Dulu saya pikir saya paham apa yang sedang saya ikuti. Bukan secara buta dan penuh pemujaan, tapi dalam arti ada konsistensi yang kasar di dalamnya. Pasar bebas, perdagangan bebas, pemerintahan yang kecil. Penghormatan pada institusi, tanggung jawab pribadi, kecurigaan terhadap kekuasaan yang terpusat, apalagi kalau munculnya di Washington. Masih ingat itu? Kamu tidak harus setuju dengan setiap posisi, tapi setidaknya kamu bisa mengenali bentuk ideologinya.
Lalu Trump datang dan bagian anehnya bukan cuma soal apa yang berubah. Tapi soal betapa banyak orang yang ngotot bahwa tidak ada yang berubah sama sekali.
Dari perdagangan bebas ke tarif sebagai patriotisme
Dulu Partai Republik memperlakukan perdagangan bebas sebagai akal sehat. Tarif itu yang dilakukan ekonomi-ekonomi buruk, yang dilakukan kaum komunis. Trump menyebut tarif itu “indah” dan tiba-tiba proteksionisme berubah jadi semacam nasionalisme ekonomi, sebuah tanda kebanggaan. Made in America! Banyak orang Republik yang dulu bicara soal pasar dengan keseriusan hampir religius kini membela tarif sebagai alat tekan atau hukuman untuk pesaing asing.
Prinsipnya tidak hilang, ia hanya dikemas ulang sebagai ketegasan. Bukankah kita yang dulu mendorong perdagangan global? Tarif itu dulu yang dilakukan kaum komunis untuk menjaga pasar dan industri mereka yang payah agar tetap bertahan dan tidak dilahap raksasa-raksasa kapitalis dunia. Ingat? Bukankah kita bukan pihak yang membangun tembok untuk mengurung orang? Ya, kita juga bukan pihak yang butuh tarif.
Pemerintahan yang kecil???
Untuk waktu yang lama, Partai Republik memperlakukan perdagangan bebas sebagai literasi ekonomi paling dasar. Kamu tidak harus mencintai globalisme, tapi tarif itu yang dilakukan negara-negara tidak efisien ketika kehabisan ide. Lalu Trump menyebut tarif itu “indah,” dan partai... ya menerimanya begitu saja.
Tiba-tiba tarif itu kekuatan. Tarif itu alat tekan. Tarif itu patriotisme. Dan siapa pun yang menunjukkan bahwa ini bertentangan dengan ortodoksi konservatif selama beberapa dekade malah dibilang merekalah yang selama ini salah paham soal konservatisme. Ini bukan sekadar pergeseran kebijakan. Ini seperti menyaksikan sebuah kata berubah makna sementara semua orang berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Defisit berhenti menakutkan
Dulu Partai Republik memperlakukan utang dan defisit seperti kebakaran besar. Saya dulu tidak sepenuhnya setuju dengan itu. Tapi di bawah pengeluaran era Trump dan stimulus COVID, kekhawatiran soal pengeluaran konservatif itu lenyap. Gerakan yang sama yang dulu membingkai tanggung jawab fiskal sebagai keutamaan inti kini menganggap defisit bisa ditoleransi asalkan pengeluarannya cocok dengan momen politik.
Sekarang ia lebih jadi bahan retorika ketimbang prinsip, yang muncul cuma ketika partai lawan yang berkuasa.
Politik moral jadi lebih lentur
Dulu politik evangelis menekankan moralitas pribadi dalam kepemimpinan. Tidak sempurna, tidak selalu adil, tapi itu bagian dari identitasnya. Naiknya Trump membuka sesuatu yang tidak nyaman. Standarnya bukan sekadar turun, ia menyesuaikan diri sepenuhnya untuk memaafkannya.
Perilaku yang di era Republik sebelumnya akan menamatkan karier politik kini berubah jadi sesuatu yang dicarikan konteks, dimaafkan, atau cukup tidak lagi disebut-sebut. Yang penting justru kesesuaian soal hakim, kebijakan, dan konflik budaya. Sulit untuk tidak merasa bahwa moralitas tidak lagi jadi gerbang. Ia jadi bahan retorika yang bisa dipakai atau diabaikan tergantung situasi. Bukankah kita dulu membanggakan diri sebagai moral majority?
Institusi pemerintah yang membantu kita memenangkan perang dingin kini... mencurigakan?
Dulu Partai Republik sangat bersandar pada penegakan hukum dan institusi federal. FBI, badan-badan intelijen, dan pengadilan memang tidak sempurna, tapi secara umum sah. Itu pun berubah. Kini institusi-institusi yang sama sering dianggap mencurigakan ketika menghasilkan keputusan yang bertabrakan dengan harapan politik. Kepercayaan tidak lagi didasarkan pada apa institusi itu, tapi pada apa yang sedang dilakukannya pada momen tertentu. Ini melahirkan semacam skeptisisme selektif yang dulu tak terbayangkan di versi-versi awal gerakan ini
Pergeseran terbesar yang mengejutkan saya
Yang satu ini masih terasa seperti kapsul waktu yang isinya teracak. Dulu Partai Republik bicara soal Rusia dengan semacam kepastian warisan Perang Dingin. Uni Soviet runtuh di masa George H. W. Bush, dan itu pencapaian besar. Ada masa yang panjang ketika “bersikap keras pada Rusia” bahkan bukan soal partisan. Sudah jadi anggapan bahwa kekuatan Amerika berarti tidak gentar menghadapi Moskow. Bahkan sampai tahun-tahun Obama, kaum konservatif tanpa henti mengejeknya karena dianggap “lembek” atau “naif” soal Rusia. John McCain, khususnya, memperlakukan agresi Rusia sebagai sesuatu yang harus dilawan dengan lantang dan tanpa keraguan. Gagasan bahwa orang Republik suatu saat akan terdengar lebih lunak daripada Demokrat soal Moskow rasanya mustahil.
Lalu Trump masuk ke dunia politik dan nadanya bergeser dengan cara yang sampai sekarang sulit dipahami. Alih-alih skeptis terhadap Rusia, sering kali malah ada keengganan untuk mengkritiknya sama sekali. Alih-alih curiga secara otomatis, justru ada pujian berulang untuk “kekuatan” Putin. Alih-alih memperlakukan campur tangan Rusia sebagai tindakan permusuhan, responsnya sering melenceng jadi pengalihan, peremehan, atau terang-terangan menentang penilaian intelijen AS.
Dan bagi banyak orang yang menonton dari kubu konservatif lama, kebingungannya bukan cuma soal kebijakan, tapi soal menyaksikan satu bagian inti identitas, yaitu “keras pada para tiran,” perlahan luruh jadi sesuatu yang jauh lebih lentur tergantung siapa yang sedang bicara. Bukan berarti ideologinya berubah pikiran dalam satu momen yang bersih. Ini lebih buruk dari itu. Ia berhenti bertingkah seakan punya posisi yang tetap sama sekali.
Ekonomi Republik tradisional dibangun di atas perdagangan bebas dan integrasi global, terutama dari era Reagan sampai awal 2000-an. Politik era Trump membingkai ulang tarif sebagai alat strategis dan simbol kekuatan nasional. Yang berubah bukanlah keberadaan proteksionisme, melainkan pembingkaian moralnya di dalam partai.
Konservatisme klasik menekankan pembatasan pemerintah di hampir semua bidang. Versi modernnya sering membedakan antara “pemerintah yang buruk” (kesejahteraan, regulasi terhadap sekutu) dan “pemerintah yang baik” (penegakan budaya, regulasi yang menghukum lawan). Prinsipnya jadi bersyarat, bukan universal.
Konservatisme fiskal secara historis memperlakukan defisit sebagai batasan utama dalam kebijakan. Dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah 2016, batasan itu melemah ketika pengeluaran melayani prioritas politik. Retorikanya masih ada, tapi diterapkan tidak merata tergantung partai mana yang berkuasa.
Keterlibatan politik evangelis di masa lalu sangat menekankan moralitas pribadi sebagai syarat kepemimpinan. Di era Trump, banyak pemilih mengutamakan penunjukan hakim, hasil kebijakan, dan kesesuaian partisan ketimbang perilaku pribadi. Ambang batas moralnya tidak hilang, tapi jadi kurang menentukan.
Dukungan konservatif terhadap institusi seperti FBI dan badan intelijen menjadi lebih bersyarat. Kepercayaan kini sangat bergantung pada kesesuaian politik yang dirasakan, bukan semata pada peran institusinya, menandai pergeseran dari loyalitas institusional bawaan ke skeptisisme selektif.
Ilmuwan politik sering menyebut ini sebagai elite cueing yang dipadukan dengan motivated reasoning. Dengan kata lain, banyak pemilih menyesuaikan preferensi kebijakan agar cocok dengan kepemimpinan politik yang mereka percaya, alih-alih menilai tiap isu secara mandiri.