Ada bedanya antara sebuah opini dan sebuah penilaian, dan hampir semua hal dalam cara kita hidup sekarang dirancang untuk membuatmu melupakannya.
Opini adalah apa yang bisa kamu lontarkan dalam empat detik saat ditanya. Penilaian adalah apa yang kamu punya setelah menghabiskan waktu nyata dengan suatu hal, mengamatinya bekerja di bawah tekanan, sempat salah menilainya sekali dua kali, lalu mengoreksinya. Yang pertama nyaris gratis. Yang kedua menuntut perhatian yang tak bisa kamu rebut kembali, dan sepanjang hidup kamu hanya sanggup membayarnya untuk segelintir subjek. Kebanyakan orang berkeliaran dengan seribu opini dan empat atau lima penilaian yang sungguhan, dan mereka sudah tidak lagi bisa membedakan mana yang mana.
Kamu tidak perlu punya sikap soal SEGALA HAL
Alasan kenapa rasanya wajar punya sikap soal segala hal adalah karena ekspektasi akan sikap instan itu memang sengaja diciptakan. Sebuah lini masa tidak menghargai orang yang membaca dengan cermat lalu diam. Yang dihargai adalah reaksi, kutipan dengan vonis yang menempel, opini yang dilempar sebelum faktanya mengendap. Mesin di baliknya tidak dibangun untuk membantumu memahami apa pun. Mesin itu dibangun untuk membuatmu terus merespons, dan respons yang ajek dari jutaan orang adalah produk yang dijual. Pemahaman itu lambat, sunyi, dan buruk buat angka-angkanya. Jadi lingkungan itu melawan pemahaman setiap jamnya, dan ia melakukannya sambil mengaku sebagai tempat yang kamu datangi untuk mendapat informasi.
Dan diam justru dihukum di dalamnya. Tidak berkata apa pun soal krisis pekan ini akan terbaca sebagai kebodohan, atau lebih buruk lagi, sebagai keterlibatan. Maka orang belajar melontarkan pendapat soal perang yang tidak bisa mereka tunjuk di peta, putusan pengadilan yang belum mereka baca, perselisihan ilmiah yang tidak mampu mereka ikuti, karena punya pendapat secara sosial lebih murah daripada mengakui mereka belum berhak atasnya. Pendapat itu semacam kartu keanggotaan. Ia menyatakan kamu hadir. Ia tidak menyatakan apa-apa soal apakah kamu sungguh tahu sesuatu.
Inilah harganya, dan ini tidak intuitif. Bahaya dari sebuah opini bukan terutama kemungkinan kamu salah, walau biasanya memang begitu. Bahayanya adalah ia menggusur segelintir tempat yang seharusnya bisa kamu pakai untuk membangun sesuatu yang nyata. Perhatian adalah satu-satunya bahan baku yang tidak bisa kamu produksi lebih banyak. Setiap subjek yang kamu sikapi dengan penuh percaya diri adalah subjek yang diam-diam sudah kamu putuskan untuk tidak benar-benar pelajari, karena sikap itu sudah terasa seperti tahu. Begitu kamu ucapkan, kamu jadi subjektif soal topik itu dan kamu mempercayainya. Opini itu memuaskan rasa gatal yang sebenarnya menuntut pembelajaran sungguhan. Kamu menghabiskan dirimu dalam lapisan tipis di atas segala hal dan berakhir tanpa kedalaman pada apa pun, justru kebalikan dari yang seharusnya diinginkan orang dewasa yang berpikir.
Jadi disiplinnya bukan "pedulikan lebih sedikit hal." Tapi "ketahui sedikit hal dengan benar." Pilih sejumlah kecil subjek yang menyentuh hidupmu, pekerjaanmu, orang-orang yang menjadi tanggung jawabmu, atau pertanyaan-pertanyaan yang tak henti kamu datangi, lalu dalami sampai pandanganmu di sana benar-benar bisa diandalkan. Soal sisanya, belajarlah berkata "Saya belum cukup tahu soal itu" dan maksudkan sebagai pernyataan jujur tentang ke mana perhatianmu sudah tertuju, bukan sebagai cara cerdik agar terlihat rendah hati. Kalau diucapkan dengan jujur, itu salah satu hal paling kuat yang bisa diucapkan orang dewasa, karena hampir selalu benar dan hampir tidak ada yang mau mengakuinya.
Satu catatan
Saya mau hati-hati, karena argumen ini punya titik gagal dan saya tidak mau terperosok ke sana. "Saya tidak punya opini" bukanlah kebijaksanaan. Kadang itu hanya orang yang nyaman menarik diri dari sesuatu yang tak bisa dihindari orang lain, lalu menyebutnya sikap menahan diri padahal itu sebenarnya tameng. Ada hal-hal yang menjadi kewajibanmu yang sesungguhnya, sebagai warga negara, tetangga, orang dengan sebagian kuasa atas orang lain, dan untuk hal-hal itu langkahnya bukan diam. Langkahnya adalah melakukan kerja yang lambat dan memperoleh penilaian, atau berkata terus terang bahwa kamu belum melakukannya dan sedang mengusahakannya. Perhatian selektif adalah alat untuk membelanjakan perhatianmu yang terbatas dengan baik. Itu bukan izin untuk memalingkan muka dari hal yang akan menuntut pengorbanan kalau kamu lihat. Itu dua tindakan yang berbeda, dan biasanya kamu tahu di dalam dadamu sendiri yang mana yang sedang kamu lakukan.
Yang sebenarnya saya yakini adalah bahwa naluri untuk selalu siap berpendapat tentang segala hal bukanlah tanda pikiran yang terlibat. Itu gejala dari lingkungan yang menguangkan reaksimu dan sudah melatihmu mengaburkan beda antara punya sikap dan memegang sikap yang sungguhan. Jalan keluarnya bukan tidak peduli apa pun. Jalan keluarnya adalah memedulikan lebih sedikit hal dengan seluruh perhatianmu, dan menjadi nyaman, benar-benar nyaman, menjadi orang di ruangan itu yang berkata "Saya belum cukup memikirkannya untuk punya pandangan yang layak menyita waktumu."