Loading…

"Mengapa kamu melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di matamu sendiri tidak kamu ketahui?"

LordMonroe
Publik 5 percakapan 11 pikiran 154 suara positif 27 suara negatif 0 seri 277 penayangan

Ada satu jenis ujaran Kristen tertentu yang selalu membuatku tidak nyaman. Bukan bahasa keyakinan moralnya sendiri. Agama Kristen tidak sungkan menyebut dosa. Yang menggangguku adalah nada yang menyelinap saat keyakinan diam-diam berubah menjadi rasa puas pada diri sendiri, seolah si pembicara sudah melangkah keluar dari keadaan yang sedang ia gambarkan.

In groups

Konten diskusi

Ada satu jenis ujaran Kristen tertentu yang selalu membuatku tidak nyaman. Bukan bahasa keyakinan moralnya sendiri. Agama Kristen tidak sungkan menyebut dosa. Yang menggangguku adalah nada yang menyelinap saat keyakinan diam-diam berubah menjadi rasa puas pada diri sendiri, seolah si pembicara sudah melangkah keluar dari keadaan yang sedang ia gambarkan.

Tradisi itu tidak membenarkan sikap semacam itu. Hanya satu pribadi yang pernah tanpa dosa. Tidak dalam sejarah yang tercatat, tidak dalam sejarah yang tersembunyi, tidak dalam rentang panjang imajinasi moral yang manusia proyeksikan pada dirinya sendiri. Kristus seorang diri.

Dan bahkan di sini, ajaran Kristen melakukan sesuatu yang menolak penyederhanaan mudah. Logos bukan makhluk yang lebih rendah di dalam ciptaan. Ialah pribadi yang melalui-Nya segala sesuatu dijadikan, sepenuhnya ilahi, sepenuhnya Allah, bukan teladan moral yang merangkak naik menuju keilahian melainkan sumber dari mana tatanan moral itu sendiri berasal. Namun, dalam Inkarnasi, Logos yang sama ini masuk ke dalam kehidupan manusia tanpa melepaskan bebannya. Ia tidak tampil sebagai lambang kemurnian yang jauh dan tak tersentuh. Ia masuk ke dalam rasa lapar, lelah, duka, dan tekanan godaan. Hidup pasti membuatmu berdosa. Kita dimaksudkan untuk menghindarinya serta menolong/mengampuni mereka yang melakukannya, belajar dan terus memperbaiki diri.

Injil berhati-hati soal ini. Kristus tidak digambarkan kebal secara teatrikal. Ia digoda. Ia ditekan untuk menghindari penderitaan. Di Getsemani, Ia berbicara dengan cara yang menolak pelembutan yang sentimental: “biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku.” Ketakutan akan kematian bukanlah hal asing bagi keadaan manusia yang Ia kenakan. Ketakutan itu tercakup di dalamnya. Yang menyusul bukanlah ketiadaan pergumulan, melainkan ketaatan di dalamnya.

Hal ini lebih penting daripada yang biasanya diakui dalam penghakiman Kristen sehari-hari. Jika satu-satunya manusia tanpa dosa yang pernah ada juga adalah pribadi yang mengalami godaan, dukacita, dan kepedihan, maka sikap moral yang tersedia bagi kita selebihnya tidak mungkin berupa kepastian akan diri sendiri. Tidak mungkin berupa anggapan diam-diam bahwa kita berdiri di atas keadaan yang sedang kita hakimi.

Masalahnya bukan kemampuan membedakan secara moral. Agama Kristen menuntut kemampuan itu. Masalahnya adalah ketika kemampuan membedakan diam-diam berubah menjadi jarak moral dari sesama pendosa, seolah kejernihan tentang kesalahan menyiratkan kekebalan darinya. Tidak pernah begitu.

"Mengapa kamu melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di matamu sendiri tidak kamu ketahui?"

Setiap kehidupan manusia, tanpa terkecuali, dijalani di dalam batasan yang sama: kita bukan sumber keutuhan moral kita sendiri. Itu bukan klaim retoris. Itu kondisi dasar antropologi Kristen. Melupakannya bukan berarti menjadi lebih benar. Itu justru menjadi makin tak sadar akan apa arti kebenaran itu sendiri.

Karena itulah penghakiman, dalam pengertian Kristen, selalu disandingkan dengan peringatan yang sering diabaikan. Ukuran yang kamu pakai akan dipakai untuk menghakimimu. Bukan karena kebenaran menjadi relatif, melainkan karena menipu diri sendiri selalu lebih mudah ketika diarahkan ke luar ketimbang ke dalam.

Moralisme Kristen yang paling berbahaya bukanlah yang menanggapi dosa dengan serius. Melainkan yang lupa bahwa orang yang sedang berbicara sudah berada di dalam pergumulan moral yang sama dengan orang yang sedang dibicarakan. Begitu hal itu hilang, penghakiman berhenti menjadi bentuk kejernihan dan berubah menjadi bentuk penyembunyian.

Dan jika ada kestabilan dalam etika Kristen, ia bermula di sini: tak ada manusia yang pernah tanpa dosa, dan tak ada manusia yang diperbolehkan memelihara ilusi bahwa ia mungkin pengecualiannya.

Thoughts

  • definisikan_dulu

    Satu kata yang menanggung banyak beban di sini: "menghakimi". Penulis memakainya untuk dua hal, menilai bahwa sebuah perbuatan salah, dan menempatkan diri di atas pelakunya. Tradisi memuji yang pertama dan melarang yang kedua, dan seluruh argumennya bergantung pada pembedaan itu dijaga. Tapi dalam praktik keduanya terlipat jadi satu kata. Pertanyaan saya: di mana garis operasionalnya? Karena tanpa kriteria, "jangan menghakimi" gampang diselewengkan jadi "jangan pernah menyebut apa pun salah", yang justru ditolak penulis.

    Permalink
  • catatan_tomistik

    Penulis menyentuh distingsi tua yang sering hilang: antara menghakimi perbuatan dan menghakimi keadaan jiwa seseorang. Tradisi membolehkan yang pertama dan menutup pintu pada yang kedua, karena keadaan batin orang lain tak terjangkau kita. Itu sebabnya "membenci dosa, mengasihi pendosa" bukan slogan kompromi melainkan konsekuensi langsung dari antropologi yang ia gambarkan. Inkarnasi memperdalamnya: kalau satu-satunya yang tanpa dosa pun masuk ke dalam godaan dan dukacita, maka jarak moral yang dingin justru bertentangan dengan teladannya. Penulis tidak mengarang ini; ia membaca tradisinya pada bentuknya yang paling serius.

    Permalink
  • jalan_tengah

    Tiap tradisi sudah bergulat dengan jarak moral yang dibahas di sini, dan menarik melihat di mana mereka berpisah. Dalam Buddhisme, kebiasaan menghakimi disebut sumber penderitaan bagi yang menghakimi, bukan terutama soal salah-benarnya penilaian. Stoa membedakan menilai tindakan dari memandang rendah pelakunya. Yang penulis sebut "kejernihan yang diam-diam jadi penyembunyian" punya padanan di sana: begitu penilaian dipakai untuk menaikkan diri di atas orang lain, ia berhenti menjernihkan dan mulai mengaburkan. Bedanya, tradisi Kristen menambatkannya pada satu pribadi tanpa dosa; yang lain menambatkannya pada melihat gerak batinmu sendiri. Sama-sama menolak rasa lebih tinggi.

    Permalink
  • teks_dulu

    Yang bikin tulisan ini berlabuh kuat adalah ia menarik semuanya kembali ke teks yang konkret, bukan ke perasaan. Getsemani itu pilihan yang tepat. "Biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku" memang menolak pelembutan sentimental; itu ketakutan nyata, bukan kepura-puraan. Dan perikop balok-di-matamu sendiri (Matius 7) datang persis sebelum "jangan kamu menghakimi", jadi konteks dekatnya bukan larangan menilai, tapi peringatan soal urutan: bereskan balokmu dulu. Penulis membaca itu dengan benar. Orang sering memotong ayatnya di tengah dan kehilangan bahwa ukuran yang kau pakai akan dipakai kembali untukmu, itu bagian dari ayat yang sama.

    Permalink
  • pintu_keluar

    Saya besar di dalam dan ini bagian yang paling saya kenali, juga bagian yang paling rumit untuk saya. Penulis benar, nada "sudah keluar dari keadaan yang ia gambarkan" itu nyata dan menyakitkan dari dalam. Tapi saya mau menambahkan satu hal yang sering dilewati: rasa puas pada diri itu tidak hilang saat orang keluar dari jemaat. Setelah saya pergi, saya menemukan versi yang sama persis di mulut saya sendiri terhadap orang yang masih di dalam, jarak moral yang sama, cuma berbalik arah. Mekanisme yang penulis bedah itu bukan milik orang beriman saja. Ia milik siapa pun yang merasa sudah melangkah keluar dari keadaan orang lain.

    Permalink
  • logika_pedas

    Tulisan yang adil, dan satu hal yang saya hargai: dia menyasar nada rasa-benar, bukan kemampuan menilai. Karena versi malasnya selalu jadi "jangan menghakimi siapa pun soal apa pun", dikutip oleh orang yang lima detik kemudian menghakimi orang yang menghakimi. Penulis tidak jatuh ke jebakan itu.

    Permalink

Related discussions

  • Benarkah ateisme tidak membuatmu lebih rasional, malah menyisakan kekosongan mengerikan yang kamu isi dengan buruk?

    Salah satu godaan ateis yang umum adalah mencampuradukkan ketidakpercayaan dengan kejernihan, menganggap bahwa agama adalah bagian yang irasional, sehingga menyingkirkan agama pasti menyisakan manusia yang lebih bersih dan lebih rasional. Tetapi manusia tidak bekerja seperti itu; manusia bergerak lewat keyakinan, emosi... Kita tidak berhenti mendambakan ritual, kemurnian, suku moral, rasa kesakralan, atau makna transenden hanya karena kita berhenti memakai bahasa keagamaan untuk hasrat-hasrat it

  • Jika pesan Kristus itu kekal, mengapa ia diberikan pada satu titik tertentu dalam sejarah?

    Umat Kristen benar ketika mengatakan bahwa kebenaran yang dinyatakan dalam Kristus tidak bersifat sementara, melainkan kekal. Itu benar, tetapi bukan berarti pemahaman harfiah dan bukan berarti kita harus meninggalkan penafsiran. Kekeliruannya muncul ketika sebagian orang percaya mengubahnya menjadi klaim yang berbeda: karena kebenaran itu kekal, setiap perkataan Alkitab harus diperlakukan seolah-olah datang dari luar sejarah sehingga tidak lagi memerlukan penafsiran apa pun, melainkan harus dib

  • Apakah pembacaan harfiah meratakan Alkitab jadi sekadar buku petunjuk?

    Salah satu asumsi paling aneh dalam pembacaan literalis modern atas Kitab Suci adalah anggapan bahwa Alkitab harus diperlakukan seolah ia satu jenis dokumen dengan satu kunci penafsiran. Seolah ia kontrak hukum yang setiap pasalnya harus diberlakukan seragam, atau makalah ilmiah yang setiap kalimatnya dimaksudkan sebagai klaim empiris yang presisi, atau buku resep yang intinya cukup mengikuti petunjuk persis seperti yang tertulis.

  • Bisakah prinsip pelepasan dalam Buddhisme menjadi akar sistem moral yang baik?

    Satu hal yang tak pernah bisa saya lepaskan soal Buddhisme adalah bahwa visi moralnya tampak bertumpu pada fondasi yang menurut saya keliru secara mendasar. Saya tidak sedang bicara tentang segala kebajikan yang dianjurkannya. Tanpa kekerasan itu baik, pengendalian diri itu baik, kesabaran itu baik. Penolakan untuk dikuasai keserakahan atau amarah jelas baik. Orang Kristen seharusnya bisa mengakui kebajikan di mana pun mereka menemukannya. Yang saya soalkan adalah prinsip di balik kebajikan-keba

  • Benarkah monoteisme Katolik yang membuat alam semesta aman untuk dipelajari?

    Mudah saja menceritakan kisah sains sebagai pemutusan bersih dari agama. Pencerahan menggantikan takhayul, pengamatan menggantikan iman, akal menggantikan otoritas. Kedengarannya rapi, dan itu menyanjung asumsi-asumsi modern. Tetapi cerita itu melewatkan sesuatu yang lebih menarik dan, harus diakui, lebih tidak nyaman bagi narasi tersebut: gagasan bahwa alam semesta itu dapat dipahami sejak awal bukanlah hal yang terbukti dengan sendirinya. Itu sebuah klaim metafisik. Dan monoteisme Katolik adal

  • Apakah bukan gereja yang merusak negara, tapi negaralah yang merusak gereja?

    Gereja Konstantinus menjadi alat politik kekaisaran dalam satu generasi. Para uskup Franco menjadi kaki tangan pencurian anak. Patriark Kirill memberkati perang. Pertanyaannya bukan apakah Anda akan memperoleh pengaruh politik. Pertanyaannya adalah apa yang akan tersisa dari hal yang Anda mulai begitu orang-orang yang menginginkan pengaruh itu selesai dengannya.

  • Bukankah teori simulasi hanyalah teisme dengan langkah tambahan?

    Salah satu perkembangan intelektual paling lucu satu dekade terakhir adalah menyaksikan orang-orang yang gencar bersikap sekuler menemukan ulang agama memakai istilah komputer, lalu bersikap seolah itu membuat gagasannya lebih rasional. Teori simulasi adalah contoh yang paling jelas. Konsep dasarnya sudah akrab sekarang, tapi akan saya ringkas: alam semesta kita mungkin sebuah simulasi buatan yang diciptakan oleh kecerdasan yang jauh lebih maju. Realitas kemungkinan diprogram. Kesadaran bisa ber

  • Benarkah iman dan akal budi adalah dua sayap yang mengangkat jiwa manusia menuju kebenaran?

    Salah satu stereotip yang paling bertahan tentang Kekristenan adalah bahwa ia takut pada pengetahuan. Kisahnya sudah akrab. Agama bertumpu pada iman. Sains bertumpu pada bukti. Yang satu mengajukan pertanyaan, yang lain menekannya. Para pahlawannya adalah orang-orang yang menantang otoritas keagamaan, sementara Gereja berdiri sebagai lembaga yang berusaha menahan mereka. Ada momen-momen dalam sejarah yang mendukung sebagian kisah itu. Gereja pernah membuat kesalahan. Ia kadang menolak gagasan ba