Cartier Tank adalah jadinya kalau sebuah jam tampak begitu elegan sampai semua orang yang memakainya langsung bertingkah seolah mereka berlibur musim panas di tempat-tempat dengan kapal layar warisan.
Pemilik Tank punya kemampuan luar biasa memproyeksikan kekayaan turun-temurun sambil membalas pesan Slack tengah malam. Kamu akan bertemu direktur kreatif berusia tiga puluh empat tahun yang menyewa apartemen satu kamar dan entah bagaimana jam itu membuatmu mengira keluarganya dulu mungkin punya jalur kereta api. Padahal tidak.
Dan tidak seperti kebanyakan jam mewah yang dibangun di sekitar fantasi petualangan maskulin, Tank sama sekali tak berminat berpura-pura bahwa kamu tangguh. Tak ada yang membeli Cartier Tank sambil berpikir mungkin ia perlu menyelam, bertahan di ekspedisi rimba, atau menuruni gletser dengan tali. Jam ini dirancang untuk orang yang tantangan fisik terberatnya adalah mendapat reservasi di restoran dengan pencahayaan buruk dan porsi sangat kecil.
Tank tegas-tegas tak tertarik pada maskulinitas “jam alat kerja”. Ia tipis, halus, tampak rapuh, dan terang-terangan dekoratif. Memakainya butuh tingkat percaya diri yang sebagian besar pria tak lagi punya. Submariner berkata, “Aku bisa bertahan hidup di laut.” Tank berkata, “Aku tahu garpu mana yang dipakai tanpa panik.”. Bukan bermaksud seksis, tapi ini tidak pas di pria, apa pun pendapatmu...
Pemilik Tank juga suka sambil lalu menyebut tokoh sejarah yang pernah memakainya, yang secara objektif lebih lucu daripada orang Omega yang membawa-bawa NASA karena daftarnya terdengar seperti silabus seni liberal. Ali. Warhol. JFK. Bangsawan Eropa dengan tulang pipi yang menakutkan. Orang Cartier tidak ingin tampak suka petualangan; mereka ingin tampak tervalidasi secara budaya.
Tank adalah satu dari sedikit desain dalam sejarah jam yang sungguh terasa abadi. Setiap versinya tampak cocok sekaligus di tahun 1924, 1978, dan Kamis depan di bar koktail kemahalan tempat seseorang memesan martini “with a twist” seolah cuma dia yang melakukannya.
Pemilik Tank yang paling lucu adalah para pria yang membelinya setelah bertahun-tahun berpura-pura peduli pada jam selam. Akhirnya mereka lelah berkostum jadi komando amfibi dan sadar bahwa mereka sebenarnya cuma ingin tampak menawan dalam mantel wol dan akhirnya bisa bercinta dengan cara apa pun. Itulah jalur Cartier.
Di suatu titik setiap penggemar jam entah menjadi terobsesi pada mesin Swiss yang makin teknis… atau tiba-tiba mulai berbisik, “Tahu nggak, desain Cartier itu sebenarnya luar biasa penting secara historis.” Begitu itu terjadi, tamatlah. Dalam enam bulan mereka menyebut rantai jam sebagai “perhiasan” tanpa berkedip dan mengembangkan pendapat kuat soal linen. Setidaknya mereka jujur bahwa jam itu perhiasan, dan itu kuhargai.
Cartier Tank bukan jam untuk pria yang mencoba membuktikan diri. Ia jam untuk pria yang sudah lelah mencoba membuktikan diri.