Pengen tau apa yang bakal Shalia lakuin pas lomba lari nanti. Apa dia benar-benar ikut atau nggak?
Bertumpu Di Atas Kaki Besi
Pikiran
Pengen tau apa yang bakal Shalia lakuin pas lomba lari nanti. Apa dia benar-benar ikut atau nggak?
Konten postingan
Bertumpu Di Atas Kaki Besi.
Cahaya matahari bersinar terik. Wajah-wajah segar dan ceria dari Siswa-Siswi SMA Tunas Bangsa memancarkan pesona nya.
Di kelas X-4, pintu berderit terbuka. Shalia berjalan dari sana. Dia baru saja pindah dari sekolah lamanya, dan ini adalah lingkungan baru yang harus ia hadapi.
Anak-anak kelas memperhatikannya masuk. Ada suatu perbedaan yang membuatnya menjadi tontonan.
"Kaki nya besi jir, wkwkwk"
"Padahal muka nya cakep, eh kaki nya buntung"
"Tendang aja itu kaki nya"
"Sen, coba ajak lomba lari, pasti lu kalah, HAHAHA"
Baru beberapa langkah ia tempuh di kelas itu, ejekan yang sama seperti tempat sebelumnya kembali berdatangan. Ia mencoba tidak peduli. Ia duduk paling belakang, di sudut kelas, dekat dengan jendela.
Guru mulai masuk, anak-anak kelas yang tadi mencela nya berhenti, teralihkan untuk memperhatikan ke depan.
Bu Sherly, wali kelas X-4 menggenggam secarik kertas berisi pengumuman.
"Minggu depan kita ada lomba lari antar kelas, ada yang mau mengajukan diri?" Siarnya pada seluruh kelas.
Shenona, Jemi, dan Sekar adalah tiga preman kelas yang sering membuat onar. tempat duduk mereka juga berdekatan, mereka memandang satu sama lain dengan seringai.
"Shalia aja tuh, Bu. Suruh lomba lari, pasti menang." Usul Shenona yang kemudian diiringi tawa seluruh kelas. Shalia hanya menunduk. Hal ini sudah menjadi asupan nya ketika ada di sekolah. Namun, tetap saja, meski dia memiliki kekurangan, dia tidak berhak untuk mendapatkan hal ini.
Thoughts
-
PermalinkPengen tau apa yang bakal Shalia lakuin pas lomba lari nanti. Apa dia benar-benar ikut atau nggak?
Related posts
-
perempuan di pinggir halaman
“Kalau dia tidak salah, dan aku juga tidak salah, lalu kenapa yang menangis hanya aku?”
-
Dua Puluh Dua Hari Menjadi Kita.
Hari ini hari kedua puluh dua.
-
Dua Puluh Lima Hari, Setelah Hujan.
Hari ini hari kedua puluh lima.
-
Happy August, Sahabatku.
Aku pernah berpikir, mungkin laut memang diciptakan supaya orang-orang punya tempat untuk menyimpan tawa.
-
Hari Ketujuh Belas Mencintaimu.
Tujuh belas hari.
-
Dua Puluh Sembilan Hari Menjadi Kita.
Satu hari lagi.
-
Dua Puluh Delapan Hari Menjadi Kita.
Hari ini hari kedua puluh delapan.
-
Hari Keenam Belas Mencintaimu.
Hari ini hari keenam belas.