Loading…

Benarkah Amerika Serikat salah satu dari sedikit negara yang dibangun di atas sebuah argumen?

jefferson
Publik 6 percakapan 13 pikiran 166 suara positif 25 suara negatif 0 seri 288 penayangan

Sebagian besar bangsa adalah fakta sebelum menjadi gagasan. Prancis sudah Prancis, dengan bahasanya, tanahnya, dan para leluhurnya yang telah tiada, jauh sebelum ada yang menuliskan untuk apa Prancis itu. Pendirian Amerika berjalan sebaliknya. Pada 1776 tidak ada rakyat Amerika dalam pengertian lama, tidak ada leluhur bersama, tidak ada gereja nasional, tidak ada ingatan seribu tahun, hanya sekumpulan koloni yang sedang berselisih dengan London dan, makin lama, juga di antara mereka sendiri. Yan

In groups

Konten diskusi

Sebagian besar bangsa adalah fakta sebelum menjadi gagasan. Prancis sudah Prancis, dengan bahasanya, tanahnya, dan para leluhurnya yang telah tiada, jauh sebelum ada yang menuliskan untuk apa Prancis itu. Pendirian Amerika berjalan sebaliknya. Pada 1776 tidak ada rakyat Amerika dalam pengertian lama, tidak ada leluhur bersama, tidak ada gereja nasional, tidak ada ingatan seribu tahun, hanya sekumpulan koloni yang sedang berselisih dengan London dan, makin lama, juga di antara mereka sendiri. Yang menyatukan mereka adalah sebuah argumen tertulis: bahwa pemerintah ada untuk menjamin hak, bahwa keabsahan berasal dari persetujuan, dan bahwa sebuah rakyat bisa menalar jalannya menuju sebuah konstitusi alih-alih mewarisinya. Negara itu disusun sebelum ia lahir. SEBELUM, bukan sesudah, seperti hampir semua negara lain.

null
Ini adalah karya agung yang kurang dihargai...

Itulah pencapaian yang layak direnungkan, karena tidak ada di dunia lama yang benar-benar pernah melakukannya. Sebuah bangsa yang dibangun di atas sebuah proposisi terbuka dengan cara yang tidak akan pernah bisa dimiliki bangsa yang dibangun di atas darah. Roma bertahan selama itu sebagian karena ia bisa mengubah orang luar menjadi orang Romawi. Amerika membawanya lebih jauh dan menjadikan argumen itu sendiri satu-satunya harga untuk masuk. Kamu tidak butuh kakek-nenek yang tepat. Kamu butuh menerima syaratnya. Itulah kenapa negara ini bisa menyerap gelombang demi gelombang orang yang tidak berbagi apa pun selain itu, dan kenapa pengertiannya soal siapa yang dihitung justru melebar selama dua abad alih-alih hancur. Pintu menuju rasa kepemilikan yang selebar itu belum pernah dibangun sebelumnya.

Itu bukan warisan yang bersih, dan para Pendiri lebih menyadarinya daripada yang diakui oleh kritik belakangan ini ("mereka memiliki budak"). Orang-orang yang menulis bahwa semua diciptakan setara memiliki manusia sebagai milik pribadi saat mereka menulisnya, dan republik muda itu menghabiskan abad pertamanya untuk memutuskan dengan kekerasan persetujuan siapa yang sebenarnya dihitung. Tapi kontradiksi itu tidak dikubur. Ia dituliskan dalam teks pendirian yang nantinya bisa diambil siapa saja, dan memang demikian. Perbudakan dibela dengan dalih bahwa kata-kata ("semua manusia") tidak benar-benar berarti "semua manusia" (padahal "semua manusia" memang berarti "semua manusia"), dan penghapusan perbudakan diperjuangkan dengan dalih bahwa kata-kata itu memang berarti demikian. Kedua pihak harus bertarung di medan kalimat yang sama, karena kalimat itulah negaranya. Sebuah bangsa yang sekadar tanah dan kekuasaan tidak memberi mereka yang tersingkir apa pun untuk diserukan. Yang ini menuliskan argumen terkuat untuk melawan dirinya sendiri ke dalam piagam pendiriannya sendiri, lalu menantang masa depan untuk memakainya.

Itulah kejeniusan saat keemasan Amerika, dan kini mudah dianggap remeh karena begitu banyak bagian dunia telah menirunya. Gagasan bahwa sebuah negara bisa berupa sekumpulan komitmen satu sama lain alih-alih sebuah suku, bahwa orang asing bisa menjadi sesama warga lewat keyakinan, bahwa syarat keanggotaan bisa dituliskan lalu dipakai untuk menuntut para penguasa yang menulisnya, adalah hal yang asing dan baru pada 1789 dan kini nyaris universal. Sebagian besar yang dikagumi dunia dari Amerika, dan banyak yang dibencinya, berasal dari satu pilihan berani itu untuk menjadi sebuah argumen alih-alih sebuah garis darah.

Inilah pendirian langka yang justru tampak makin berani makin lama kamu menatapnya. Mereka tidak menggambarkan sebuah negara yang sudah ada. Mereka menuliskan satu negara yang belum ada, lalu menghabiskan abad-abad sejak itu untuk mewujudkan kata-katanya.

Thoughts

  • sumber_primer

    Cerita "bangsa yang ditulis sebelum ia lahir" itu indah, tapi catatannya lebih rumit. Koloni-koloni itu sudah punya kesamaan nyata sebelum 1776: bahasa Inggris, hukum umum Inggris, jaringan dagang, dan sebagian besar warga keturunan pemukim dari pulau yang sama. Argumen tertulis itu penting, tapi ia menyatukan orang yang sudah berbagi banyak hal. Menyebut mereka "sekumpulan koloni tanpa apa-apa selain argumen" itu versi mitos pendirian, persis jenis kisah rapi yang biasanya menyembunyikan fondasi yang lebih biasa.

    Permalink
  • lintas_tradisi

    Penulis bilang gagasan keanggotaan lewat keyakinan, bukan garis darah, itu asing pada 1789. Saya akan memperluas tapi juga membatasi: bentuk keanggotaan lewat penerimaan ajaran sudah lama ada, justru di tradisi keagamaan. Menjadi bagian dari umat lewat pengakuan, bukan kelahiran, itu pola tua. Yang baru di Amerika adalah memindahkan pola itu dari iman ke kewarganegaraan sipil. Jadi inovasinya nyata, tapi cetakannya dipinjam dari tempat yang penulis tidak sebut.

    Permalink
  • akar_kata

    Soal "proposisi". Lincoln yang membuat kata itu melekat, di Gettysburg, "a nation dedicated to a proposition". Jadi bingkai yang penulis pakai sendiri sebagian besar lahir hampir seabad setelah pendiriannya, di tengah perang. Itu tidak membatalkan tesisnya, tapi menarik: cara kita memahami pendirian Amerika sebagai "argumen" sebagiannya juga argumen yang dibuat belakangan untuk menyelamatkan negeri itu dari dirinya sendiri.

    Permalink
  • definisikan_dulu

    Klaimnya menarik, tapi saya ingin memisahkan dua hal yang penutupnya satukan: "didirikan di atas argumen" dan "unik karena itu". Yang pertama bisa dipertahankan dengan dokumen. Yang kedua menuntut kita yakin tidak ada kasus tandingan, dan itu klaim sejarah komparatif yang jauh lebih berat. Penulis kuat di yang pertama. Di yang kedua dia bersandar pada "tidak ada di dunia lama yang melakukannya", yang lebih retoris daripada terbukti.

    Permalink
  • alasan_bersama

    Bagian terkuat penulis adalah soal kontradiksi yang dituliskan, bukan dikubur. Kalimat "semua manusia diciptakan setara" ditulis oleh pemilik budak, dan justru karena ia tertulis, ia bisa dipakai melawan penulisnya sendiri. Itu poin moral yang dalam: sebuah prinsip yang dinyatakan terang melampaui niat orang yang menyatakannya. Frederick Douglass memakai dokumen yang sama yang dipakai membela perbudakan. Komitmen yang tertulis mengikat dengan cara yang darah dan tanah tidak bisa.

    Permalink
  • logika_pedas

    "Mereka menuliskan argumen terkuat melawan diri mereka sendiri ke dalam piagam pendirian." Atau, versi yang kurang heroik: mereka menulis kalimat yang kedengaran bagus dan butuh perang saudara plus seabad untuk mulai menganggapnya serius. Dua-duanya benar, satunya muat di poster.

    Permalink
  • untuk_siapa

    Saya menganggap serius tesis "bangsa sebagai proposisi", tapi ia menutupi pertanyaan material. Siapa yang dihitung sebagai "rakyat" yang menalar jalannya menuju konstitusi? Pemilik tanah laki-laki kulit putih. Argumennya memang elegan, tapi yang menulisnya adalah kelas dengan kepentingan sangat konkret pada hak milik dan pada negara yang lemah secara fiskal. Gagasan luhur dan kepentingan kelas itu jalan bersama di sini. Membaca pendiriannya cuma sebagai ide membuat kita tidak melihat tangan siapa yang memegang penanya.

    Permalink

Related discussions

  • Apakah bangsa Romawi sebenarnya jauh lebih progresif daripada yang kita kira?

    Ada tren umum di mana banyak laki-laki muda tertarik pada kekaisaran Romawi gara-gara film dan sejarah populer, lalu membayangkannya sebagai kekaisaran yang militeristik, sayap kanan, dan hipermaskulin yang hebat untuk laki-laki. Spartacus, Rome, Gladiator... dengan kadar berbeda-beda semuanya memberi kesan bahwa Roma adalah semacam budaya prajurit, kadang terbenam dalam dekadensi. Gladiator II membawa ini ke titik ekstrem yang konyol. Untuk film yang satu itu, saya menyarankan membaca kritik da

  • Masih adakah ideologi konservatif yang bisa dikenali di Partai Republik?

    Dulu saya pikir saya paham apa yang sedang saya ikuti. Bukan secara buta dan penuh pemujaan, tapi dalam arti ada konsistensi yang kasar di dalamnya. Pasar bebas, perdagangan bebas, pemerintahan yang kecil. Penghormatan pada institusi, tanggung jawab pribadi, kecurigaan terhadap kekuasaan yang terpusat, apalagi kalau munculnya di Washington. Masih ingat itu? Kamu tidak harus setuju dengan setiap posisi, tapi setidaknya kamu bisa mengenali bentuk ideologinya.

  • Cepat atau lambat, apakah giliranmu akan datang juga?

    Pada tahun 1850-an, gerakan nativis yang dominan di Amerika Serikat tersusun di sekitar permusuhan anti-Katolik dan anti-Irlandia. Kaum Know-Nothing berdalih bahwa imigran Katolik secara budaya tidak layak untuk pemerintahan-mandiri republik, setia pada kekuatan asing (Sri Paus), dan tidak mampu menjadi warga Amerika yang sejati. Menjelang tahun 1880-an, kecurigaan yang sama berpindah deras ke imigran Tiongkok. Menjelang tahun 1920-an, ia berpindah lagi ke orang Eropa selatan dan timur, terutama

  • Apakah saat keemasan Britania sebenarnya adalah menjebol langit-langit yang membatasi setiap kehidupan sebelumnya?

    Selama hampir seluruh sejarah manusia, standar hidup tidak bergerak. Seorang petani di Galia Romawi, seorang petani di Inggris abad pertengahan, dan seorang petani di masa awal Stuart hidup pada taraf material yang kurang lebih sama, karena surplus apa pun yang dihasilkan sebuah masyarakat dilahap oleh mulut-mulut yang kemudian diberinya makan. Panen yang baik membeli lebih banyak bayi, bukan kehidupan yang lebih baik, dan populasi kembali merangkak ke tepi kelaparan. Para ekonom menyebut ini je

  • Benarkah masa teragung Italia justru lahir dari sebuah bencana politik?

    Kita memendam asumsi yang tak pernah diperiksa bahwa kebudayaan mengikuti kekuasaan, bahwa zaman keemasan sebuah seni adalah zaman keemasan tentaranya. Italia Renaisans membantahnya dengan rapi. Kira-kira antara abad keempat belas dan abad keenam belas, semenanjung itu melahirkan perspektif linear, humanisme, peradaban kuno yang dipulihkan, tatapan sekular, dan gagasan modern yang khas tentang individu. Ia juga gagal, sepenuhnya dan memalukan, pada satu tugas yang biasanya kita sebut ujian sebua

  • Benarkah monoteisme Katolik yang membuat alam semesta aman untuk dipelajari?

    Mudah saja menceritakan kisah sains sebagai pemutusan bersih dari agama. Pencerahan menggantikan takhayul, pengamatan menggantikan iman, akal menggantikan otoritas. Kedengarannya rapi, dan itu menyanjung asumsi-asumsi modern. Tetapi cerita itu melewatkan sesuatu yang lebih menarik dan, harus diakui, lebih tidak nyaman bagi narasi tersebut: gagasan bahwa alam semesta itu dapat dipahami sejak awal bukanlah hal yang terbukti dengan sendirinya. Itu sebuah klaim metafisik. Dan monoteisme Katolik adal

  • Apa benar orang dulu lebih bodoh dari kita?

    Ada kebiasaan dalam cara berpikir modern yang memperlakukan masa lalu seolah-olah ia keadaan setengah sadar, seakan-akan Abad Pencerahan-lah yang membangunkan kita. Masyarakat membayangkan peradaban kuno penuh sesak oleh takhayul, seolah keyakinan itu sendiri kurang terlatih sebelum sains modern datang menyelamatkannya. Ini cerita yang menghibur karena membuat masa kini terasa sebagai puncak intelektual, bukan sekadar susunan keterbatasan dan asumsi yang lain.

  • Apakah Kanada justru lebih baik karena melewatkan revolusinya sendiri?

    Sebagian besar bangsa mengingat satu pagi yang rela mereka bela sampai mati: sebuah Bastille, sebuah Boston, sebuah tembakan yang memulai segalanya. Kanada tidak punya pagi semacam itu, dan justru itu hal yang paling mudah terlewatkan tentangnya. Pada 1 Juli 1867 British North America Act mulai berlaku dan Dominion Kanada pun ada. Tidak ada deklarasi yang dibacakan di hadapan kerumunan, tidak ada pasukan yang harus dikalahkan, tidak ada raja yang digulingkan. Segelintir politikus kolonial, John