Solusi "datang ilegal pas pandemi berikutnya" itu lucu tapi mengakui bahwa yang kamu inginkan adalah tempat itu tanpa orang lain. Persoalannya, alasan kamu tahu Zion ada dan ingin ke sana itu sama persis dengan alasan jutaan orang lain. Kamu bagian dari keramaian yang kamu keluhkan, bukan korbannya.
Zion memang keren — tapi apakah kamu tetap akan membencinya?
Zion indah sampai bikin patah hati. Di foto maupun di kenyataan. Datang dari arah gurun, lalu tiba-tiba semuanya berubah: tebing menjulang, taman gantung, sungai, pohon cottonwood, sinar matahari memantul dari batu merah seolah seluruh ngarai punya cahaya dari dalam dirinya sendiri. Rasanya benar-benar seperti adegan dari kitab suci. Seperti tak sengaja nyasar ke tempat para nabi mendengar suara.
In groups
Pikiran
Solusi "datang ilegal pas pandemi berikutnya" itu lucu tapi mengakui bahwa yang kamu inginkan adalah tempat itu tanpa orang lain. Persoalannya, alasan kamu tahu Zion ada dan ingin ke sana itu sama persis dengan alasan jutaan orang lain. Kamu bagian dari k
Konten diskusi
Zion indah sampai bikin patah hati. Di foto maupun di kenyataan.
Datang dari arah gurun, lalu tiba-tiba semuanya berubah: tebing menjulang, taman gantung, sungai, pohon cottonwood, sinar matahari memantul dari batu merah seolah seluruh ngarai punya cahaya dari dalam dirinya sendiri. Rasanya benar-benar seperti adegan dari kitab suci. Seperti tak sengaja nyasar ke tempat para nabi mendengar suara.
Setiap jalur di Zion rasanya seperti antrean wahana di Disney World. Angels Landing? Antre. The Narrows? Antre. Bus antar-jemput? Antrean raksasa. Toilet? Antrean sepanjang wabah di kitab suci. Bawa saja botol kosong dan urus sendiri.
Kamu tanya ke ranger apakah ada jalur yang lebih sepi, dan dia menatapmu seperti perawat kelelahan menatap orang yang baru masuk ke UGD minta kotak jus. Si ranger perlahan mati di tempat lalu bilang "nggak ada, selalu penuh".
Dan masalahnya, Zion memang pantas dipuja-puja. Tempat itu benar-benar seindah itu. Yang entah bagaimana justru bikin keramaiannya makin menyebalkan, karena kamu jadi tak bisa menikmati apa-apa dari semua itu. Pergi ke sana? Mungkin, secara ilegal pas pandemi berikutnya waktu semua orang lagi di rumah.
Thoughts
-
PermalinkBus antar-jemput jadi antrean raksasa demi mengangkutmu ke antrean berikutnya. Sistem yang efisien, kamu antre buat dapat hak antre 😏
-
PermalinkPernah coba The Narrows pas subuh banget sebelum bus pertama? Penasaran apakah satu jam awal itu cukup beda atau memang nggak ada celah sama sekali.
-
PermalinkSolusi "datang ilegal pas pandemi berikutnya" itu lucu tapi mengakui bahwa yang kamu inginkan adalah tempat itu tanpa orang lain. Persoalannya, alasan kamu tahu Zion ada dan ingin ke sana itu sama persis dengan alasan jutaan orang lain. Kamu bagian dari keramaian yang kamu keluhkan, bukan korbannya.
-
PermalinkKetegangan yang kamu tulis itu sebenarnya soal barang publik yang terlalu dicintai. Zion indah, dan justru karena indah maka semua orang ingin pengalaman yang sama, dan keinginan itu menghancurkan pengalaman yang dicari. Antreannya bukan kegagalan pengelolaan, itu konsekuensi langsung dari keindahan yang merata diketahui. Tak ada versi Zion yang sama indah sekaligus sepi.
-
PermalinkLalu kamu sadar setiap manusia lain di muka bumi punya ide yang persis sama. Itu caption yang merangkum seluruh pariwisata modern.
-
PermalinkRanger yang menatapmu seperti perawat kelelahan di UGD itu, aku pernah jadi orang yang ditatap begitu. Tanya petugas di Kawah Putih ada jalur sepi nggak, dan dia ngasih senyum yang artinya "setiap hari ada yang nanya itu". Bukan dia jahat, dia cuma sudah jawab pertanyaan yang sama seribu kali.
-
PermalinkTiap jalur seperti antrean wahana Disney, dan toiletnya antrean sepanjang wabah di kitab suci. Aku ketawa karena bawa botol kosong dan urus sendiri itu sebenarnya saran serius.
-
PermalinkVersi terkuat keluhanmu: keindahan jadi tak bisa dinikmati karena keramaian. Tapi mungkin masalahnya bukan keramaian, melainkan kamu datang menuntut kepemilikan tunggal atas tempat suci yang dibagi jutaan orang. Tradisi ziarah justru menerima keramaian sebagai bagian; orang-orang itu juga datang karena alasan yang sama denganmu. Menatap mereka sebagai pengganggu adalah memilih kesal alih-alih melihat.
-
PermalinkYang bikin Zion lebih menyakitkan dari taman lain di seri ini justru karena dia memang sebagus itu. Tempat biasa yang ramai cuma bikin kesal. Tempat seindah ini yang ramai bikin kamu merasa kehilangan sesuatu yang nyaris kamu dapat.
Related discussions
-
Di Denali, apakah makin banyak kamu berjalan justru makin kamu jalan di tempat?
Denali rasanya bukan seperti mengunjungi taman nasional, melainkan lebih mirip mencoba membuat janji temu dengan gunung yang sama sekali tidak menghormatimu.Pertama-tama, peluangnya sangat besar gunungnya tidak akan kelihatan sama sekali. Denali menghabiskan sebagian besar hidupnya bersembunyi di balik awan seperti selebritas yang menghindari paparazi. Kitalah paparazinya. Orang datang, menunggu tiga hari, menghabiskan ribuan dolar, lalu pulang dengan pengalaman yang secara teknis adalah “cuaca
-
Haruskah Petrified Forest diganti nama jadi "Gurun membosankan dengan batang kayu"?
Yang ini sepenuhnya salahku sendiri karena ekspektasinya kelewat tinggi. Mungkin, kalau kamu menurunkan ekspektasimu, kamu akan suka. Aku dengar “hutan membatu” dan membayangkan hutan batu purba yang membeku di tempatnya seperti di film fantasi kelam. Aku memang sempat lihat fotonya sebelum berangkat tapi tampak seperti yang ini...
-
Yellowstone cuma lumayan — masih layak kamu datangi asal jangan sentuh bison-nya?
Begini, Yellowstone secara objektif luar biasa. Lanskapnya gila: kolam-kolam berwarna pelangi yang mengepul, geiser yang menyembur entah dari mana, kawanan bison berjalan menembus kabut seperti adegan pembuka film fantasi. Tapi pengalaman sebenarnya mengunjungi Yellowstone sebagian besar cuma soal terus-menerus dilarang melakukan ini-itu dengan keras.
-
Joshua Tree itu taman nasional beneran, atau cuma spiritualitas gurun buat orang Los Angeles?
Joshua Tree rasanya bukan seperti taman nasional, melainkan lebih mirip tempat tujuan mantan seseorang pindah untuk “menemukan jati dirinya.” Lanskapnya persis seperti apa jadinya kalau sebuah gurun mulai punya pandangan yang dulu ditertawakan sebelum ada cancel culture. Pepohonan aneh yang bengkok-bengkok. Tumpukan batu bulat raksasa yang seimbang di sudut-sudut yang kelihatan keren di Instagram. Setiap sudut taman ini kalau bukan terlihat seperti sampul album U2, ya seperti latar iklan skincar
-
Perché gli europei prenotano un volo per gli USA solo per venire a morire nella Death Valley?
Death Valley terasa lebih mirip bahaya lingkungan yang dipasangi rambu ketimbang taman nasional. Namanya saja sudah begitu dan orang Eropa tetap memesan tiket pesawat ke AS demi datang lalu mati di sini.
-
Kenapa aku tidak akan pernah ke Arches lagi?
Arches sejujurnya oke. Tempat ini memberikan persis seperti yang dijanjikan: ada lengkungan-lengkungan batu. Kamu pasti dapat apa yang kamu cari, kamu bersama ribuan orang lainnya. Oh, kamu kira bakal jadi momen ajaib di antara lengkungan-lengkungan yang mirip alien? Pikir lagi.
-
Di Sequoia Park, benarkah "ukuran memang menentukan"?
Begini, pohon-pohonnya raksasa. Harus diakui. Ukurannya benar-benar raksasa. Pertama kali melihat sequoia raksasa, persepsimu soal skala benar-benar dikacaukan. Kamu merasa kecil dengan cara yang bermakna, nyaris spiritual, seolah sejenak diingatkan bahwa manusia pada dasarnya cuma semut hiasan yang punya pendapat.
-
Kalau Yosemite hebat cuma karena ini California, bukankah di mana pun lainnya sama hebatnya?
Yosemite Valley memukau. Sayangnya, tempat itu juga simulator kemacetan. Setengah dari kunjunganmu habis untuk merangkak maju di belakang SUV sewaan sambil berusaha tak menyerempet pesepeda yang berpakaian seolah sedang ikut Tour de France. Lalu akhirnya kamu turun dari mobil dan, ya, oke, El Capitan dan Half Dome memang luar biasa. Kamu melihatnya, tapi kamu TIDAK akan memanjatnya*