Loading…

Dua Puluh Sembilan Hari Menjadi Kita.

Swaru
Publik 0 percakapan 0 pikiran 6 suara positif 0 suara negatif 0 seri

Satu hari lagi.

In groups

Konten postingan

Satu hari lagi.

Satu hari lagi sebelum angka yang tadinya hanya terasa seperti hitungan kecil berubah menjadi satu bulan penuh cerita tentang kita.

Aku jadi ingin berhenti sebentar di sini.

Di hari kedua puluh sembilan.

Bukan karena aku ingin waktu berjalan lebih lambat, tapi karena tiba-tiba aku sadar betapa banyak hal yang sudah kita lewati sejak hari pertama.

Dulu kita baru mulai.

Masih ada deg-degan yang aneh setiap kali menyebut status kita. Masih ada rasa malu yang muncul tiba-tiba. Masih ada banyak hal yang belum kita tahu tentang satu sama lain.

Sekarang?

Entah sejak kapan kamu menjadi salah satu nama yang paling sering muncul di pikiranku.

Khail, mungkin aku tidak bisa mengingat semua detail dari dua puluh sembilan hari ini.

Mungkin nanti ada percakapan yang terlupakan. Ada candaan yang tidak lagi kita ingat. Ada hari yang terasa biasa saja.

Tapi aku ingin percaya bahwa perasaan yang ditinggalkan semuanya akan tetap tinggal.

Rasa senang ketika menemukanmu. Rasa nyaman ketika berbicara denganmu. Rasa ingin berbagi cerita. Rasa ingin tahu tentang harimu.

Hal-hal kecil itu mungkin tidak pernah masuk ke kalender.

Tapi mereka ada di dalam hati.

Kalau perjalanan kita adalah laut, maka dua puluh sembilan hari ini adalah dua puluh sembilan ombak yang sudah sampai di pantai.

Ada yang tenang. Ada yang ramai. Ada yang datang membawa tawa. Ada yang mungkin membawa sedikit hujan.

Tapi semuanya sudah menjadi bagian dari perjalanan.

Dan besok, ombak berikutnya akan datang.

Ombak yang ke tiga puluh.

Satu bulan.

Aku tidak tahu apakah satu bulan cukup untuk menyebut sebuah cerita panjang.

Mungkin belum.

Tapi cukup untuk membuatku bersyukur karena cerita ini dimulai.

Cukup untuk membuatku tahu bahwa aku senang berjalan bersamamu.

Cukup untuk membuatku ingin melihat halaman berikutnya.

Selamat hari kedua puluh sembilan, Khail.

Besok kita tidak hanya menghitung satu angka lagi.

Besok kita akan menoleh sebentar ke belakang dan melihat tiga puluh hari yang sudah kita isi dengan tawa, cerita, rasa sayang, dan semua hal kecil yang hanya menjadi milik kita.

Tapi malam ini—

biarkan aku menyimpan satu kalimat kecil:

aku tidak sabar bertemu dengan hari esok.

Bukan hanya karena besok adalah satu bulan.

Tapi karena aku tahu,

di hari esok masih ada kamu.

Dan selama masih ada kamu di halaman berikutnya,

aku tidak keberatan terus membaca.