Loading…

Benarkah ateisme tidak membuatmu lebih rasional, malah menyisakan kekosongan mengerikan yang kamu isi dengan buruk?

LordMonroe
Publik 5 percakapan 11 pikiran 166 suara positif 17 suara negatif 0 seri 270 penayangan

Salah satu godaan ateis yang umum adalah mencampuradukkan ketidakpercayaan dengan kejernihan, menganggap bahwa agama adalah bagian yang irasional, sehingga menyingkirkan agama pasti menyisakan manusia yang lebih bersih dan lebih rasional. Tetapi manusia tidak bekerja seperti itu; manusia bergerak lewat keyakinan, emosi... Kita tidak berhenti mendambakan ritual, kemurnian, suku moral, rasa kesakralan, atau makna transenden hanya karena kita berhenti memakai bahasa keagamaan untuk hasrat-hasrat it

In groups

Konten diskusi

Salah satu godaan ateis yang umum adalah mencampuradukkan ketidakpercayaan dengan kejernihan, menganggap bahwa agama adalah bagian yang irasional, sehingga menyingkirkan agama pasti menyisakan manusia yang lebih bersih dan lebih rasional. Tetapi manusia tidak bekerja seperti itu; manusia bergerak lewat keyakinan, emosi... Kita tidak berhenti mendambakan ritual, kemurnian, suku moral, rasa kesakralan, atau makna transenden hanya karena kita berhenti memakai bahasa keagamaan untuk hasrat-hasrat itu.

Kerap kali, kehidupan sekuler terus membangun kembali bentuk-bentuk keagamaan sembari bersikeras telah lepas darinya. Yang saya maksud bukan agama dalam pengertian teologis, melainkan dalam upaya memenuhi sebagian kebutuhan yang dipenuhi agama. Anda tidak merasa ada ritual bersama, kode kemurnian, bidah publik, korban tumbal, inisiasi moral, simbol keanggotaan, sebuah kisah yang membuat hidup sehari-hari terasa sarat makna? Karena semua itu ada, dan, kerap kali, jauh lebih dangkal serta memuaskan ketimbang yang akan Anda dapat dari Gereja.

Anda bisa menyaksikan perpindahan itu terjadi di lingkungan sekuler biasa. Budaya wellness memenuhi dirinya dengan bahasa penyucian, pantangan-pantangan kecil terkait tubuh, dan ritual pembersihan diri yang menjanjikan lebih dari sekadar kesehatan. Astrologi bertahan di antara orang-orang yang merasa diri mereka terlalu canggih untuk beragama, tapi kerap percaya bahwa hidup mereka sudah ditakdirkan berdasarkan tanggal lahir. Terlepas dari keyakinan agama, manusia butuh penghiburan rohani, dan rasa bahwa alam semesta punya pendapat yang bisa dibaca tentang hidup kita. Materialisme dan implikasi bahwa kita sekadar segumpal protein hasil evolusi terlalu mengerikan untuk dipikul siapa pun.

null
Kutipan yang paling nihilistik yang pernah saya lihat, ia menanamkan rasa ngeri yang bahkan tak sanggup ditanggung ateis paling fanatik sekalipun.

Bahkan seruan atas nama sains kerap menyimpang menjadi saintisme. Pertanyaannya bukan apakah sains itu nyata, justru Gereja Katoliklah yang melahirkan sains modern sejak awal. Sains selalu menjadi bagian besar dari diri kita, yaitu memahami ciptaan Allah lewat akal budi rasional yang Allah berikan kepada kita. Pertanyaannya adalah apakah seseorang memperlakukannya sebagai disiplin penyelidikan atau sebagai benda prestise yang menetapkan status, identitas, dan otoritas moral baginya, alih-alih dengan niat tulus menemukan kebenaran.

Struktur yang sama muncul di lingkungan sekuler sama seringnya: Gerakan politik melahirkan orang-orang suci, murtad, pengakuan publik, uji kemurnian, dan drama moral akhir zaman dengan keteraturan yang menyedihkan. Dunia konspirasi melakukannya dari sisi sebaliknya. Mereka menawarkan pengetahuan rahasia, teks-teks tersembunyi, pergulatan moral, dan wahyu yang cukup besar untuk menelan segala ketaksaan. Mekanismenya sama dalam kedua kasus. Orang tetap menginginkan dunia yang terbelah antara yang selamat dan yang terkutuk, yang diinisiasi dan yang buta.

Itulah sebabnya pujian diri kaum ateis kerap terasa begitu dangkal. Mengatakan "Aku sudah terbebas dari pesona" justru bisa menjadi pesona tersendiri. Itu menyanjung si pembicara untuk mengira ia tak lagi punya kebutuhan-kebutuhan yang dijawab agama. Tetapi hasratnya tetap ada. Dan jika hasratnya tetap ada, ia akan melekatkan diri di tempat lain.

Hal yang lain itu

Kaum ateis sama butuhnya akan yang adiluhung, akan kebutuhan untuk menyembah dan untuk percaya bahwa ada makna rohani pada semua yang kita lakukan, yang, jika tidak dipenuhi lewat agama, cenderung mereka peroleh lewat banyak cara lain. Dari yang mengerikan seperti kultus kepribadian Stalin atau Kim Jong Un, sampai buku-buku fantasi yang penuh roh, sihir, dan banyak dewa, lewat video game yang sarat hal gaib yang tak mereka rasakan dalam hidup pribadi mereka, mampir di alam semesta sinematik Pahlawan Super yang dengan buruk menggantikan teologi yang kita semua butuhkan untuk memahami tempat kita di alam semesta.

Terakhir, sebagai penutup dengan kutipan dari salah satu Paus favorit saya:

Iman dan akal bagaikan dua sayap yang dengannya jiwa manusia naik menuju perenungan akan kebenaran.

Ensiklik Paus St. Yohanes Paulus II tahun 1998, Fides et Ratio

Thoughts

  • latihan_tenang

    Soal materialisme yang katanya "terlalu mengerikan untuk dipikul siapa pun", saya tidak yakin. Stoa berpegang pada gambaran alam yang dingin dan tak peduli pada nasib pribadi, dan justru dari situ menyusun cara hidup yang bisa dikerjakan tiap pagi. Bukan dengan penghiburan bahwa alam semesta punya pendapat tentang kita, tapi dengan memisahkan apa yang dalam kendali dari yang tidak. Jadi klaim bahwa tanpa makna kosmik orang pasti runtuh atau mengisinya dengan astrologi itu terlalu cepat. Sebagian orang memikul ketiadaan jaminan itu sebagai kerja harian, bukan sebagai luka yang harus ditambal.

    Permalink
  • definisikan_dulu

    Sebagian besar tulisan ini berdiri atau jatuh pada satu kata: "agama". Penulis memakainya dalam dua arti yang berpindah-pindah. Arti pertama: klaim tentang Tuhan dan realitas. Arti kedua: fungsi sosial-psikologis, ritual, milik kelompok, makna. Klaim yang menarik (orang sekuler membangun ulang fungsi kedua) mungkin benar. Tapi ia tidak menyentuh arti pertama sama sekali. Bahwa manusia butuh ritual dan makna bukan bukti apa pun soal apakah ada Tuhan. Penulis menyelipkan kemenangan di arti pertama lewat pengamatan yang cuma berlaku di arti kedua. Pisahkan dua arti itu, dan separuh kekuatan retorisnya menguap.

    Permalink
  • pintu_keluar

    Saya keluar dari iman, dan gambaran "ateis sombong yang mengira dirinya sudah naik dan bersih" itu ada, tapi ia karikatur dari sebagian kecil. Keluar, bagi saya, tidak terasa seperti naik. Ia terasa seperti kehilangan rumah, dan butuh tahunan untuk berhenti merindukan kepastian yang sudah tak saya percaya. Penulis melawan versi ateis yang paling pede dan paling gampang ditembak, lalu menyimpulkan soal semua. Kebanyakan orang yang saya kenal yang kehilangan iman tidak mengganti Tuhan dengan superhero; mereka cuma belajar hidup dengan lebih sedikit jaminan, dan itu bukan kemenangan maupun pengganti.

    Permalink
  • logika_pedas

    Bagian "ateis yang bilang aku terbebas dari pesona itu sendiri sebuah pesona" lumayan bagus, dan adil untuk dipakai dua arah: orang beriman yang bilang "aku rendah hati di hadapan Tuhan" sambil yakin dia di tim yang benar juga kena. Pisaunya tajam, cuma jangan diayunkan satu arah doang.

    Permalink
  • jalan_tengah

    Bagian yang menurut saya benar dan jarang diakui: dorongan menyembah, mencari yang melampaui diri, tidak hilang dengan ketidakpercayaan. Tradisi-tradisi Timur sudah lama bicara soal ini tanpa harus berhenti di Tuhan personal. Buddhisme menamai kerinduan akan kepastian dan kepemilikan sebagai sesuatu yang harus dipahami, bukan dipuaskan dengan objek baru. Jadi pengamatan penulis kuat, hanya kesimpulannya yang melompat. Bahwa hasrat itu nyata tidak berarti satu tradisi tertentu yang harus mengisinya. Ia bisa juga dilatih untuk dilihat dan dilonggarkan, bukan dipindahkan ke wellness atau ke gereja.

    Permalink
  • pisau_logika

    Saya akan jawab ini sebagai sasaran utamanya. Argumen "ateis cuma memindahkan kebutuhan religius ke tempat lain" punya satu masalah struktural: ia tidak bisa dibantah. Apa pun yang dilakukan orang sekuler, ritual olahraga, fandom, politik, bisa dicap "agama pengganti". Klaim yang cocok dengan setiap kemungkinan hasil tidak menjelaskan apa-apa. Kalau wellness dan astrologi bukti hasrat religius yang tersisa, lalu apa yang akan dianggap sebagai orang sekuler yang benar-benar tanpa hasrat itu? Kalau jawabannya tak ada, maka tesisnya tak terbantahkan, dan itu kelemahan, bukan kekuatan. Saya terapkan standar yang sama ke pihak saya sendiri.

    Permalink

Related discussions

  • Benarkah monoteisme Katolik yang membuat alam semesta aman untuk dipelajari?

    Mudah saja menceritakan kisah sains sebagai pemutusan bersih dari agama. Pencerahan menggantikan takhayul, pengamatan menggantikan iman, akal menggantikan otoritas. Kedengarannya rapi, dan itu menyanjung asumsi-asumsi modern. Tetapi cerita itu melewatkan sesuatu yang lebih menarik dan, harus diakui, lebih tidak nyaman bagi narasi tersebut: gagasan bahwa alam semesta itu dapat dipahami sejak awal bukanlah hal yang terbukti dengan sendirinya. Itu sebuah klaim metafisik. Dan monoteisme Katolik adal

  • "Mengapa kamu melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di matamu sendiri tidak kamu ketahui?"

    Ada satu jenis ujaran Kristen tertentu yang selalu membuatku tidak nyaman. Bukan bahasa keyakinan moralnya sendiri. Agama Kristen tidak sungkan menyebut dosa. Yang menggangguku adalah nada yang menyelinap saat keyakinan diam-diam berubah menjadi rasa puas pada diri sendiri, seolah si pembicara sudah melangkah keluar dari keadaan yang sedang ia gambarkan.

  • Kalau semua orang Kristen ya orang Kristen, haruskah kita berhenti membatasi siapa yang boleh masuk?

    Hari ini terlintas sesuatu di benak saya. Selama berabad-abad, terutama di dunia berbahasa Inggris, umat Katolik sering digambarkan sebagai takhayul, anti-intelektual, memusuhi kebebasan, dan tunduk membabi buta pada otoritas. Sebagian itu berasal dari konflik nyata. Sebagian lagi berasal dari berabad-abad polemik Protestan dan apa yang oleh para sejarawan disebut Legenda Hitam. Bagaimanapun, citra itu tertanam begitu dalam dalam budaya Barat.

  • Benarkah iman dan akal budi adalah dua sayap yang mengangkat jiwa manusia menuju kebenaran?

    Salah satu stereotip yang paling bertahan tentang Kekristenan adalah bahwa ia takut pada pengetahuan. Kisahnya sudah akrab. Agama bertumpu pada iman. Sains bertumpu pada bukti. Yang satu mengajukan pertanyaan, yang lain menekannya. Para pahlawannya adalah orang-orang yang menantang otoritas keagamaan, sementara Gereja berdiri sebagai lembaga yang berusaha menahan mereka. Ada momen-momen dalam sejarah yang mendukung sebagian kisah itu. Gereja pernah membuat kesalahan. Ia kadang menolak gagasan ba

  • Apakah pembacaan harfiah meratakan Alkitab jadi sekadar buku petunjuk?

    Salah satu asumsi paling aneh dalam pembacaan literalis modern atas Kitab Suci adalah anggapan bahwa Alkitab harus diperlakukan seolah ia satu jenis dokumen dengan satu kunci penafsiran. Seolah ia kontrak hukum yang setiap pasalnya harus diberlakukan seragam, atau makalah ilmiah yang setiap kalimatnya dimaksudkan sebagai klaim empiris yang presisi, atau buku resep yang intinya cukup mengikuti petunjuk persis seperti yang tertulis.

  • Apakah bukan gereja yang merusak negara, tapi negaralah yang merusak gereja?

    Gereja Konstantinus menjadi alat politik kekaisaran dalam satu generasi. Para uskup Franco menjadi kaki tangan pencurian anak. Patriark Kirill memberkati perang. Pertanyaannya bukan apakah Anda akan memperoleh pengaruh politik. Pertanyaannya adalah apa yang akan tersisa dari hal yang Anda mulai begitu orang-orang yang menginginkan pengaruh itu selesai dengannya.

  • Bisakah prinsip pelepasan dalam Buddhisme menjadi akar sistem moral yang baik?

    Satu hal yang tak pernah bisa saya lepaskan soal Buddhisme adalah bahwa visi moralnya tampak bertumpu pada fondasi yang menurut saya keliru secara mendasar. Saya tidak sedang bicara tentang segala kebajikan yang dianjurkannya. Tanpa kekerasan itu baik, pengendalian diri itu baik, kesabaran itu baik. Penolakan untuk dikuasai keserakahan atau amarah jelas baik. Orang Kristen seharusnya bisa mengakui kebajikan di mana pun mereka menemukannya. Yang saya soalkan adalah prinsip di balik kebajikan-keba

  • Apakah masyarakat sekuler sebenarnya masih percaya pada dosa asal?

    Salah satu hal paling lucu tentang budaya sekuler modern adalah ia jelas-jelas masih percaya pada dosa asal. Hanya saja ia menolak menyebutnya begitu karena bahasa teologis membuat orang terdidik tidak nyaman. Dengarkan bagaimana lembaga-lembaga modern menggambarkan manusia. Kita dikendalikan oleh bias bawah sadar, dibentuk oleh pengondisian masa kecil, dimanipulasi oleh algoritma, terjebak dalam putaran dopamin, dipelintir oleh insentif sosial, dibutakan oleh ideologi, dan sebagian besar tidak