Loading…

Hari Ketujuh Belas Mencintaimu.

Swaru
Publik 0 percakapan 0 pikiran 18 suara positif 0 suara negatif 0 seri

Tujuh belas hari.

In groups

Konten postingan

Tujuh belas hari.

Angkanya terus bertambah, satu demi satu, dan lucunya aku masih saja merasa seperti anak kecil yang senang sendiri setiap kali namamu muncul di layar.

Mungkin aku memang tidak akan pernah terbiasa.

Atau mungkin, aku tidak ingin terbiasa.

Karena ada sesuatu yang menyenangkan dari rasa senang setiap kali menemukanmu lagi di tengah hari.

Khail, tujuh belas hari bersamamu membuatku sadar bahwa ternyata yang paling kusukai dari kita bukan hanya momen-momen besar. Justru hal-hal kecil yang tidak pernah kita rencanakan.

Candaan yang tiba-tiba muncul. Obrolan yang awalnya cuma sebentar lalu menjadi panjang. Saling mengganggu tanpa alasan. Atau sekadar bertanya, “lagi apa?” hanya karena ingin punya alasan untuk bicara.

Hal-hal kecil itu mungkin tidak akan masuk ke cerita orang lain.

Tapi mereka masuk ke ceritaku.

Dan semuanya punya satu kesamaan:

ada kamu di dalamnya.

Kalau laut punya cara menyimpan kenangan, mungkin setiap ombak sudah membawa satu potongan kecil dari tujuh belas hari kita. Ada ombak yang membawa tawa, ada yang membawa rindu, ada yang hanya datang sebentar lalu kembali ke laut.

Tapi semuanya tetap menjadi bagian dari perjalanan.

Begitu juga hari-hari kita.

Tidak semuanya harus sempurna untuk menjadi indah.

Kadang cukup menjadi nyata.

Cukup menjadi dua orang yang masih belajar memahami satu sama lain, masih belajar bagaimana cara mencintai dengan baik, dan masih menemukan alasan untuk tetap tertawa bersama.

Dan aku suka itu.

Aku suka bahwa kita tidak harus menjadi kisah paling sempurna untuk menjadi kisah yang kusayangi.

Selamat hari ketujuh belas, Khail.

Tujuh belas hari sudah lewat.

Tapi kalau aku diberi kesempatan untuk kembali ke hari pertama, aku rasa aku tetap akan memilih langkah yang sama.

Tetap memilih menjadi "kita."

Tetap memilih mengenalmu.

Tetap memilih duduk di tepi laut yang sama, membiarkan ombak datang dan pergi, sambil diam-diam bersyukur karena di antara luasnya dunia, aku menemukan satu orang yang ingin terus kuceritakan.

Kamu.

Dan untuk hari ini, itu sudah lebih dari cukup.

Besok kita lanjut lagi.

Halaman berikutnya masih kosong.

Dan aku masih ingin menulisnya bersamamu.