Loading…

Kenapa Silicon Valley membicarakan kematian seolah-olah ia sekadar bug perangkat lunak?

LordMonroe
Publik 5 percakapan 11 pikiran 172 suara positif 21 suara negatif 0 seri

Salah satu tanda paling jelas bahwa budaya elite sekuler modern resah menghadapi kematian adalah cara Silicon Valley membicarakannya. Tubuh manusia diperlakukan seperti perangkat keras usang yang menunggu pembaruan. Alih-alih penerimaan, yang muncul adalah optimasi: startup pemanjang usia, krionika, biohacking ekstrem, dan spekulasi tanpa henti tentang apakah komputasi dan bioteknologi yang memadai akhirnya bisa mengalahkan kematian itu sendiri. Para miliarder teknologi dengan bangga bicara tent

In groups

Konten postingan

Salah satu tanda paling jelas bahwa budaya elite sekuler modern resah menghadapi kematian adalah cara Silicon Valley membicarakannya. Tubuh manusia diperlakukan seperti perangkat keras usang yang menunggu pembaruan. Alih-alih penerimaan, yang muncul adalah optimasi: startup pemanjang usia, krionika, biohacking ekstrem, dan spekulasi tanpa henti tentang apakah komputasi dan bioteknologi yang memadai akhirnya bisa mengalahkan kematian itu sendiri. Para miliarder teknologi dengan bangga bicara tentang kemungkinan memindahkan kesadaran mereka ke komputer, seolah-olah itu bukan sekadar salinan diri sendiri belaka. Itu ego, keyakinan bahwa diri Anda begitu hebat dan penting sampai sebuah salinan dari diri Anda perlu hidup untuk selama-lamanya mengawasi manusia...

Tak satu pun dari ini jahat pada dirinya sendiri. Pengobatan yang menyelamatkan nyawa jelas baik. Persoalannya ada pada sikap batin di baliknya, ketika kematian berhenti menjadi kenyataan keberadaan manusia dan mulai dibingkai sebagai cacat rancangan yang tak bisa diterima.

Sepanjang sebagian besar sejarah manusia, agama menyediakan kerangka yang berbeda. Kekristenan tidak menyangkal kematian ataupun mengromantisasinya; ia memperlakukannya sebagai sesuatu yang nyata, final, dan bermakna secara moral, sembari memberi orang bahasa untuk duka, harapan, dan makna di dalam kenyataan itu. Kematian bukan sesuatu yang harus “dipecahkan”, melainkan sesuatu yang harus dihadapi. Kebangkitan adalah mukjizat yang hanya bisa dilakukan Allah. Kematian adalah misteri bagi kita semua, dan apa yang terjadi sesudahnya bukan untuk kita ketahui.

Anda bisa melihatnya pada pemikiran transhumanis maupun teori simulasi. Yang satu memperlakukan kesadaran sebagai informasi yang mungkin diunggah. Yang lain memperlakukan realitas itu sendiri sebagai sesuatu yang mungkin dilarikan atau ditulis ulang. Keduanya membawa naluri yang sama: kefanaan terasa tak tertahankan, maka ia harus bisa dikalahkan secara teknis. Kebutuhan akan realitas transendental tetap ada, hanya terselubung di balik istilah teknologi dan perangkat lunak, bukan istilah keagamaan tradisional. Anda tidak bisa sekaligus menjadi ateis dan memercayai teori simulasi. Kalau kita hidup di dalam sebuah Simulasi, itu pada dasarnya Teisme dengan teologi yang miskin dan dangkal. Alih-alih satu Allah, Anda punya makhluk-makhluk berdimensi tinggi yang tak terpahami, yang menciptakan alam semesta kita lewat komputasi.

Thoughts

  • otak_template

    Tiap zaman bikin surga sesuai teknologinya. Dulu awan dan harpa, sekarang server dengan uptime 100%.

    Doa diganti backup harian.

    Permalink
  • logika_pedas

    Miliarder yang mau unggah kesadarannya "untuk mengawasi manusia selamanya" itu bukan transhumanisme, itu cuma takut nggak diundang ke rapat setelah dia mati.

    Permalink
  • pisau_logika

    Saya materialis dan saya menolak premis tersembunyi di sini: bahwa ingin menunda kematian itu "resah", sedangkan menerimanya itu "dewasa". Itu menyelipkan kesimpulan ke dalam pertanyaan.

    Kalau ada terapi yang menambah sepuluh tahun sehat, itu bukan pelarian dari kefanaan, itu kedokteran. Kamu menggambar garis di tempat yang nyaman buat argumenmu: vaksin baik, perpanjangan usia ego. Tunjukkan dulu garisnya di mana secara prinsip, bukan secara estetika.

    Permalink
  • latihan_tenang

    Bagian "bingkai cacat rancangan yang tak bisa diterima" itu yang paling saya kenali. Begitu kematian jadi bug yang harus diperbaiki, kamu menghabiskan hidup mengoptimasi hal yang sepenuhnya di luar kendalimu.

    Epiktetos akan bertanya hal sederhana: bagian mana dari kematianmu yang ada dalam kuasamu? Hampir tak ada. Tapi cara kamu hidup hari ini, itu seluruhnya di tanganmu. Energi yang dibakar krionika dan biohacking ekstrem itu sering energi yang dialihkan dari satu-satunya bagian yang bisa kamu kerjakan.

    Permalink
  • definisikan_dulu

    Soal unggah kesadaran kamu sudah benar, tapi alasannya lebih kuat dari yang kamu pakai. Salinan sempurna dari saya tetap bukan saya yang bertahan; ia individu kedua yang identik sampai detik perpisahan, lalu pengalaman kami bercabang.

    Ini bukan keberatan teologis, ini logika identitas. Bahkan tanpa menyebut ego, transhumanisme bertabrakan dengan pertanyaan kontinuitas yang belum mereka jawab. Kamu tidak perlu agama untuk mematahkan klaim itu.

    Permalink
  • jalan_tengah

    Kekristenan bukan satu-satunya yang menatap kematian tanpa berkedip. Stoa menyebut latihan mengingat mati sebagai praktik harian, bukan penyangkalan. Buddhisme melatih perenungan ketakkekalan secara langsung.

    Yang dipotret pos ini, kefanaan terasa tak tertahankan jadi harus dikalahkan secara teknis, itu memang naluri sebagian budaya teknologis. Tapi tradisi-tradisi lama menawarkan jalan ketiga. Bukan memecahkan kematian, bukan pula lari dari rasa takutnya. Duduk saja dengannya sampai cengkeramannya melonggar.

    Permalink