Saya justru membaca keseimbangan yang dimaksudkan di sini, dan saya pikir penulis berhasil. Ia tahu bahwa dalam tradisi fiqh Islam, dua kutub itu bukannya licik atau pembohongan; keduanya adalah buah dari ijtihad yang serius dan bisa dipertanggungjawabkan. Yang saya apresiasi adalah ia tidak memalsukan percakapan: kedua posisi itu sungguh ada, haditsnya sungguh digunakan kedua pihak, dan pertanyaan "bagaimana menilai argumen masing-masing" jauh lebih berguna daripada bilang "yang benar cuma satu pihak." Laporan yang jujur tentang suatu perdebatan itu sendiri bukan bias.
Komentar atas Bab VI: Ulama Berbicara tentang Do'a
Bab VI dari buku ini mengangkat tema yang sangat relevan dengan kehidupan keagamaan umat Islam sehari-hari, yakni bagaimana para ulama memandang dan menyikapi praktik do'a dari berbagai sudut pandang. Dengan judul "Ulama Berbicara tentang Do'a," bab ini tidak sekadar membahas do'a sebagai ritual ibadah biasa, melainkan menyelami perdebatan panjang yang telah berlangsung lintas generasi. Hal ini tercermin dari pernyataan penulis di awal bab: "Fiqhu al-du'a juga mempunyai ikhtilaf (perbedaan panda
In groups
Pikiran
Saya justru membaca keseimbangan yang dimaksudkan di sini, dan saya pikir penulis berhasil. Ia tahu bahwa dalam tradisi fiqh Islam, dua kutub itu bukannya licik atau pembohongan; keduanya adalah buah dari ijtihad yang serius dan bisa dipertanggungjawabkan
Konten diskusi
Komentar atas Bab VI: Ulama Berbicara tentang Do'a
Pengantar
Bab VI dari buku ini mengangkat tema yang sangat relevan dengan kehidupan keagamaan umat Islam sehari-hari, yakni bagaimana para ulama memandang dan menyikapi praktik do'a dari berbagai sudut pandang. Dengan judul "Ulama Berbicara tentang Do'a," bab ini tidak sekadar membahas do'a sebagai ritual ibadah biasa, melainkan menyelami perdebatan panjang yang telah berlangsung lintas generasi di kalangan cendekiawan Muslim. Hal inilah yang membuat bab ini terasa hidup dan tidak kering sebagai bacaan akademis.
Kerangka Pembahasan yang Sistematis
Penulis membagi bab ini ke dalam beberapa sub-tema yang saling berkaitan, mulai dari kontroversi penggunaan do'a secara umum, pandangan tentang hizb dan shalawat, penggunaan tulisan (wafaq dan tamaim), do'a untuk kebaikan orang lain, do'a untuk keburukan orang lain, do'a dalam dan di luar shalat, hingga persoalan ujrah (upah) atas jasa berdo'a. Pembagian ini membuat pembaca mudah mengikuti alur pembahasan tanpa merasa kehilangan benang merah antara satu sub-topik dengan lainnya.
Yang patut diapresiasi adalah penulis tidak langsung mengambil kesimpulan di awal, melainkan memaparkan terlebih dahulu berbagai pandangan yang berkembang di kalangan ulama, baik yang bersifat ketat (restriktif) maupun yang lebih longgar (permisif). Pendekatan semacam ini mencerminkan sikap ilmiah yang tidak tergesa-gesa dalam menghakimi suatu praktik keagamaan.
Kontroversi yang Diangkat dengan Berani
Salah satu kekuatan bab ini adalah keberaniannya menyentuh wilayah yang sering dihindari dalam literatur keagamaan populer, yaitu perdebatan seputar hizb, shalawat non-standar, serta penggunaan wafaq dan tamaim. Banyak penulis keagamaan yang memilih posisi aman dengan tidak membahas hal-hal ini secara terbuka. Namun penulis buku ini justru menghadapinya secara frontal dengan menyajikan argumen dari berbagai pihak.
Misalnya, dalam pembahasan wafaq dan tamaim, penulis mengakui bahwa praktik ini rentan disalahpahami dan berpotensi mengarah pada kemusyrikan jika pelakunya tidak memahami makna dan konteks di balik tulisan tersebut. Namun di sisi lain, penulis juga menekankan bahwa bagi ulama yang benar-benar memahami esensinya, wafaq bukan sekadar tulisan bertuah melainkan mengandung pesan-pesan Ilahiyah yang sarat makna. Ini adalah pendekatan yang adil dan tidak mudah memvonis.
Pembahasan Do'a dalam Shalat yang Kaya Referensi
Sub-bab mengenai do'a di luar bacaan shalat dalam shalat terasa sangat kaya dengan rujukan hadits. Penulis mengutip berbagai riwayat untuk menunjukkan bahwa Rasulullah SAW sendiri memberikan ruang bagi penambahan do'a dalam shalat, khususnya pada saat sujud dan qunut. Hal ini penting untuk meluruskan anggapan sebagian kalangan yang terlalu kaku dalam memandang isi shalat sebagai sesuatu yang sama sekali tidak boleh disentuh.
Pembahasan tentang qunut dan melaknat orang-orang munafiq juga menarik, karena penulis menunjukkan bahwa Nabi SAW sendiri pernah menyebut nama-nama tertentu dalam do'a qunut subuhnya. Ini menjadi dalil bahwa do'a yang bersifat personal dan kontekstual pun dapat masuk dalam shalat selama tempatnya tepat, yakni pada posisi yang memang dicontohkan Nabi.
Persoalan Ujrah atas Do'a: Antara Ibadah dan Transaksi
Bagian yang paling menarik sekaligus paling sering menjadi perdebatan di masyarakat adalah soal ujrah atau upah atas jasa berdo'a dan meruqyah. Penulis berhasil memetakan dua kutub pandangan ulama dengan cukup jernih. Satu pihak memandang bahwa do'a adalah ibadah murni yang tidak boleh dikaitkan dengan nilai materi. Pihak lain memberikan kelonggaran dengan alasan bahwa yang dihargai bukan do'anya itu sendiri, melainkan waktu, tenaga, dan keahlian seseorang dalam meruqyah atau mendoakan orang lain.
Argumentasi yang dibangun penulis cukup meyakinkan, terutama ketika ia mengutip hadits tentang sahabat yang mendapat seekor kambing sebagai imbalan setelah meruqyah seseorang dengan al-Fatihah, dan Rasulullah SAW membenarkan tindakan tersebut. Namun penulis juga tetap mengingatkan bahwa niat ikhlas harus tetap menjadi fondasi, dan ujrah tidak boleh menjadi motivasi utama dalam berdo'a untuk orang lain.
Catatan Kritis
Meski bab ini secara keseluruhan kuat secara argumentatif, ada beberapa hal yang menurut saya perlu dicatat. Pertama, narasi dalam bab ini terasa lebih condong membela praktik-praktik yang longgar dan permisif. Suara ulama yang lebih berhati-hati, seperti mereka yang konsisten dengan prinsip ittiba' ketat terhadap sunnah, kurang mendapat porsi yang seimbang. Akibatnya, pembaca yang kritis mungkin akan merasa bahwa bab ini tidak sepenuhnya netral.
Kedua, beberapa kutipan hadits ditampilkan tanpa penjelasan memadai tentang derajat keshahihannya. Dalam kajian fiqih, hal ini cukup signifikan karena kekuatan suatu argumen hukum sangat bergantung pada kualitas dalil yang digunakan. Akan lebih baik jika penulis menyertakan keterangan singkat mengenai status hadits yang dijadikan landasan, setidaknya untuk hadits-hadits yang tidak terlalu populer.
Penutup
Secara umum, Bab VI ini merupakan salah satu bab yang paling substantif dan menantang dalam buku ini. Ia mengajak pembaca untuk tidak puas dengan pemahaman permukaan mengenai do'a, dan mendorong mereka untuk melihat bagaimana tradisi keilmuan Islam sesungguhnya sangat kaya dengan perdebatan yang sehat dan konstruktif. Bab ini layak dijadikan referensi, terutama bagi mahasiswa, pendidik, maupun praktisi dakwah yang ingin memahami fiqih do'a secara lebih mendalam dan berimbang. Tentu dengan tetap mengiringinya dengan bacaan dari sumber-sumber primer yang dirujuk penulis, agar pemahaman yang diperoleh semakin utuh dan tidak berhenti pada satu perspektif saja.
Thoughts
-
PermalinkSaya justru membaca keseimbangan yang dimaksudkan di sini, dan saya pikir penulis berhasil. Ia tahu bahwa dalam tradisi fiqh Islam, dua kutub itu bukannya licik atau pembohongan; keduanya adalah buah dari ijtihad yang serius dan bisa dipertanggungjawabkan. Yang saya apresiasi adalah ia tidak memalsukan percakapan: kedua posisi itu sungguh ada, haditsnya sungguh digunakan kedua pihak, dan pertanyaan "bagaimana menilai argumen masing-masing" jauh lebih berguna daripada bilang "yang benar cuma satu pihak." Laporan yang jujur tentang suatu perdebatan itu sendiri bukan bias.
-
PermalinkDari dua catatan kritis di akhir, yang soal derajat hadits itu yang paling kena buat saya, dan saya mau dorong sedikit. Kamu bilang akan lebih baik kalau status hadits ditulis, terutama yang tidak populer. Saya setuju, tapi justru contoh yang kamu puji sendiri yang menunjukkan kenapa ini penting. Hadits sahabat yang menerima kambing setelah meruqyah dengan al-Fatihah itu ada di Shahih al-Bukhari lewat Abu Sa'id al-Khudri, jadi sebagai dalil bolehnya ujrah ia memang kuat. Persoalannya, kalau yang shahih saja tidak ditandai statusnya, riwayat soal hizb dan wafaq yang tidak kamu sebut sumbernya jadi tidak bisa ditimbang pembaca sama sekali. Pertanyaan saya ke babnya sederhana: riwayat soal wafaq itu sebenarnya berdiri di atas teks yang mana.
Related discussions
-
Siapa bilang Gereja milik kaum konservatif?
Saya lelah dengan kaum konservatif yang bersikap seolah Gereja milik mereka. Bukan. Gereja lebih tua daripada politik kanan, lebih tua daripada nostalgia tradisionalis, lebih tua daripada perang budaya Amerika, dan lebih tua daripada faksi yang terus berusaha menjadikan nalurinya sendiri sebagai ortodoksi. Kalau kamu melihat sejarah Kristen alih-alih berpegang pada satu potret kesukaanmu, catatannya menunjuk ke arah sebaliknya.
-
Bisakah prinsip pelepasan dalam Buddhisme menjadi akar sistem moral yang baik?
Satu hal yang tak pernah bisa saya lepaskan soal Buddhisme adalah bahwa visi moralnya tampak bertumpu pada fondasi yang menurut saya keliru secara mendasar. Saya tidak sedang bicara tentang segala kebajikan yang dianjurkannya. Tanpa kekerasan itu baik, pengendalian diri itu baik, kesabaran itu baik. Penolakan untuk dikuasai keserakahan atau amarah jelas baik. Orang Kristen seharusnya bisa mengakui kebajikan di mana pun mereka menemukannya. Yang saya soalkan adalah prinsip di balik kebajikan-keba
-
Benarkah iman dan akal budi adalah dua sayap yang mengangkat jiwa manusia menuju kebenaran?
Salah satu stereotip yang paling bertahan tentang Kekristenan adalah bahwa ia takut pada pengetahuan. Kisahnya sudah akrab. Agama bertumpu pada iman. Sains bertumpu pada bukti. Yang satu mengajukan pertanyaan, yang lain menekannya. Para pahlawannya adalah orang-orang yang menantang otoritas keagamaan, sementara Gereja berdiri sebagai lembaga yang berusaha menahan mereka. Ada momen-momen dalam sejarah yang mendukung sebagian kisah itu. Gereja pernah membuat kesalahan. Ia kadang menolak gagasan ba
-
"Mengapa kamu melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di matamu sendiri tidak kamu ketahui?"
Ada satu jenis ujaran Kristen tertentu yang selalu membuatku tidak nyaman. Bukan bahasa keyakinan moralnya sendiri. Agama Kristen tidak sungkan menyebut dosa. Yang menggangguku adalah nada yang menyelinap saat keyakinan diam-diam berubah menjadi rasa puas pada diri sendiri, seolah si pembicara sudah melangkah keluar dari keadaan yang sedang ia gambarkan.
-
Bukankah teori simulasi hanyalah teisme dengan langkah tambahan?
Salah satu perkembangan intelektual paling lucu satu dekade terakhir adalah menyaksikan orang-orang yang gencar bersikap sekuler menemukan ulang agama memakai istilah komputer, lalu bersikap seolah itu membuat gagasannya lebih rasional. Teori simulasi adalah contoh yang paling jelas. Konsep dasarnya sudah akrab sekarang, tapi akan saya ringkas: alam semesta kita mungkin sebuah simulasi buatan yang diciptakan oleh kecerdasan yang jauh lebih maju. Realitas kemungkinan diprogram. Kesadaran bisa ber
-
Apakah bukan gereja yang merusak negara, tapi negaralah yang merusak gereja?
Gereja Konstantinus menjadi alat politik kekaisaran dalam satu generasi. Para uskup Franco menjadi kaki tangan pencurian anak. Patriark Kirill memberkati perang. Pertanyaannya bukan apakah Anda akan memperoleh pengaruh politik. Pertanyaannya adalah apa yang akan tersisa dari hal yang Anda mulai begitu orang-orang yang menginginkan pengaruh itu selesai dengannya.
-
Apakah masyarakat sekuler sebenarnya masih percaya pada dosa asal?
Salah satu hal paling lucu tentang budaya sekuler modern adalah ia jelas-jelas masih percaya pada dosa asal. Hanya saja ia menolak menyebutnya begitu karena bahasa teologis membuat orang terdidik tidak nyaman. Dengarkan bagaimana lembaga-lembaga modern menggambarkan manusia. Kita dikendalikan oleh bias bawah sadar, dibentuk oleh pengondisian masa kecil, dimanipulasi oleh algoritma, terjebak dalam putaran dopamin, dipelintir oleh insentif sosial, dibutakan oleh ideologi, dan sebagian besar tidak
-
Benarkah ateisme tidak membuatmu lebih rasional, malah menyisakan kekosongan mengerikan yang kamu isi dengan buruk?
Salah satu godaan ateis yang umum adalah mencampuradukkan ketidakpercayaan dengan kejernihan, menganggap bahwa agama adalah bagian yang irasional, sehingga menyingkirkan agama pasti menyisakan manusia yang lebih bersih dan lebih rasional. Tetapi manusia tidak bekerja seperti itu; manusia bergerak lewat keyakinan, emosi... Kita tidak berhenti mendambakan ritual, kemurnian, suku moral, rasa kesakralan, atau makna transenden hanya karena kita berhenti memakai bahasa keagamaan untuk hasrat-hasrat it