Loading…

Masih adakah ideologi konservatif yang bisa dikenali di Partai Republik?

jefferson
Publik 6 percakapan 14 pikiran 156 suara positif 21 suara negatif 0 seri 263 penayangan

Dulu saya pikir saya paham apa yang sedang saya ikuti. Bukan secara buta dan penuh pemujaan, tapi dalam arti ada konsistensi yang kasar di dalamnya. Pasar bebas, perdagangan bebas, pemerintahan yang kecil. Penghormatan pada institusi, tanggung jawab pribadi, kecurigaan terhadap kekuasaan yang terpusat, apalagi kalau munculnya di Washington. Masih ingat itu? Kamu tidak harus setuju dengan setiap posisi, tapi setidaknya kamu bisa mengenali bentuk ideologinya.

In groups

Konten diskusi

Dulu saya pikir saya paham apa yang sedang saya ikuti. Bukan secara buta dan penuh pemujaan, tapi dalam arti ada konsistensi yang kasar di dalamnya. Pasar bebas, perdagangan bebas, pemerintahan yang kecil. Penghormatan pada institusi, tanggung jawab pribadi, kecurigaan terhadap kekuasaan yang terpusat, apalagi kalau munculnya di Washington. Masih ingat itu? Kamu tidak harus setuju dengan setiap posisi, tapi setidaknya kamu bisa mengenali bentuk ideologinya.

Lalu Trump datang dan bagian anehnya bukan cuma soal apa yang berubah. Tapi soal betapa banyak orang yang ngotot bahwa tidak ada yang berubah sama sekali.

Dari perdagangan bebas ke tarif sebagai patriotisme

Dulu Partai Republik memperlakukan perdagangan bebas sebagai akal sehat. Tarif itu yang dilakukan ekonomi-ekonomi buruk, yang dilakukan kaum komunis. Trump menyebut tarif itu “indah” dan tiba-tiba proteksionisme berubah jadi semacam nasionalisme ekonomi, sebuah tanda kebanggaan. Made in America! Banyak orang Republik yang dulu bicara soal pasar dengan keseriusan hampir religius kini membela tarif sebagai alat tekan atau hukuman untuk pesaing asing.

Prinsipnya tidak hilang, ia hanya dikemas ulang sebagai ketegasan. Bukankah kita yang dulu mendorong perdagangan global? Tarif itu dulu yang dilakukan kaum komunis untuk menjaga pasar dan industri mereka yang payah agar tetap bertahan dan tidak dilahap raksasa-raksasa kapitalis dunia. Ingat? Bukankah kita bukan pihak yang membangun tembok untuk mengurung orang? Ya, kita juga bukan pihak yang butuh tarif.

Pemerintahan yang kecil???

Untuk waktu yang lama, Partai Republik memperlakukan perdagangan bebas sebagai literasi ekonomi paling dasar. Kamu tidak harus mencintai globalisme, tapi tarif itu yang dilakukan negara-negara tidak efisien ketika kehabisan ide. Lalu Trump menyebut tarif itu “indah,” dan partai... ya menerimanya begitu saja.

Tiba-tiba tarif itu kekuatan. Tarif itu alat tekan. Tarif itu patriotisme. Dan siapa pun yang menunjukkan bahwa ini bertentangan dengan ortodoksi konservatif selama beberapa dekade malah dibilang merekalah yang selama ini salah paham soal konservatisme. Ini bukan sekadar pergeseran kebijakan. Ini seperti menyaksikan sebuah kata berubah makna sementara semua orang berpura-pura tidak terjadi apa-apa.

Defisit berhenti menakutkan

Dulu Partai Republik memperlakukan utang dan defisit seperti kebakaran besar. Saya dulu tidak sepenuhnya setuju dengan itu. Tapi di bawah pengeluaran era Trump dan stimulus COVID, kekhawatiran soal pengeluaran konservatif itu lenyap. Gerakan yang sama yang dulu membingkai tanggung jawab fiskal sebagai keutamaan inti kini menganggap defisit bisa ditoleransi asalkan pengeluarannya cocok dengan momen politik.

Sekarang ia lebih jadi bahan retorika ketimbang prinsip, yang muncul cuma ketika partai lawan yang berkuasa.

Politik moral jadi lebih lentur

Dulu politik evangelis menekankan moralitas pribadi dalam kepemimpinan. Tidak sempurna, tidak selalu adil, tapi itu bagian dari identitasnya. Naiknya Trump membuka sesuatu yang tidak nyaman. Standarnya bukan sekadar turun, ia menyesuaikan diri sepenuhnya untuk memaafkannya.

Perilaku yang di era Republik sebelumnya akan menamatkan karier politik kini berubah jadi sesuatu yang dicarikan konteks, dimaafkan, atau cukup tidak lagi disebut-sebut. Yang penting justru kesesuaian soal hakim, kebijakan, dan konflik budaya. Sulit untuk tidak merasa bahwa moralitas tidak lagi jadi gerbang. Ia jadi bahan retorika yang bisa dipakai atau diabaikan tergantung situasi. Bukankah kita dulu membanggakan diri sebagai moral majority?

Institusi pemerintah yang membantu kita memenangkan perang dingin kini... mencurigakan?

Dulu Partai Republik sangat bersandar pada penegakan hukum dan institusi federal. FBI, badan-badan intelijen, dan pengadilan memang tidak sempurna, tapi secara umum sah. Itu pun berubah. Kini institusi-institusi yang sama sering dianggap mencurigakan ketika menghasilkan keputusan yang bertabrakan dengan harapan politik. Kepercayaan tidak lagi didasarkan pada apa institusi itu, tapi pada apa yang sedang dilakukannya pada momen tertentu. Ini melahirkan semacam skeptisisme selektif yang dulu tak terbayangkan di versi-versi awal gerakan ini

Pergeseran terbesar yang mengejutkan saya

Yang satu ini masih terasa seperti kapsul waktu yang isinya teracak. Dulu Partai Republik bicara soal Rusia dengan semacam kepastian warisan Perang Dingin. Uni Soviet runtuh di masa George H. W. Bush, dan itu pencapaian besar. Ada masa yang panjang ketika “bersikap keras pada Rusia” bahkan bukan soal partisan. Sudah jadi anggapan bahwa kekuatan Amerika berarti tidak gentar menghadapi Moskow. Bahkan sampai tahun-tahun Obama, kaum konservatif tanpa henti mengejeknya karena dianggap “lembek” atau “naif” soal Rusia. John McCain, khususnya, memperlakukan agresi Rusia sebagai sesuatu yang harus dilawan dengan lantang dan tanpa keraguan. Gagasan bahwa orang Republik suatu saat akan terdengar lebih lunak daripada Demokrat soal Moskow rasanya mustahil.

Lalu Trump masuk ke dunia politik dan nadanya bergeser dengan cara yang sampai sekarang sulit dipahami. Alih-alih skeptis terhadap Rusia, sering kali malah ada keengganan untuk mengkritiknya sama sekali. Alih-alih curiga secara otomatis, justru ada pujian berulang untuk “kekuatan” Putin. Alih-alih memperlakukan campur tangan Rusia sebagai tindakan permusuhan, responsnya sering melenceng jadi pengalihan, peremehan, atau terang-terangan menentang penilaian intelijen AS.

Dan bagi banyak orang yang menonton dari kubu konservatif lama, kebingungannya bukan cuma soal kebijakan, tapi soal menyaksikan satu bagian inti identitas, yaitu “keras pada para tiran,” perlahan luruh jadi sesuatu yang jauh lebih lentur tergantung siapa yang sedang bicara. Bukan berarti ideologinya berubah pikiran dalam satu momen yang bersih. Ini lebih buruk dari itu. Ia berhenti bertingkah seakan punya posisi yang tetap sama sekali.

  1. Ekonomi Republik tradisional dibangun di atas perdagangan bebas dan integrasi global, terutama dari era Reagan sampai awal 2000-an. Politik era Trump membingkai ulang tarif sebagai alat strategis dan simbol kekuatan nasional. Yang berubah bukanlah keberadaan proteksionisme, melainkan pembingkaian moralnya di dalam partai.

  2. Konservatisme klasik menekankan pembatasan pemerintah di hampir semua bidang. Versi modernnya sering membedakan antara “pemerintah yang buruk” (kesejahteraan, regulasi terhadap sekutu) dan “pemerintah yang baik” (penegakan budaya, regulasi yang menghukum lawan). Prinsipnya jadi bersyarat, bukan universal.

  3. Konservatisme fiskal secara historis memperlakukan defisit sebagai batasan utama dalam kebijakan. Dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah 2016, batasan itu melemah ketika pengeluaran melayani prioritas politik. Retorikanya masih ada, tapi diterapkan tidak merata tergantung partai mana yang berkuasa.

  4. Keterlibatan politik evangelis di masa lalu sangat menekankan moralitas pribadi sebagai syarat kepemimpinan. Di era Trump, banyak pemilih mengutamakan penunjukan hakim, hasil kebijakan, dan kesesuaian partisan ketimbang perilaku pribadi. Ambang batas moralnya tidak hilang, tapi jadi kurang menentukan.

  5. Dukungan konservatif terhadap institusi seperti FBI dan badan intelijen menjadi lebih bersyarat. Kepercayaan kini sangat bergantung pada kesesuaian politik yang dirasakan, bukan semata pada peran institusinya, menandai pergeseran dari loyalitas institusional bawaan ke skeptisisme selektif.

  6. Ilmuwan politik sering menyebut ini sebagai elite cueing yang dipadukan dengan motivated reasoning. Dengan kata lain, banyak pemilih menyesuaikan preferensi kebijakan agar cocok dengan kepemimpinan politik yang mereka percaya, alih-alih menilai tiap isu secara mandiri.

Thoughts

  • was_was_bunga

    Satu koreksi kecil di bagian defisit. Lonjakan terbesar memang COVID, dan itu lintas partai, bukan ciri satu pihak. Stimulus besar disetujui ramai-ramai. Jadi kalau mau bukti ketidakkonsistenan, defisit COVID contoh yang lemah karena hampir semua orang ikut. Contoh yang lebih tajam adalah pemotongan pajak besar tanpa pemotongan belanja yang sepadan di tahun-tahun tenang. Di situ retorika hemat dan tindakannya jelas berpisah.

    Permalink
  • untuk_siapa

    Bagian terkuat tulisan ini adalah catatan kaki terakhir soal elite cueing plus motivated reasoning. Itu menjelaskan apa yang dilihat penulis tanpa harus menuduh jutaan orang munafik satu per satu. Posisi soal tarif, defisit, Rusia, semua bergerak karena pemimpin yang dipercaya bergerak dulu, lalu preferensi disesuaikan ke belakang. Yang penting: ini bukan cuma fenomena kanan. Mekanisme yang sama bekerja di mana saja loyalitas mendahului isu. Penulis hampir mengakui itu, tapi berhenti di tepi.

    Permalink
  • otak_template

    Polanya satu template doang dipasang ke lima isu: prinsip diumumkan suci, pemimpin melanggarnya, lalu yang nunjuk pelanggarannya disuruh dia yang "salah paham prinsipnya dari dulu". Tarif, defisit, moral, FBI, Rusia, sama persis. Begitu lihat formatnya, sisanya tinggal isi nama.

    Permalink
  • penjaga_nilai

    Bagian defisit yang berhenti menakutkan itu yang paling saya kenali. Saya sudah cukup tua untuk mendengar pidato "utang akan menenggelamkan cucu kita" diucapkan dengan wajah serius, lalu hening total begitu pengeluaran datang dari pihak sendiri. Soal makro, defisit besar di masa damai dan ekonomi tumbuh memang menanggung risiko nyata, soal inflasi dan harga uang ke depan. Yang menyebalkan bukan ada yang membela defisit, tapi kekhawatiran itu dinyalakan dan dipadamkan persis mengikuti siapa yang memegang kunci, bukan mengikuti angkanya.

    Permalink
  • kangen_warnet

    Aku ngerasa kayak nonton forum lama ganti aturan diam-diam. Dulu satu komunitas punya "prinsip" yang dipajang di pinned post, terus admin baru datang dan prinsipnya dipakai cuma buat nge-ban orang yang nggak disuka, bukan buat semua. Sama persis sama yang penulis omongin: aturannya nggak hilang, cuma jadi alat. Bedanya ini negara, bukan server Counter-Strike.

    Permalink
  • sumber_primer

    Soal pergeseran sikap terhadap Rusia, catatannya memang dramatis tapi perlu sedikit presisi. McCain sebagai garis keras itu benar, tapi "keras pada Moskow" bukan posisi Republik yang utuh dan stabil sepanjang Perang Dingin. Ada sayap realis dan isolasionis yang lama hidup di partai itu, Taft di akhir 1940-an menentang banyak komitmen luar negeri. Jadi nada baru itu bukan mutasi dari nol, melainkan sayap lama yang naik lagi ke permukaan. Tetap mengejutkan dari segi kecepatan, tapi sejarahnya tidak sebersih "dulu semua keras, sekarang semua lunak".

    Permalink
  • alasan_bersama

    Versi terkuat keberatan terhadap penulis kira-kira begini: "Setiap partai menyesuaikan kebijakan dengan keadaan; itu pragmatisme, bukan kemunafikan." Itu argumen yang serius dan harus dijawab, bukan diabaikan.

    Tapi penulis sebenarnya sudah menjawabnya, hanya tidak eksplisit. Keluhannya bukan bahwa posisi berubah. Keluhannya bahwa perubahan itu disangkal sambil terjadi, dan ukuran yang sama (defisit buruk, moral kepemimpinan penting) dipakai atau dibuang tergantung siapa yang berkuasa. Itu bukan pragmatisme. Pragmatisme mengakui ia menukar satu nilai demi nilai lain. Yang dikritik di sini adalah berpura-pura tak ada yang ditukar.

    Permalink
  • kontrarian_obligasi

    Soal tarif, saya kasih sedikit perlawanan dari sisi mekanisme. Bingkai "perdagangan bebas selalu akal sehat Republik" itu sendiri agak dipoles. Partai itu punya akar proteksionis yang panjang sejak abad ke-19, McKinley dan tarifnya bukan tokoh komunis. Jadi yang berubah bukan dari "prinsip suci pasar bebas" ke "pengkhianatan", melainkan koalisi yang menang di dalam partai bergeser lagi ke posisi lama. Itu memperkuat tesis penulis soal ketidakkonsistenan, tapi melemahkan dramanya: ini bukan kejatuhan dari kemurnian, ini ayunan yang sudah pernah terjadi.

    Permalink

Related discussions

  • Benarkah Amerika Serikat salah satu dari sedikit negara yang dibangun di atas sebuah argumen?

    Sebagian besar bangsa adalah fakta sebelum menjadi gagasan. Prancis sudah Prancis, dengan bahasanya, tanahnya, dan para leluhurnya yang telah tiada, jauh sebelum ada yang menuliskan untuk apa Prancis itu. Pendirian Amerika berjalan sebaliknya. Pada 1776 tidak ada rakyat Amerika dalam pengertian lama, tidak ada leluhur bersama, tidak ada gereja nasional, tidak ada ingatan seribu tahun, hanya sekumpulan koloni yang sedang berselisih dengan London dan, makin lama, juga di antara mereka sendiri. Yan

  • Cepat atau lambat, apakah giliranmu akan datang juga?

    Pada tahun 1850-an, gerakan nativis yang dominan di Amerika Serikat tersusun di sekitar permusuhan anti-Katolik dan anti-Irlandia. Kaum Know-Nothing berdalih bahwa imigran Katolik secara budaya tidak layak untuk pemerintahan-mandiri republik, setia pada kekuatan asing (Sri Paus), dan tidak mampu menjadi warga Amerika yang sejati. Menjelang tahun 1880-an, kecurigaan yang sama berpindah deras ke imigran Tiongkok. Menjelang tahun 1920-an, ia berpindah lagi ke orang Eropa selatan dan timur, terutama

  • Apakah bangsa Romawi sebenarnya jauh lebih progresif daripada yang kita kira?

    Ada tren umum di mana banyak laki-laki muda tertarik pada kekaisaran Romawi gara-gara film dan sejarah populer, lalu membayangkannya sebagai kekaisaran yang militeristik, sayap kanan, dan hipermaskulin yang hebat untuk laki-laki. Spartacus, Rome, Gladiator... dengan kadar berbeda-beda semuanya memberi kesan bahwa Roma adalah semacam budaya prajurit, kadang terbenam dalam dekadensi. Gladiator II membawa ini ke titik ekstrem yang konyol. Untuk film yang satu itu, saya menyarankan membaca kritik da

  • Apakah saat keemasan Britania sebenarnya adalah menjebol langit-langit yang membatasi setiap kehidupan sebelumnya?

    Selama hampir seluruh sejarah manusia, standar hidup tidak bergerak. Seorang petani di Galia Romawi, seorang petani di Inggris abad pertengahan, dan seorang petani di masa awal Stuart hidup pada taraf material yang kurang lebih sama, karena surplus apa pun yang dihasilkan sebuah masyarakat dilahap oleh mulut-mulut yang kemudian diberinya makan. Panen yang baik membeli lebih banyak bayi, bukan kehidupan yang lebih baik, dan populasi kembali merangkak ke tepi kelaparan. Para ekonom menyebut ini je

  • Apakah Kanada justru lebih baik karena melewatkan revolusinya sendiri?

    Sebagian besar bangsa mengingat satu pagi yang rela mereka bela sampai mati: sebuah Bastille, sebuah Boston, sebuah tembakan yang memulai segalanya. Kanada tidak punya pagi semacam itu, dan justru itu hal yang paling mudah terlewatkan tentangnya. Pada 1 Juli 1867 British North America Act mulai berlaku dan Dominion Kanada pun ada. Tidak ada deklarasi yang dibacakan di hadapan kerumunan, tidak ada pasukan yang harus dikalahkan, tidak ada raja yang digulingkan. Segelintir politikus kolonial, John

  • Benarkah masa teragung Italia justru lahir dari sebuah bencana politik?

    Kita memendam asumsi yang tak pernah diperiksa bahwa kebudayaan mengikuti kekuasaan, bahwa zaman keemasan sebuah seni adalah zaman keemasan tentaranya. Italia Renaisans membantahnya dengan rapi. Kira-kira antara abad keempat belas dan abad keenam belas, semenanjung itu melahirkan perspektif linear, humanisme, peradaban kuno yang dipulihkan, tatapan sekular, dan gagasan modern yang khas tentang individu. Ia juga gagal, sepenuhnya dan memalukan, pada satu tugas yang biasanya kita sebut ujian sebua

  • Apa benar orang dulu lebih bodoh dari kita?

    Ada kebiasaan dalam cara berpikir modern yang memperlakukan masa lalu seolah-olah ia keadaan setengah sadar, seakan-akan Abad Pencerahan-lah yang membangunkan kita. Masyarakat membayangkan peradaban kuno penuh sesak oleh takhayul, seolah keyakinan itu sendiri kurang terlatih sebelum sains modern datang menyelamatkannya. Ini cerita yang menghibur karena membuat masa kini terasa sebagai puncak intelektual, bukan sekadar susunan keterbatasan dan asumsi yang lain.

  • Benarkah monoteisme Katolik yang membuat alam semesta aman untuk dipelajari?

    Mudah saja menceritakan kisah sains sebagai pemutusan bersih dari agama. Pencerahan menggantikan takhayul, pengamatan menggantikan iman, akal menggantikan otoritas. Kedengarannya rapi, dan itu menyanjung asumsi-asumsi modern. Tetapi cerita itu melewatkan sesuatu yang lebih menarik dan, harus diakui, lebih tidak nyaman bagi narasi tersebut: gagasan bahwa alam semesta itu dapat dipahami sejak awal bukanlah hal yang terbukti dengan sendirinya. Itu sebuah klaim metafisik. Dan monoteisme Katolik adal