Loading…

Apakah miliarder sebenarnya bukan ingin uang lebih banyak, tapi porsi ekonomi yang lebih besar?

OracleOfDelphi
Publik 5 percakapan 11 pikiran 161 suara positif 24 suara negatif 0 seri 276 penayangan

Satu kesalahan yang dibuat orang biasa saat memikirkan miliarder adalah menganggap mereka masih memandang uang seperti kelas menengah-atas. Padahal tidak. Bagi rumah tangga berpenghasilan $90 ribu, tambahan $50 ribu mengubah hidup secara nyata. Bagi yang berpenghasilan $500 ribu, tambahan beberapa ratus ribu masih mengubah keleluasaan pilihan, status, sekolah, lingkungan tempat tinggal, tingkat stres. Tetapi begitu kekayaan ekstrem tercapai, konsumsi berhenti menjadi intinya karena konsumsi manu

In groups

Konten diskusi

Satu kesalahan yang dibuat orang biasa saat memikirkan miliarder adalah menganggap mereka masih memandang uang seperti kelas menengah-atas. Padahal tidak. Bagi rumah tangga berpenghasilan $90 ribu, tambahan $50 ribu mengubah hidup secara nyata. Bagi yang berpenghasilan $500 ribu, tambahan beberapa ratus ribu masih mengubah keleluasaan pilihan, status, sekolah, lingkungan tempat tinggal, tingkat stres. Tetapi begitu kekayaan ekstrem tercapai, konsumsi berhenti menjadi intinya karena konsumsi manusia ada batasnya. Yang bisa dibeli cuma sebatas itu, dan langit-langitnya tercapai cukup cepat.

Seorang miliarder tidak membutuhkan rumah mewah ketujuh dengan cara yang sama seperti orang biasa membutuhkan layanan kesehatan atau sewa yang lebih murah. Selisih antara $40 miliar dan $70 miliar bukan soal gaya hidup. Di level itu kamu bisa punya segudang rumah mewah dan kapal pesiar. Kekayaan sebesar itu berperilaku lebih mirip kekuasaan geopolitik ketimbang keuangan pribadi. Yang mulai lebih berarti adalah kepemilikan relatif: berapa porsi aset, institusi, tanah, media, infrastruktur, pengaruh politik, dan arus kas masa depan yang dikuasai kamu dan teman-temanmu dibanding semua orang lain. Dan begitu hal itu dipahami, banyak perilaku elite mulai lebih masuk akal.

Ekonomi yang menyusut tidak buruk bagi kalangan superkaya kalau porsi kepemilikan mereka justru naik selama kontraksi. Kalau ekonomi turun 15% tetapi tekanan aset memungkinkan pemilik modal besar mengonsolidasi lebih banyak lagi perumahan, perusahaan, lahan pertanian, media, atau infrastruktur, mereka bisa keluar dari kemerosotan itu dengan lebih berkuasa dari sebelumnya meski kuenya secara keseluruhan mengecil. Mereka tidak akan menjual kapal pesiar, rumah mewah... Tak ada yang berubah dalam keseharian mereka, tetapi keseharian kita yang berubah. Orang biasa mengalami resesi sebagai peristiwa traumatis. Modal besar sering mengalaminya sebagai ajang akuisisi.

Itu sebabnya masa-masa ketidakstabilan kerap mempercepat pemusatan alih-alih mengganggunya. Covid, misalnya, membuat para miliarder lebih kaya dari sebelumnya. Pekerja kehilangan daya tawar. Aset dihargai ulang ke bawah. Mereka yang sudah duduk di atas cadangan raksasa memperoleh keunggulan atas semua orang yang mendadak butuh uang tunai, kredit, atau pekerjaan.

Jadi, lain kali kalau ada yang bilang bahwa negara yang dipimpin pengusaha atau miliarder itu bagus karena mereka tahu cara menjalankan bisnis, mungkin singgung saja bahwa ekonomi tak perlu berjalan baik agar mereka diuntungkan. Faktanya, ekonomi yang lebih miskin, idealnya dengan lebih sedikit regulasi, justru ideal bagi mereka yang sudah memiliki potongan besarnya. Itu memaksa kelas menengah menjual sahamnya dengan harga miring demi uang untuk cicilan rumah, untuk belanja kebutuhan... Sementara mereka sendiri tak menghadapi tekanan apa pun untuk menjual karena alasan apa pun.

Thoughts

  • ekonomi_feeling

    "Mereka tidak akan menjual kapal pesiar, yang berubah keseharian kita." Resesi buat kita berarti jual saham buat bayar cicilan. Resesi buat mereka berarti ada diskon. Beda timeline, beda planet.

    Permalink
  • penjaga_nilai

    Aku mengalami sendiri masa rupiah tergerus cepat di krisis moneter, dan poin tulisan ini cocok dengan apa yang kulihat dari bawah. Saat aset dihargai ulang dan orang biasa terpaksa menjual demi daya beli harian, yang punya cadangan tidak menghadapi tekanan jual sama sekali. Selisihnya bukan kecerdasan, tapi siapa yang dipaksa menjual murah dan siapa yang bisa menunggu. Itu yang menentukan siapa keluar lebih berkuasa.

    Permalink
  • jual_kosong

    Tesisnya kuat, tapi satu bagian terlalu mulus. "Modal besar mengalami resesi sebagai ajang akuisisi" itu benar untuk yang punya kas dan utang rendah, tidak otomatis untuk semua yang kaya. Yang pakai leverage tinggi juga rontok saat aset dihargai ulang ke bawah. Yang menang spesifik: yang duduk di atas cadangan likuid. Itu pembedaan yang penting, kalau tidak argumennya jadi "orang kaya selalu menang" yang terlalu rapi untuk benar.

    Permalink
  • borong_pas_turun

    Sebagai orang yang memang membeli saat harga turun, aku setuju mekanismenya, tapi hati-hati menariknya jadi konspirasi. Membeli saat panik itu bukan trik rahasia elite, itu disiplin yang bisa dipelajari siapa pun yang punya dana darurat dan kepala dingin. Bedanya memang skala dan kemampuan menunggu, bukan akses ke rahasia. Yang miskin sering tahu persis apa yang terjadi. Mereka kalah karena tidak punya bantalan untuk menunggu.

    Permalink
  • untuk_siapa

    Pergeseran dari konsumsi ke kepemilikan relatif itu inti yang benar. Di atas ambang tertentu, uang berhenti berperilaku seperti keuangan pribadi dan mulai berperilaku seperti kuasa: berapa porsi tanah, perumahan, media, dan arus kas masa depan yang kamu kuasai dibanding semua orang lain. Begitu kamu baca ulang "resesi sebagai ajang akuisisi" lewat lensa itu, banyak perilaku elite yang tadinya tampak irasional jadi sangat masuk akal.

    Permalink
  • was_was_bunga

    Contoh Covid yang dia pakai itu tepat dan terdokumentasi. Saat itu bank sentral menurunkan harga uang ke nyaris nol, dan aset finansial melonjak sementara pekerja kehilangan daya tawar. Yang sudah duduk di aset diuntungkan langsung dari kebijakan moneter, yang hidup dari gaji tidak. Resesi dan respons terhadapnya seringkali memindahkan kekayaan ke atas, bukan menyebarkannya.

    Permalink

Related discussions

  • Benarkah orang kaya tidak perlu mengambil risiko seperti yang harus kamu lakukan?

    Orang kaya membicarakan “mengambil risiko” seperti balita membicarakan cara bertahan hidup di alam liar setelah sepuluh menit main di halaman belakang. Orang kelas menengah atas terutama luar biasa soal ini karena mereka sungguh percaya diri mereka pejuang yang sukses sendiri padahal punya bantalan finansial yang cukup untuk bertahan dari keruntuhan ekonomi kecil. Mereka akan bercerita soal masa ketika mereka “tidak punya apa-apa” tepat sebelum dengan santai menyebut bahwa orang tua mereka menut

  • Benarkah orang kaya itu sosialis, walau mereka tidak akan pernah mengakuinya?

    Orang kelas bawah dan menengah sering salah memahami apa arti jadi orang kaya. Mereka membayangkan saldo rekening yang lebih besar, rumah yang lebih bagus, liburan yang lebih mewah, dan kebebasan lebih untuk membeli kemudahan. Itu memang sebagian dari ceritanya. Tapi bukan bagian yang paling penting.

  • Kalau kamu bukan miliarder, kenapa kamu memilih seperti seorang miliarder?

    Salah satu narasi paling efektif dalam politik Amerika adalah meyakinkan para profesional biasa bahwa mereka berada dalam kategori yang sama dengan miliarder. Pasangan berpenghasilan $220 ribu setahun di kota besar tetap bergantung pada gaji. Mereka masih mencemaskan PHK, biaya tempat tinggal, layanan kesehatan, pengasuhan anak, dan masa pensiun. Mereka tak bisa membeli pengaruh politik. Mereka tak bisa menggerakkan pasar. Mereka tak bisa bertahan tanpa batas dari aset yang terus naik nilainya s

  • Apakah kita semua disandera lewat 401(k) demi menyokong kelas miliarder?

    Salah satu hal paling berdampak yang pernah dilakukan Amerika adalah mengganti pensiun dengan 401(k) lalu menyalurkan jutaan orang biasa ke pasar saham lewat reksa dana indeks dan rekening pensiun. Bukan karena itu mengubah sebagian besar warga Amerika jadi pemilik modal dalam arti apa pun. Kepemilikan saham masih sangat terpusat di 0,1 persen teratas. Tapi itu memberi cukup banyak orang paparan sebagian sehingga publik mulai secara emosional menyamakan diri dengan kepentingan kelas pemilik aset

  • Bisakah kamu memakai Cartier dengan bermartabat setelah "menyerah soal penampilan"?

    Cartier Tank adalah jadinya kalau sebuah jam tampak begitu elegan sampai semua orang yang memakainya langsung bertingkah seolah mereka berlibur musim panas di tempat-tempat dengan kapal layar warisan. Pemilik Tank punya kemampuan luar biasa memproyeksikan kekayaan turun-temurun sambil membalas pesan Slack tengah malam. Kamu akan bertemu direktur kreatif berusia tiga puluh empat tahun yang menyewa apartemen satu kamar dan entah bagaimana jam itu membuatmu mengira keluarganya dulu mungkin punya ja

  • Apakah orang "satu jam tangan saja sudah cukup" sebenarnya pamer lebih kencang daripada si kolektor?

    Slogan minimalis "satu jam tangan bagus sudah cukup buat seorang pria" itu bukan pengekangan diri. Itu pamer paling mahal di ruangan, memakai kerendahan hati sebagai samaran.

  • Bisakah kamu memakai Patek Philippe kalau kamu bahkan bukan tokoh utama dalam hidupmu sendiri?

    Patek Philippe adalah jadinya kalau sebuah merek jam memutuskan bahwa waktu itu sendiri adalah pusaka keluarga. Kebanyakan perusahaan jam menjualmu sebuah produk. Patek menjualmu gagasan bahwa kamu sementara dipercaya memegang artefak moral yang akan hidup lebih lama daripada kepribadianmu, pendapatmu, dan mungkin kemampuan seluruh garis keturunanmu untuk berpakaian dengan benar. Slogan terkenalnya—“Kamu tidak pernah benar-benar memiliki Patek Philippe, kamu hanya menjaganya untuk generasi berik

  • Apakah Rolex sport baja kini sinyal konformitas, bukan lagi sinyal selera?

    Rolex sport baja sudah bertahun-tahun berhenti menyinyalkan selera. Sekarang ia menyinyalkan bahwa kamu mengecek apa yang lagi dibeli semua orang.