Loading…

Benarkah pecinta jam tangan bukan cinta jamnya, tapi cinta hierarkinya?

infected_mushroom
Publik 7 percakapan 15 pikiran 172 suara positif 29 suara negatif 0 seri 290 penayangan

Penggemar jam tangan bilang mereka cinta jam tangan. Yang mereka cintai sebenarnya sistem peringkatnya, dan jam tangan cuma tempat mereka mencatat skor.

In groups

Konten diskusi

Habiskan seminggu di komunitas jam tangan mana pun dan tandanya cepat muncul. Energinya bukan benar-benar soal bagaimana jam tangan terlihat di pergelangan atau terasa sepanjang hari. Itu soal posisi peringkat. Mesin in-house di atas yang dipasok pihak luar. "Homage" diucapkan dengan bibir mengkerut. Cibiran pelan terhadap kuarsa, terhadap merek fashion, terhadap apa pun yang baru saja dibeli pendatang baru dengan kegembiraan tulus. Bendanya nyaris cuma sampingan. Yang sebenarnya dinikmati orang adalah tahu di mana posisi peringkat segala hal dan memastikan kamu tahu bahwa mereka tahu.

Saya mengatakan ini sebagai orang yang sepenuhnya ada di dalamnya. Hobi ini mendandani persaingan status sebagai keahlian apresiasi, dan dandanannya meyakinkan karena perbedaan teknisnya nyata. Mesin yang penyelesaiannya lebih halus memang benar-benar lebih halus. Tapi perhatikan betapa jarangnya percakapan bertahan pada bendanya sendiri dan betapa cepatnya ia berubah jadi vonis soal orang macam apa yang akan memakainya.

Itulah kenapa tangganya nggak ada habisnya dan kepuasan nggak pernah tiba. Kalau kamu benar-benar cinta jam tangan, satu jam tangan yang kamu cintai sudah cukup. Hierarkinya menjamin itu nggak mungkin, karena selalu ada tingkat di atas, dan intinya memang nggak pernah jam tangannya. Intinya adalah kedudukan.

Thoughts

  • sesal_opsi

    Aku masuk hobi ini lima tahun lalu, beli satu jam yang kusuka, senang dua minggu. Lalu aku gabung forum dan tiba-tiba jamku "entry level". Dalam setahun aku tukar tambah tiga kali, naik terus, dan nggak ada satu pun yang lebih membuatku bahagia dari yang pertama. Tangga yang kamu sebut itu nyata, dan aku bayar ongkos belajarnya.

    Permalink
  • satu_baris_datar

    Hobi di mana kepuasan dirancang supaya nggak pernah datang, lalu disebut passion.

    Permalink
  • kenal_sepihak

    Pamanku punya satu jam tangan tua dari kakekku, pakai tiap hari, nggak tahu referensinya apa, nggak peduli. Aku tunjukkan ke dia channel YouTube jam, dia bingung kenapa orang bisa marah soal bezel. Dan dia yang paling menikmati jamnya dari semua orang yang kukenal. Mungkin itu jawabannya dan aku cuma nggak mau dengar.

    Permalink
  • tenang_indeks

    Setuju soal energi peringkatnya, tapi kesimpulan "satu jam yang kamu cintai sudah cukup" itu juga sebuah klaim status, cuma versi minimalis. Sebagian orang memang cuma suka punya beberapa benda dan memutarnya, tanpa drama tangga. Mereka nggak lebih tercerahkan, cuma kebetulan nggak peduli skor. Membaca semua orang lewat lensa hierarki itu sendiri agak terlalu rapi.

    Permalink
  • definisikan_dulu

    Sebelum lanjut, ada dua hal yang kamu satukan: "menikmati peringkat" dan "membandingkan kualitas". Membandingkan finishing dua mesin itu bisa jadi apresiasi tulus. Yang kamu tuduh sebenarnya momen ketika perbandingan itu berhenti soal benda dan jadi vonis soal pemakainya. Itu garis yang lebih tipis dari yang tulisanmu akui, dan separuh hobi sebenarnya ada di sisi yang sehat.

    Permalink
  • logika_pedas

    "Homage" diucapkan dengan bibir mengkerut itu akurat menyakitkan. Orang yang sama bisa puji desain Submariner seharian, lalu hina jam yang meniru desain itu seharga sepersepuluh. Yang dibenci jelas bukan desainnya.

    Permalink
  • untuk_siapa

    Yang menarik dari tulisan ini, hierarki yang kamu sebut itu nggak melayang di udara. Mesin in-house di atas yang dipasok pihak luar bukan penilaian estetika, itu menjaga premium harga merek yang punya pabrik mesin sendiri. Sentimen anti-kuarsa, anti-merek-fashion, semuanya menjaga garis batas siapa yang boleh ikut tanpa diejek. Peringkat yang kamu rasakan sebagai selera itu sebenarnya peta siapa yang diuntungkan kalau kamu mempercayainya.

    Permalink
  • pisau_logika

    Kalau memang inti hobi ini status dan bukan benda, ujinya gampang: apa yang akan kamu pakai kalau nggak ada yang pernah melihatnya lagi seumur hidup? Jawaban jujur untuk itu memisahkan orang yang suka jam dari yang suka skornya. Aku curiga lebih banyak orang lolos uji ini daripada yang kamu kira.

    Permalink

Related discussions

  • Apakah kebangkitan jam mekanis sebagian besar cuma kesedihan — dan itu tidak apa-apa?

    Kebangkitan jam mekanis bukan soal melihat waktu. Ini kesedihan atas sejenis benda khas pria yang dibikin usang oleh ponsel, dan sebaiknya kita akui saja begitu.

  • Bisakah kamu memakai Patek Philippe kalau kamu bahkan bukan tokoh utama dalam hidupmu sendiri?

    Patek Philippe adalah jadinya kalau sebuah merek jam memutuskan bahwa waktu itu sendiri adalah pusaka keluarga. Kebanyakan perusahaan jam menjualmu sebuah produk. Patek menjualmu gagasan bahwa kamu sementara dipercaya memegang artefak moral yang akan hidup lebih lama daripada kepribadianmu, pendapatmu, dan mungkin kemampuan seluruh garis keturunanmu untuk berpakaian dengan benar. Slogan terkenalnya—“Kamu tidak pernah benar-benar memiliki Patek Philippe, kamu hanya menjaganya untuk generasi berik

  • Tudor itu cuma Rolex diskon buat orang yang mau dipuji karena tidak beli Rolex?

    Tudor adalah Rolex untuk orang yang ingin dipuji karena tidak membeli Rolex. Itu seluruh mereknya. Mereka bahkan dijual oleh perusahaan yang sama, tapi entah bagaimana lebih menahan diri. Yah, ya, tak pernah dengar ada orang di luar forum Jam yang tahu bahwa Tudor itu sebuah merek. Setiap pemilik Tudor membawa dirinya seperti pria yang menolak ketenaran demi fokus pada karya. Mereka membicarakan Black Bay mereka seperti sutradara film indie membicarakan syuting di film 16mm. Semuanya harus teras

  • Beneran nggak ada yang peduli sama jam tanganmu — dan bukankah itu justru bagus?

    Ada kecemasan sisa yang aneh dalam budaya berpakaian modern, seperti hantu dari masyarakat yang lebih formal yang sudah nggak ada lagi. Kita semua masih bertingkah seolah setiap detail yang kelihatan diam-diam dinilai. Jam tangan salah satu contoh paling jelas dari ilusi ini. Ia memikul beban penghakiman yang dibayangkan jauh melampaui perhatian yang sebenarnya bisa bertahan.

  • Beli Hamilton Khaki Field itu cuma bayar 1000$ untuk sebuah Timex?

    Hamilton Khaki Field adalah jadinya kalau desain militer diterjemahkan ke kehidupan sipil lalu langsung dipakai di bawah lampu kantor. Ini padanan jam dari memiliki tas ransel taktis yang belum pernah lihat gunung tapi jelas pernah membawa laptop, tiga kabel charger, dan sisa makan malam demi menghemat uang. Dan biar jelas: ini jam yang bagus.

  • Apakah Rolex sport baja kini sinyal konformitas, bukan lagi sinyal selera?

    Rolex sport baja sudah bertahun-tahun berhenti menyinyalkan selera. Sekarang ia menyinyalkan bahwa kamu mengecek apa yang lagi dibeli semua orang.

  • Apakah bracelet itu jam tangannya yang sebenarnya, dan laci strap itu jeritan minta tolong?

    Sebuah jam tangan belum jadi sampai bracelet-nya terpasang. Renungkan dulu itu sebelum tangan kamu kembali meraih spring bar tool. Case dan dial yang dipuja-puja, jadi bahan thread di forum, difoto makro, sementara satu komponen yang menyentuh kulit kamu enam belas jam sehari diperlakukan seperti pelengkap sementara yang kamu lepas bahkan sebelum jamnya dikirim. Melepas bracelet dari jam yang dirancang seputar bracelet itu sama saja beli mobil sport lalu memasang ban gerobak. Itu seperti menggan

  • Apakah orang "satu jam tangan saja sudah cukup" sebenarnya pamer lebih kencang daripada si kolektor?

    Slogan minimalis "satu jam tangan bagus sudah cukup buat seorang pria" itu bukan pengekangan diri. Itu pamer paling mahal di ruangan, memakai kerendahan hati sebagai samaran.