Satu hal yang mulai terlihat palsu setelah bertahun-tahun di dunia teknologi adalah obsesi pada "disrupsi" sebagai penjelasan untuk setiap perusahaan sukses. Perusahaan yang menang sekadar mengeksekusi lebih baik daripada yang lain di pasar yang sudah ada.
Facebook bukan terobosan konseptual yang mustahil. Jejaring sosial sudah ada. MySpace ada. Friendster ada dan sebagian besar fitur yang dimiliki Facebook sudah hadir di kedua platform itu. Orang sudah langsung paham kategori produknya. Facebook hanya mengeksekusi produk, model identitas, infrastruktur, dan mekanika pertumbuhan dengan lebih baik pada waktu yang tepat. Ia memberi kesan eksklusif, situsnya mudah dan sederhana. Ia tidak berinovasi, tetapi mengenali titik-titik nyeri dan melibas pesaingnya.
Sama dengan Instagram. Berbagi foto bukan hal baru. Filter bukan hal baru. Mengunggah gambar ke internet jelas bukan hal baru. Instagram hanya menghapus hambatan dan mengeksekusi perilaku mobile dengan lebih baik daripada semua pemain lain yang berputar di ruang yang sama.
Google bukan mesin pencari pertama. Bahkan bukan Altavista. Ingat Yahoo? Mereka adalah Google-nya awal 2000-an. YouTube juga bukan platform video pertama. Lucunya, YouTube bahkan tidak dimulai sebagai platform video, melainkan sebagai situs kencan (lenyap sudah visi jangka panjang dan rencana bisnismu). Palantir tidak "menciptakan" analisis data perusahaan. Banyak dari yang mereka kerjakan lebih mendekati "bagaimana kalau IBM benar-benar merilis sistem yang bisa dipakai orang secara operasional." Tesla bukan perusahaan mobil pertama, juga bukan mobil listrik pertama. Bahkan bukan yang pertama membidik mobil swakemudi (itu General Motors pada 1939). Lenyap sudah visi dan perencanaan jangka panjangmu. Dan itu GM dari sekian banyak perusahaan...
Omong-omong, ini bukan hinaan
Eksekusi adalah keseluruhan permainannya, lebih sering daripada yang mau diakui pimpinan perusahaan. Tetapi eksekusi kurang romantis dibanding penemuan, jadi industri terus menulis ulang kesuksesan operasional menjadi mitologi setelah faktanya. Tak ada yang membuat film tentang keseharian. Kamu mau visi, cerita untuk diceritakan. Seorang inovator yang melihat masa depan akan seperti apa lalu mewujudkannya. Lagi pula, kalau visi dan perencanaan jangka panjang tidak begitu penting, tiba-tiba para pelaksana sesungguhnya (insinyur, manajer, direktur...) jadi lebih dihargai.
Karena "kami punya disiplin organisasi yang lebih baik, pengaturan waktu yang lebih baik, penskalaan infrastruktur yang lebih baik, pertimbangan produk yang lebih baik, dan lebih sedikit hambatan buatan sendiri" tidak terdengar layak diberitakan. Itu terdengar seperti konsultan manajemen. Lucunya, para insinyur biasanya memahami ini lebih awal daripada para investor atau orang media.
Kalau kamu sudah cukup lama bekerja di dalam organisasi besar, kamu sadar betapa banyak bagian pasar yang dibiarkan kurang terlayani bukan karena tak ada yang punya idenya, melainkan karena pemain lama terlalu gembung, terpecah-pecah, penuh politik internal, atau terlalu teralih untuk mengeksekusi secara koheren. Sejumlah peluang startup yang mengejutkan banyaknya cuma soal: "penyedia yang ada sekarang lambat dan menjengkelkan." Hanya itu. Bukan sains revolusioner. Bukan pergeseran paradigma. Cuma celah eksekusi yang cukup lebar untuk dilewati truk. Google yang memunculkan ide transformer pun toh nyaris ketinggalan kapal dalam soal AI.
Mitologi ini bertahan karena Silicon Valley secara budaya lebih menyukai kisah pendiri-sebagai-nabi ketimbang pendiri-sebagai-pelaksana. Yang kedua terdengar kurang... romantis, padahal lebih dekat dengan kenyataan di sebagian besar perusahaan sukses. Bahkan Peter Thiel menulis buku penuh puja diri (Zero to One) yang bicara soal disrupsi, padahal pencapaiannya saat itu cuma satu lagi pemroses pembayaran seolah Visa, Mastercard dan lainnya belum ada. Menurutku ini menyimpangkan cara orang memahami pasar. Mereka mulai berburu ide lahan kosong yang belum tersentuh alih-alih melihat sistem yang sudah ada yang setiap hari dikeluhkan semua orang. Mereka pikir kesuksesan menuntut penciptaan permintaan padahal dalam praktiknya banyak perusahaan bernilai miliaran dolar lahir dari menyadari bahwa permintaan yang sudah ada dilayani dengan buruk.
Kamu tidak harus menang dengan menciptakan sesuatu yang belum pernah dilihat siapa pun. Sering kali kamu menang karena pemain yang ada sudah berpuas diri, terlalu rumit, lambat, atau secara organisasi tak mampu memperbaiki hal yang sudah mereka miliki.