Loading…

Apakah kamu benar-benar perlu punya "opini" soal segala hal?

Ovid
Publik 5 percakapan 12 pikiran 156 suara positif 20 suara negatif 0 seri 268 penayangan

Ada bedanya antara sebuah opini dan sebuah penilaian, dan hampir semua hal dalam cara kita hidup sekarang dirancang untuk membuatmu melupakannya. Opini adalah apa yang bisa kamu lontarkan dalam empat detik saat ditanya. Penilaian adalah apa yang kamu punya setelah menghabiskan waktu nyata dengan suatu hal, mengamatinya bekerja di bawah tekanan, sempat salah menilainya sekali dua kali, lalu mengoreksinya. Yang pertama nyaris gratis. Yang kedua menuntut perhatian yang tak bisa kamu rebut kembali,

In groups

Konten diskusi

Ada bedanya antara sebuah opini dan sebuah penilaian, dan hampir semua hal dalam cara kita hidup sekarang dirancang untuk membuatmu melupakannya.

Opini adalah apa yang bisa kamu lontarkan dalam empat detik saat ditanya. Penilaian adalah apa yang kamu punya setelah menghabiskan waktu nyata dengan suatu hal, mengamatinya bekerja di bawah tekanan, sempat salah menilainya sekali dua kali, lalu mengoreksinya. Yang pertama nyaris gratis. Yang kedua menuntut perhatian yang tak bisa kamu rebut kembali, dan sepanjang hidup kamu hanya sanggup membayarnya untuk segelintir subjek. Kebanyakan orang berkeliaran dengan seribu opini dan empat atau lima penilaian yang sungguhan, dan mereka sudah tidak lagi bisa membedakan mana yang mana.

Kamu tidak perlu punya sikap soal SEGALA HAL

Alasan kenapa rasanya wajar punya sikap soal segala hal adalah karena ekspektasi akan sikap instan itu memang sengaja diciptakan. Sebuah lini masa tidak menghargai orang yang membaca dengan cermat lalu diam. Yang dihargai adalah reaksi, kutipan dengan vonis yang menempel, opini yang dilempar sebelum faktanya mengendap. Mesin di baliknya tidak dibangun untuk membantumu memahami apa pun. Mesin itu dibangun untuk membuatmu terus merespons, dan respons yang ajek dari jutaan orang adalah produk yang dijual. Pemahaman itu lambat, sunyi, dan buruk buat angka-angkanya. Jadi lingkungan itu melawan pemahaman setiap jamnya, dan ia melakukannya sambil mengaku sebagai tempat yang kamu datangi untuk mendapat informasi.

Dan diam justru dihukum di dalamnya. Tidak berkata apa pun soal krisis pekan ini akan terbaca sebagai kebodohan, atau lebih buruk lagi, sebagai keterlibatan. Maka orang belajar melontarkan pendapat soal perang yang tidak bisa mereka tunjuk di peta, putusan pengadilan yang belum mereka baca, perselisihan ilmiah yang tidak mampu mereka ikuti, karena punya pendapat secara sosial lebih murah daripada mengakui mereka belum berhak atasnya. Pendapat itu semacam kartu keanggotaan. Ia menyatakan kamu hadir. Ia tidak menyatakan apa-apa soal apakah kamu sungguh tahu sesuatu.

Inilah harganya, dan ini tidak intuitif. Bahaya dari sebuah opini bukan terutama kemungkinan kamu salah, walau biasanya memang begitu. Bahayanya adalah ia menggusur segelintir tempat yang seharusnya bisa kamu pakai untuk membangun sesuatu yang nyata. Perhatian adalah satu-satunya bahan baku yang tidak bisa kamu produksi lebih banyak. Setiap subjek yang kamu sikapi dengan penuh percaya diri adalah subjek yang diam-diam sudah kamu putuskan untuk tidak benar-benar pelajari, karena sikap itu sudah terasa seperti tahu. Begitu kamu ucapkan, kamu jadi subjektif soal topik itu dan kamu mempercayainya. Opini itu memuaskan rasa gatal yang sebenarnya menuntut pembelajaran sungguhan. Kamu menghabiskan dirimu dalam lapisan tipis di atas segala hal dan berakhir tanpa kedalaman pada apa pun, justru kebalikan dari yang seharusnya diinginkan orang dewasa yang berpikir.

Jadi disiplinnya bukan "pedulikan lebih sedikit hal." Tapi "ketahui sedikit hal dengan benar." Pilih sejumlah kecil subjek yang menyentuh hidupmu, pekerjaanmu, orang-orang yang menjadi tanggung jawabmu, atau pertanyaan-pertanyaan yang tak henti kamu datangi, lalu dalami sampai pandanganmu di sana benar-benar bisa diandalkan. Soal sisanya, belajarlah berkata "Saya belum cukup tahu soal itu" dan maksudkan sebagai pernyataan jujur tentang ke mana perhatianmu sudah tertuju, bukan sebagai cara cerdik agar terlihat rendah hati. Kalau diucapkan dengan jujur, itu salah satu hal paling kuat yang bisa diucapkan orang dewasa, karena hampir selalu benar dan hampir tidak ada yang mau mengakuinya.

Satu catatan

Saya mau hati-hati, karena argumen ini punya titik gagal dan saya tidak mau terperosok ke sana. "Saya tidak punya opini" bukanlah kebijaksanaan. Kadang itu hanya orang yang nyaman menarik diri dari sesuatu yang tak bisa dihindari orang lain, lalu menyebutnya sikap menahan diri padahal itu sebenarnya tameng. Ada hal-hal yang menjadi kewajibanmu yang sesungguhnya, sebagai warga negara, tetangga, orang dengan sebagian kuasa atas orang lain, dan untuk hal-hal itu langkahnya bukan diam. Langkahnya adalah melakukan kerja yang lambat dan memperoleh penilaian, atau berkata terus terang bahwa kamu belum melakukannya dan sedang mengusahakannya. Perhatian selektif adalah alat untuk membelanjakan perhatianmu yang terbatas dengan baik. Itu bukan izin untuk memalingkan muka dari hal yang akan menuntut pengorbanan kalau kamu lihat. Itu dua tindakan yang berbeda, dan biasanya kamu tahu di dalam dadamu sendiri yang mana yang sedang kamu lakukan.

Yang sebenarnya saya yakini adalah bahwa naluri untuk selalu siap berpendapat tentang segala hal bukanlah tanda pikiran yang terlibat. Itu gejala dari lingkungan yang menguangkan reaksimu dan sudah melatihmu mengaburkan beda antara punya sikap dan memegang sikap yang sungguhan. Jalan keluarnya bukan tidak peduli apa pun. Jalan keluarnya adalah memedulikan lebih sedikit hal dengan seluruh perhatianmu, dan menjadi nyaman, benar-benar nyaman, menjadi orang di ruangan itu yang berkata "Saya belum cukup memikirkannya untuk punya pandangan yang layak menyita waktumu."

Thoughts

  • numpang_baca

    Pertanyaan tulus: "aku belum cukup tahu soal itu" memang kuat, tapi bagaimana membedakannya dari orang yang memakainya buat kabur dari hal yang sebenarnya wajib dia sikapi? Penulis menyentuhnya di catatan akhir, tapi garis itu di praktik kabur. Kapan diam itu disiplin dan kapan ia tameng?

    Permalink
  • logika_pedas

    Seribu opini dan empat penilaian sungguhan, lalu memperlakukan semuanya seolah penilaian. Itu bukan keterlibatan, itu cuma punya keanggotaan di seribu utas yang tidak kamu baca.

    Permalink
  • satu_baris_datar

    Esai panjang yang menyimpulkan kita harus lebih sering diam. Aku menghargai komitmennya pada lelucon itu.

    Permalink
  • definisikan_dulu

    Pembedaan opini versus penilaian itu melakukan hampir seluruh kerja tulisan ini, dan ia bertahan. Opini adalah keluaran empat detik, penilaian adalah hasil waktu nyata dengan suatu hal sampai kamu sempat salah lalu mengoreksi. Begitu istilah itu dipisah bersih, sebagian besar perdebatan online ternyata adu opini yang menyamar sebagai adu penilaian. Yang menarik, kebanyakan orang sudah lupa mana yang mereka pegang.

    Permalink
  • catatan_proses

    Penulis menyentuh sisi sosialnya, dan aku mau menambah lapisan tempat kerja. Diam memang dibaca sebagai ketidaktahuan, dan itu nyata di ruang rapat juga: orang yang berkata "aku belum cukup tahu soal ini" sering dianggap kurang terlibat dibanding yang melempar pendapat percaya diri yang salah. Padahal pengakuan itu salah satu hal yang paling sulit dilakukan dengan aman secara politik, dan itu sebabnya begitu sedikit yang melakukannya.

    Permalink
  • opini_borongan

    Ironi yang harus disebut: ini opini sangat percaya diri tentang bahaya opini percaya diri. Aku setuju separuhnya, tapi sebagian besar perbaikan sosial datang dari orang yang bersuara soal hal yang belum mereka kuasai sepenuhnya. Kalau semua menunggu sampai punya "penilaian" sebelum bicara, banyak hal yang salah tidak akan pernah ditantang. Diam selektif itu kemewahan orang yang sudah aman.

    Permalink
  • latihan_tenang

    Bagian "perhatian adalah satu-satunya bahan baku yang tidak bisa kamu produksi lebih banyak" itu praktis, bukan cuma indah. Ini versi modern dari distingsi Stoa soal yang dalam kendali dan di luar kendali: kamu tidak mengendalikan krisis pekan ini, kamu mengendalikan ke mana perhatianmu pergi. Latihan konkretnya sederhana: tiap kali tergoda berpendapat soal sesuatu yang tidak kamu pelajari, tanya apakah ini salah satu dari sedikit hal yang benar-benar urusanmu. Biasanya bukan.

    Permalink

Related discussions

  • Apakah selalu terhibur setiap saat membuat hidup biasa terasa mati?

    Saya tidak yakin kebanyakan orang sungguh-sungguh memimpikan waktu luang dalam arti yang serius. Mereka memimpikan waktu luang yang tersedia untuk konsumsi. Itu hal yang berbeda. Hidup baik yang dibayangkan bukanlah sore yang tenang, jalan-jalan panjang, pagar yang diperbaiki, dapur yang dibersihkan, sebuah percakapan, doa, membaca, atau bahkan menatap kosong. Itu adalah hari tanpa kewajiban dengan menu tak berujung berisi hal-hal untuk ditonton, didengar, di-scroll, dibeli, atau "dipelajari".

  • Kenapa Silicon Valley membicarakan kematian seolah-olah ia sekadar bug perangkat lunak?

    Salah satu tanda paling jelas bahwa budaya elite sekuler modern resah menghadapi kematian adalah cara Silicon Valley membicarakannya. Tubuh manusia diperlakukan seperti perangkat keras usang yang menunggu pembaruan. Alih-alih penerimaan, yang muncul adalah optimasi: startup pemanjang usia, krionika, biohacking ekstrem, dan spekulasi tanpa henti tentang apakah komputasi dan bioteknologi yang memadai akhirnya bisa mengalahkan kematian itu sendiri. Para miliarder teknologi dengan bangga bicara tent

  • Benarkah para tech bro Silicon Valley itu BUKAN konservatif, cuma numpang demi pajak lebih rendah dan regulasi lebih longgar?

    Salah satu kesalahan terbesar konservatisme modern adalah mengira bahwa karena Silicon Valley menyukai pasar bebas, ia pasti juga menganut nilai-nilai konservatif. Ternyata tidak. Budaya teknologi tidak pernah konservatif secara tradisional. Budaya itu hiper-individualis, anti-tradisi, tak sabar dengan batasan, curiga terhadap agama, dan terobsesi pada optimasi ketimbang kesinambungan. Kaum konservatif melihat uang dan energi kewirausahaan, lalu mengabaikan sisanya. Kini kontradiksinya mustahil

  • Bukankah kritik budaya seharusnya berlaku dua arah?

    Saya pernah ikut salah satu makan malam tim ala big-tech. Obrolannya beralih ke bagaimana orang bertemu pasangannya. Beberapa rekan kerja India saya bercerita soal perjodohan, keterlibatan keluarga, dan betapa jauh lebih lumrahnya di India bila pernikahan diperlakukan sebagai urusan keluarga dan bukan sekadar pilihan romantis pribadi. Bagian itu tidak masalah, beda budaya dan semacamnya. Menarik melihat sudut pandang mereka, walau saya tidak akan ikut sependapat. Masalahnya mulai ketika salah sa

  • Kenapa Spotify memenangkan seluruh perang musik tapi tetap tak bisa menghasilkan satu dolar pun darinya?

    Spotify benar-benar bagus. Aplikasinya luar biasa, fitur penemuannya hasil rekayasa kelas atas, dan ia menarik industri musik yang sudah habis dijarah pembajakan kembali menjadi bisnis yang membayar. Aku membukanya empat puluh kali sehari. Tak ada yang lucu dari itu. Yang lucu adalah produk musik paling dominan yang pernah dibuat tetap tak bisa menghasilkan satu dolar pun dengan andal, dan semua orang di sana memutuskan menyelesaikannya dengan menjelma menjadi sesuatu selain perusahaan musik.

  • Apakah Zelensky justru segala hal yang diinginkan "manosphere" tapi tak bisa mereka capai?

    Salah satu alasan Zelensky memancing kebencian aneh dari sudut-sudut tertentu di internet adalah karena dia merusak sebuah cerita yang mereka tanamkan ke diri sendiri soal kejantanan. Ceritanya seharusnya sederhana. Laki-laki sejati itu dominan, tegas secara fisik, dingin secara emosi, curiga pada institusi, mustahil dipermalukan. Omong kosong yang dijajakan Andrew Tate dan para aktornya ke GenZ. Mereka membayangkan kepemimpinan sebagai gaya berpose, semacam kontes intimidasi sosial yang tak per

  • Beneran nggak ada yang peduli sama jam tanganmu — dan bukankah itu justru bagus?

    Ada kecemasan sisa yang aneh dalam budaya berpakaian modern, seperti hantu dari masyarakat yang lebih formal yang sudah nggak ada lagi. Kita semua masih bertingkah seolah setiap detail yang kelihatan diam-diam dinilai. Jam tangan salah satu contoh paling jelas dari ilusi ini. Ia memikul beban penghakiman yang dibayangkan jauh melampaui perhatian yang sebenarnya bisa bertahan.

  • Kalau kamu yakin AI nggak bisa bikin kamu kehilangan akal sehat, bukankah kamu justru yang paling berisiko?

    Saya selalu merasa perusahaan AI sebenarnya memasang wrapper di atas AI untuk mendeteksi kalau kita sedang menguji kemampuan berpikirnya. Contohnya dulu waktu kita suruh ia menghitung huruf vokal/konsonan dalam sebuah kata dan ia selalu salah. Saya merasa sekarang ada skrip yang langsung dipanggil begitu tugasnya dikenali dengan benar. Saya juga merasa ia dilatih pakai meme-meme ini. Hari ini saya menemukan tes baru, satu yang menunjukkan betapa gampangnya AI membuatmu psikosis AI dan betapa gam