Hari ini hari kedua puluh tiga.
Dua puluh tiga hari yang lalu, mungkin aku tidak pernah menyangka satu keputusan kecil bisa membawa begitu banyak cerita ke dalam hidupku.
Sekarang, setiap angka punya kenangannya sendiri.
Hari pertama dengan deg-degannya. Hari-hari setelahnya dengan tawa dan cerita kecil. Lalu hari kedua puluh tiga ini, dengan satu kesadaran sederhana:
aku masih senang menemukanmu.
Khail, mungkin itulah hal yang paling kusukai dari mencintaimu. Setiap hari tidak selalu membawa sesuatu yang besar, tapi selalu ada bagian kecil darimu yang berhasil membuatku berhenti sebentar dan tersenyum.
Kadang dari pesanmu. Kadang dari candaanmu. Kadang bahkan hanya karena aku tiba-tiba ingat sesuatu tentangmu.
Lucu, ya?
Seseorang bisa begitu jauh dari jangkauan tangan, tapi begitu dekat di pikiran.
Seperti laut yang luas—tidak selalu bisa kita datangi, tapi selalu bisa kita pandangi dan rasakan keberadaannya.
Begitulah kamu di hariku.
Tidak harus selalu ada setiap detik untuk tetap terasa dekat.
Dua puluh tiga hari ini juga membuatku belajar bahwa mencintai seseorang bukan tentang membuat setiap hari menjadi sempurna. Kadang cukup membuat hari yang biasa terasa sedikit lebih hangat.
Dan kamu selalu punya cara untuk melakukan itu.
Aku suka kita yang seperti sekarang.
Masih bisa saling bercanda. Masih bisa saling ganggu. Masih bisa tiba-tiba menjadi manis setelah lima menit sebelumnya sibuk menyebalkan satu sama lain.
Sederhana.
Tapi menyenangkan.
Kalau dua puluh tiga hari ini adalah sebuah perjalanan, aku tidak ingin terburu-buru melihat ujungnya. Aku ingin menikmati jalan kecilnya satu per satu.
Hari ini. Besok. Lusa.
Sampai angka-angka itu tidak lagi terasa penting karena yang tersisa hanyalah semua cerita yang pernah kita buat.
Selamat hari kedua puluh tiga, Khail.
Hari ini aku masih menemukanmu di banyak hal kecil.
Dan ternyata, setelah dua puluh tiga hari,
aku masih suka sekali ketika dunia membawaku kembali kepadamu.
Jadi mari lanjutkan satu halaman lagi.
Besok kita bertemu di hari ke dua puluh empat.
Dan seperti biasa—
aku masih ingin menulisnya bersamamu.