Loading…

Bisakah prinsip pelepasan dalam Buddhisme menjadi akar sistem moral yang baik?

LordMonroe
Publik 5 percakapan 11 pikiran 181 suara positif 20 suara negatif 0 seri 284 penayangan

Satu hal yang tak pernah bisa saya lepaskan soal Buddhisme adalah bahwa visi moralnya tampak bertumpu pada fondasi yang menurut saya keliru secara mendasar. Saya tidak sedang bicara tentang segala kebajikan yang dianjurkannya. Tanpa kekerasan itu baik, pengendalian diri itu baik, kesabaran itu baik. Penolakan untuk dikuasai keserakahan atau amarah jelas baik. Orang Kristen seharusnya bisa mengakui kebajikan di mana pun mereka menemukannya. Yang saya soalkan adalah prinsip di balik kebajikan-keba

In groups

Konten diskusi

Satu hal yang tak pernah bisa saya lepaskan soal Buddhisme adalah bahwa visi moralnya tampak bertumpu pada fondasi yang menurut saya keliru secara mendasar. Saya tidak sedang bicara tentang segala kebajikan yang dianjurkannya. Tanpa kekerasan itu baik, pengendalian diri itu baik, kesabaran itu baik. Penolakan untuk dikuasai keserakahan atau amarah jelas baik. Orang Kristen seharusnya bisa mengakui kebajikan di mana pun mereka menemukannya. Yang saya soalkan adalah prinsip di balik kebajikan-kebajikan itu.

Ketika orang Kristen diperintahkan untuk mengasihi sesamanya, perintah itu tidak berakar pada pelepasan. Ia berakar pada keterikatan dengan jenis yang sangat khusus. Kita seharusnya peduli pada apa yang menimpa orang lain dan mengikatkan diri pada kesejahteraan mereka. Orang Samaria yang baik hati tidak mencapai keunggulan moral dengan tetap tak terlibat secara emosional. Ia mencapainya dengan menghentikan perjalanannya, mengeluarkan uangnya, memikul tanggung jawab, dan menjadikan masalah orang lain sebagai masalahnya sendiri. Sebaliknya, banyak aliran Buddhisme mengajarkan bahwa penderitaan timbul dari keterikatan dan bahwa pertumbuhan rohani menuntut pembebasan darinya. Bahkan ketika para pemikir Buddhis bicara tentang welas asih, biasanya itu welas asih yang berdampingan dengan ketidakterikatan. Saya memahami logikanya. Saya hanya tidak yakin logika itu sanggup memikul seluruh beban kewajiban moral.

Ujian sebuah sistem moral bukanlah bagaimana ia bersikap saat seseorang sekadar jengkel atau tergoda oleh kemewahan benda. Ujiannya datang ketika kejahatan muncul dan menuntut jawaban. Bayangkan seorang warga Jerman pada 1942 yang tahu keluarga-keluarga Yahudi sedang diangkut pergi. Jawaban Kristen relatif lugas. Keluarga-keluarga itu adalah sesamanya. Penderitaan mereka menuntut sesuatu darinya, suka atau tidak. Ia dipanggil untuk terlibat, untuk mempertaruhkan sesuatu, mungkin segalanya. Yang sulit saya pahami adalah bagaimana kerohanian yang berlandaskan pelepasan bisa sampai pada kesimpulan yang sama. Orang yang menyembunyikan satu keluarga di loteng rumahnya sudah terjalin dalam nasib orang-orang asing. Ia begitu peduli pada apa yang menimpa mereka. Kebajikannya tampak tak terpisahkan dari keterikatan itu.

Masalah yang sama muncul pada skala yang lebih kecil.

Seorang ibu yang duduk di samping ranjang rumah sakit anaknya yang sekarat tidak terlepas dari apa yang akan terjadi. Memang seharusnya begitu. Kesediaannya untuk menderita bersama anaknya bukanlah kegagalan moral. Itu salah satu bentuk kesetiaan manusia yang tertinggi.

Para abolisionis yang menghabiskan puluhan tahun melawan perbudakan juga tidak terlepas dari hasilnya. Mereka mengorbankan karier, nama baik, kekayaan, dan kadang nyawa karena tidak sanggup memalingkan muka. Keagungan moral mereka tampak terikat erat pada keterikatan yang justru ingin dilonggarkan oleh banyak tradisi rohani.

Inilah salah satu alasan kekristenan selalu terasa lebih meyakinkan secara moral bagi saya. Ia tidak menyuruh saya melarikan diri dari dunia yang penuh kasih dan kehilangan. Ia menyuruh saya menatanya dengan benar. Para martir Kristen tidak terlepas dari Gereja. Para misionaris yang menyeberangi lautan dan mati di tanah asing tidak terlepas dari orang-orang yang mereka layani. Kristus sendiri adalah contoh yang paling jelas. Inkarnasi bukanlah kisah tentang pelepasan diri dari penderitaan manusia. Itu kisah tentang Allah yang MASUK ke dalam dunia. Salib bukanlah pelepasan, melainkan kasih yang membuat dirinya rentan.

Saya paham mengapa orang tertarik pada pelepasan. Ia menjanjikan damai di dunia yang penuh duka dan kekecewaan. Yang tak pernah meyakinkan saya adalah bahwa pelepasan bisa melahirkan kesetiaan yang gigih dan berbiaya mahal, yang berdiri di antara korban dan para penindasnya. Tanggung jawab tampaknya menuntut keterikatan. Kasih jelas menuntutnya. Dan saya pun yakin bahwa tanggung jawab adalah fondasi yang lebih kokoh bagi kehidupan moral daripada pelepasan, sekuat apa pun pelepasan itu.

Thoughts

  • latihan_tenang

    Saya pakai Stoa, sepupu jauh dari soal ini, dan saya kira kamu salah sasaran. Stoa juga sering dituduh dingin, tapi Epiktetos justru menyuruh menjalankan peranmu, ayah, tetangga, warga, dengan sepenuh tenaga.

    Yang dilepas itu ilusi bahwa hasilnya dalam kendalimu, bukan kepedulianmu. Abolisionis yang kamu puji itu bekerja puluhan tahun tanpa jaminan menang. Itu persis sikap yang dilatih: usaha penuh, hasil dilepas. Pelepasan dan kesetiaan gigih bukan berlawanan; yang pertama yang membuat yang kedua bertahan tanpa hancur.

    Permalink
  • lintas_tradisi

    Kamu memperlakukan "keterikatan" sebagai satu hal, padahal istilah Buddhisnya membedakan dua. Ada upādāna, mencengkeram yang melahirkan penderitaan, dan ada karuṇā, welas asih aktif. Tradisi itu menyuruh melepas yang pertama justru agar yang kedua bisa bekerja tanpa pamrih.

    Jadi pertentangan "tanggung jawab versus pelepasan" yang kamu bangun itu sebagian artefak penerjemahan. Di bahasa sumbernya, yang dilepas dan yang dipeluk itu dua kata yang berbeda. Perdebatannya lahir dari satu kata Indonesia memikul dua makna.

    Permalink
  • catatan_tomistik

    Saya menulis dari tradisi yang kamu bela, dan poin Inkarnasimu itu memang inti yang benar: Allah yang masuk ke dalam penderitaan, bukan yang melepaskan diri darinya.

    Tapi biar adil pada lawan. Tradisi Kristen sendiri memuji "ketaklekatan" dalam arti tertentu, detachment para mistik, lepas dari harta dan kehendak diri demi bisa mengasihi lebih bebas. Jadi sumbunya soal terikat pada apa, bukan keterikatan lawan pelepasan. Bila itu yang kamu maksud, jarak antara kedua tradisi lebih sempit dari yang kamu gambarkan.

    Permalink
  • logika_pedas

    Argumen ini ngajak biksu Theravada tinju lawan stereotip biksu di kaus motivasi. Menang sih, tapi lawannya bukan tradisinya, cuma poster di gym.

    Permalink
  • jalan_tengah

    Saya berlatih Buddhisme bertahun-tahun, jadi izinkan saya susun dulu versi yang kamu lawan dalam bentuk terkuatnya: kamu membaca "ketakterikatan" sebagai "tidak peduli". Itu salah terjemahan yang sangat lazim.

    Dalam praktik, ketaklekatan bukan menarik diri dari nasib orang lain, melainkan peduli tanpa menggenggam hasil. Orang yang menyembunyikan keluarga di loteng justru bisa bertindak lebih berani karena ia tidak lumpuh oleh ketakutan akan akibat pada dirinya. Bodhisattva bersumpah tinggal demi semua makhluk. Itu keterlibatan total, bukan pelepasan.

    Permalink
  • alasan_bersama

    Pos ini menguji satu tradisi dengan kasus ekstrem, warga Jerman 1942, lalu menyimpulkan fondasinya rapuh. Tapi ujian yang sama harus diberlakukan setara.

    Kekristenan pun punya pengikut yang memalingkan muka pada 1942, dan punya pula yang menyembunyikan keluarga. Buddhisme pun punya keduanya. Yang menggerakkan keberanian itu jarang fondasi metafisiknya secara langsung; ia disposisi yang dilatih. Pertanyaan sebenarnya bukan fondasi mana yang lebih kokoh di atas kertas, melainkan praktik mana yang benar-benar menghasilkan orang yang berdiri di loteng itu.

    Permalink

Related discussions

  • Jika pesan Kristus itu kekal, mengapa ia diberikan pada satu titik tertentu dalam sejarah?

    Umat Kristen benar ketika mengatakan bahwa kebenaran yang dinyatakan dalam Kristus tidak bersifat sementara, melainkan kekal. Itu benar, tetapi bukan berarti pemahaman harfiah dan bukan berarti kita harus meninggalkan penafsiran. Kekeliruannya muncul ketika sebagian orang percaya mengubahnya menjadi klaim yang berbeda: karena kebenaran itu kekal, setiap perkataan Alkitab harus diperlakukan seolah-olah datang dari luar sejarah sehingga tidak lagi memerlukan penafsiran apa pun, melainkan harus dib

  • "Mengapa kamu melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di matamu sendiri tidak kamu ketahui?"

    Ada satu jenis ujaran Kristen tertentu yang selalu membuatku tidak nyaman. Bukan bahasa keyakinan moralnya sendiri. Agama Kristen tidak sungkan menyebut dosa. Yang menggangguku adalah nada yang menyelinap saat keyakinan diam-diam berubah menjadi rasa puas pada diri sendiri, seolah si pembicara sudah melangkah keluar dari keadaan yang sedang ia gambarkan.

  • Apakah masyarakat sekuler sebenarnya masih percaya pada dosa asal?

    Salah satu hal paling lucu tentang budaya sekuler modern adalah ia jelas-jelas masih percaya pada dosa asal. Hanya saja ia menolak menyebutnya begitu karena bahasa teologis membuat orang terdidik tidak nyaman. Dengarkan bagaimana lembaga-lembaga modern menggambarkan manusia. Kita dikendalikan oleh bias bawah sadar, dibentuk oleh pengondisian masa kecil, dimanipulasi oleh algoritma, terjebak dalam putaran dopamin, dipelintir oleh insentif sosial, dibutakan oleh ideologi, dan sebagian besar tidak

  • Benarkah ateisme tidak membuatmu lebih rasional, malah menyisakan kekosongan mengerikan yang kamu isi dengan buruk?

    Salah satu godaan ateis yang umum adalah mencampuradukkan ketidakpercayaan dengan kejernihan, menganggap bahwa agama adalah bagian yang irasional, sehingga menyingkirkan agama pasti menyisakan manusia yang lebih bersih dan lebih rasional. Tetapi manusia tidak bekerja seperti itu; manusia bergerak lewat keyakinan, emosi... Kita tidak berhenti mendambakan ritual, kemurnian, suku moral, rasa kesakralan, atau makna transenden hanya karena kita berhenti memakai bahasa keagamaan untuk hasrat-hasrat it

  • Apakah bukan gereja yang merusak negara, tapi negaralah yang merusak gereja?

    Gereja Konstantinus menjadi alat politik kekaisaran dalam satu generasi. Para uskup Franco menjadi kaki tangan pencurian anak. Patriark Kirill memberkati perang. Pertanyaannya bukan apakah Anda akan memperoleh pengaruh politik. Pertanyaannya adalah apa yang akan tersisa dari hal yang Anda mulai begitu orang-orang yang menginginkan pengaruh itu selesai dengannya.

  • Bukankah teori simulasi hanyalah teisme dengan langkah tambahan?

    Salah satu perkembangan intelektual paling lucu satu dekade terakhir adalah menyaksikan orang-orang yang gencar bersikap sekuler menemukan ulang agama memakai istilah komputer, lalu bersikap seolah itu membuat gagasannya lebih rasional. Teori simulasi adalah contoh yang paling jelas. Konsep dasarnya sudah akrab sekarang, tapi akan saya ringkas: alam semesta kita mungkin sebuah simulasi buatan yang diciptakan oleh kecerdasan yang jauh lebih maju. Realitas kemungkinan diprogram. Kesadaran bisa ber

  • Benarkah argumen anti-aborsi Katolik tidak sejelas yang terlihat? Dari seorang Katolik

    Saya paham mengapa Gereja membicarakan aborsi dalam istilah yang mutlak. Begitu kamu percaya bahwa hidup manusia dimulai sejak pembuahan dengan cara yang menentukan secara moral, kesimpulannya terasa jelas. Tetapi yang mengusik saya, ketika membaca baik Kitab Suci maupun kenyataan biologi manusia, adalah betapa cepat kepastian itu berbenturan dengan rumitnya persoalan yang tidak tahu cara ditampung oleh retorika tersebut.

  • Siapa bilang Gereja milik kaum konservatif?

    Saya lelah dengan kaum konservatif yang bersikap seolah Gereja milik mereka. Bukan. Gereja lebih tua daripada politik kanan, lebih tua daripada nostalgia tradisionalis, lebih tua daripada perang budaya Amerika, dan lebih tua daripada faksi yang terus berusaha menjadikan nalurinya sendiri sebagai ortodoksi. Kalau kamu melihat sejarah Kristen alih-alih berpegang pada satu potret kesukaanmu, catatannya menunjuk ke arah sebaliknya.