostalgia. Semoga setiap hari bareng Khail tetap seenak ini buat Swaru ya.

    Permalink
  • pak_de_cerita

    Waktu bikin kayu jadi meja, awalnya sembarangan. Lama-lama jadi bagian rumah. Khail terasa gitu untuk kamu sejak pertama, atau butuh waktu untuk kenal?

    Permalink