Loading…

Benarkah menegur manajermu bikin kamu tampak sehebat pahlawan yang kamu kira?

senior_slacker
Publik 5 percakapan 12 pikiran 166 suara positif 25 suara negatif 0 seri 278 penayangan

Saya sudah cukup sering melihat versi-versi peristiwa ini sampai saya bergidik setiap kali ada lagi junior yang melakukannya. Seorang manajer menyuruh kami mengerjakan sesuatu yang menjengkelkan. Salah satu insinyur, sering kali yang junior, memberontak dengan ngomel-ngomel, lelucon, pesan slack... Dia membongkar omong kosongnya dan semua yang menyaksikan tahu persis apa pendapat mereka soal bos itu. Tapi mereka tidak berakhir jadi pahlawan, pemberontak seperti yang mereka kira. Mereka mendapat

In groups

Konten diskusi

Saya sudah cukup sering melihat versi-versi peristiwa ini sampai saya bergidik setiap kali ada lagi junior yang melakukannya. Seorang manajer menyuruh kami mengerjakan sesuatu yang menjengkelkan. Salah satu insinyur, sering kali yang junior, memberontak dengan ngomel-ngomel, lelucon, pesan slack... Dia membongkar omong kosongnya dan semua yang menyaksikan tahu persis apa pendapat mereka soal bos itu. Tapi mereka tidak berakhir jadi pahlawan, pemberontak seperti yang mereka kira. Mereka mendapat kesunyian, kesunyian yang hati-hati, disengaja, dan dingin.

Yang sebenarnya dipertontonkan bukan keberanian atau kejernihan moral. Itu adalah kebebasan dari batasan yang masih dipikul semua orang lain di ruangan itu. Rekan-rekannya punya cicilan rumah, status imigrasi yang terikat ke pemberi kerja, anak yang sekolah, tabungan tipis, atau sekadar pilihan keluar yang lebih sedikit dan masuk akal. Mereka menyaksikan orang lain memperagakan toleransi risiko yang mereka sendiri tak sanggup tanggung. Mereka tidak senang, mereka cuma diingatkan bahwa orang lain BISA melakukan apa yang tak bisa mereka lakukan dan mereka iri dan agak dongkol. Ah, bukan mereka, tapi kita. Saya sering merasa begitu, terutama setelah cicilan pertama saya

Teguran di depan umum membuat perbandingan entah si pembicara berniat atau tidak. Satu orang menunjukkan bahwa persoalan ini cukup penting untuk ditindaklanjuti secara terbuka. Semua orang lain jadi pembandingnya, yang tidak cukup berani. Mereka entah kurang peduli, atau sama pedulinya tapi tak sanggup melakukan gestur yang sama. Kedua kemungkinan itu tak terasa mengenakkan

null
Tidak perlu keterangan

Ini bukan pembelaan untuk bos yang buruk. Kritiknya boleh jadi akurat dan, sejujurnya, pantas. Sebagian manajer luar biasa tolol dan memang layak ditegur, walau mungkin bukan lewat omelan di depan umum. Maksud saya, kamu jangan berharap diakui atas kepahlawananmu. Kalau pun kamu berharap, itu untuk dirimu sendiri dan untuk apa yang kamu rasa benar. Yang saya peringatkan, kamu jangan berharap konfrontasi terbukamu dianggap solidaritas padahal itu sebenarnya tindakan moral pribadi yang dipentaskan di depan rekan kerja yang tak punya margin risiko yang sama. Keberanian sejati di tempat kerja biasanya tampak kurang sinematik dari itu. Wujudnya berupa risiko yang ditanggung bersama, dokumentasi, koordinasi berulang, dan orang-orang yang bertahan dalam perjuangan cukup lama untuk mengubah ketentuan yang masih harus dijalani semua orang lain.

Ada pengecualian. Kadang tindakan terbuka itulah yang memberi tahu orang lain bahwa mereka tidak sendirian, dan kadang keterlihatan itu membantu respons kolektif terbentuk. Tapi bahkan dalam kasus seperti itu, konfrontasinya berarti karena ia menciptakan daya tawar untuk sesuatu yang terorganisir sesudahnya, bukan karena cuplikan itu sendiri adalah kemenangannya.

Orang yang paling mungkin berkonfrontasi secara terbuka sering kali juga yang paling sanggup keluar tak lama kemudian. Ngomel lalu pergi. Rekan-rekan yang tak sanggup bertindak masih di peran yang sama, di bawah manajemen yang sama, dengan batasan yang sama, dan konfrontasi itu sering membuat ruangan jadi sedikit lebih sulit ditinggali: manajemen jadi lebih defensif, semua orang tahu ada yang berani mengomelinya dan kini saatnya menjaga sisanya tetap terkendali bahkan lebih ketat.

Ya, kemarin saya melihat lagi seorang insinyur meledak ke manajernya. Dan kemungkinan saya akan melihat satu lagi beberapa bulan ke depan. Dan ya, mereka tidak populer. Ya begitulah.

Thoughts

  • utang_keputusan

    Saya setuju, tapi mau lebih keras dari penulis di satu titik. Dia bilang keberanian sejati wujudnya dokumentasi, koordinasi berulang, orang yang bertahan cukup lama untuk mengubah ketentuan. Itu benar dan tidak sinematik. Tambahkan: ledakan publik sering aktif merusak jalur yang membosankan itu. Setelah ada yang ngomel di depan, manajemen jadi defensif dan menutup ruang untuk perubahan pelan yang sebenarnya bisa berhasil. Jadi bukan cuma kurang heroik, kadang ia menghancurkan opsi yang nyata.

    Permalink
  • catatan_proses

    Bagian soal "kesunyian yang disengaja dan dingin" itu persis yang saya lihat dari kursi orang yang membaca ruangan. Yang meledak mengira kesunyian itu rasa kagum yang tertahan. Sebenarnya itu kalkulasi: semua orang langsung menghitung apakah berdiri di dekatnya akan ikut menandai mereka. Konfrontasi terbuka memaksa orang lain memilih, dan kebanyakan memilih jarak. Itu bukan pengecut, itu orang yang punya cicilan membaca biaya.

    Permalink
  • kerja_tak_terlihat

    Saya mau bela versi yang penulis terlalu cepat lewati. Kadang ledakan publik itu satu-satunya yang memberi tahu orang lain bahwa mereka tidak gila, bahwa masalahnya nyata. Penulis menyebut pengecualian ini lalu buru-buru menutupnya. Tapi untuk orang yang sudah lama diyakinkan bahwa keluhannya berlebihan, melihat satu orang menamai masalahnya keras-keras itu bukan kemenangan kosong. Itu bukti. Biaya sosialnya nyata, tapi begitu juga nilainya, dan penulis menimbang yang kedua terlalu ringan.

    Permalink
  • peta_jalan_realis

    Saya pernah jadi orang di ruangan yang diam. Junior meledak ke manajer soal sesuatu yang memang salah, dan dia benar. Saya tidak ikut bukan karena tidak setuju, tapi karena saya yang harus menegosiasikan tanggal dengan manajer itu minggu depan, untuk seluruh tim. Yang meledak resign dua bulan kemudian. Saya masih di sana, dengan ruangan yang sekarang lebih sulit, dan manajer yang lebih waspada. Keberaniannya nyata. Konsekuensinya juga, dan yang menanggung bukan dia.

    Permalink
  • tiket_lotre_saham

    "Yang paling mungkin konfrontasi terbuka sering yang paling sanggup keluar." Iya. Ngomel lalu pergi itu mewah. Kamu butuh tabungan atau ego founder buat membayar pertunjukan itu, dan biasanya yang punya keduanya yang paling lantang.

    Permalink
  • ekonomi_feeling

    "mereka iri dan agak dongkol" jujur ini bagian yang nggak ada yang mau ngaku tapi kita semua pernah ngerasain di rapat 🥲

    Permalink
  • definisikan_dulu

    Satu pembedaan yang menjaga argumen ini tetap jujur: "keberanian" dan "toleransi risiko" sedang dicampur. Penulis hampir menyamakan keduanya, lalu menyimpulkan ledakan itu cuma pamer margin. Tapi orang bisa punya margin risiko besar dan tetap pengecut, dan orang bermargin tipis kadang tetap berdiri. Margin menjelaskan siapa yang mampu, bukan siapa yang berani. Memisahkan dua hal itu menyelamatkan poin penulis dari terbaca sinis terhadap semua yang bersuara.

    Permalink

Related discussions

  • Apakah kepribadianmu jauh lebih tidak penting daripada yang kamu kira?

    Dari interaksi dengan para pelajar, remaja, dan rekan kerja yang lebih muda, saya sadar banyak yang percaya bahwa sifat kepribadian mereka adalah faktor utama dalam menentukan apa yang harus dilakukan atau bagaimana menjalani karier. Meski yang muda menanyakannya lebih terang-terangan, orang yang lebih tua pun tampaknya berpikir dengan cara yang sama. Bagi saya pribadi, hal itu jauh lebih tidak relevan daripada yang dikira kebanyakan orang. Selain dari pekerjaan saya, tempat saya mengamati orang

  • Benarkah orang yang makan bersama akan berjuang bersama?

    Kelompok yang kuat tidak menjadi kuat semata-mata karena sepakat soal misi. Mereka menjadi kuat karena orang-orang berhenti terasa abstrak satu sama lain, mereka saling memandang sebagai manusia dan teman. Itulah salah satu alasan makan bersama lebih penting daripada kebanyakan program budaya resmi. Untuk membangun budaya tim, tidak perlu lokakarya dan acara keluar kantor yang mahal. Cukup hadir. Makan siang bareng tim, biarkan mereka makan bersama. Ngopi bareng...

  • Apakah pemisahan hard skills dan soft skills justru membuat orang makin buruk di keduanya?

    Hard skills adalah kemampuan atau pengetahuan teknis yang terukur, spesifik, dan bisa diajarkan, yang diperoleh lewat pendidikan, pelatihan, atau pengalaman, dan biasanya terkait langsung dengan suatu pekerjaan atau industri tertentu. Contohnya analisis data, pemrograman, desain grafis, akuntansi, menari, melukis… Kemampuan ini umumnya menjadi inti sebuah profesi, terutama bagian yang tidak menyangkut interaksi dengan orang lain. Sebaliknya, soft skills kebanyakan didefinisikan sebagai “atribut

  • Benarkah perusahaan tech diuntungkan oleh karyawan yang tak pernah berani membunuh ide buruk?

    Aku sudah cukup lama berpindah-pindah di organisasi tech sampai mengenali sebuah pola yang banyak dari kalian juga akan kenali. Sebagian tim bersikap pasif, mereka rilis tepat waktu, mencapai target, menjalankan proses yang rapi, tapi tak seorang pun pernah membunuh ide buruk di dalam rapat. Tak ada yang bilang ini hal yang salah untuk dibangun. Roadmap-nya memuat satu hal, atau enam, yang tiga orang diam-diam bicarakan kenapa itu takkan jalan, tapi ia bergerak lewat perencanaan tanpa sepatah ka

  • Bukankah Rolex Submariner lebih pantas disebut Rolex Officemaster?

    Rolex Submariner adalah objek fantasi terhebat yang pernah dijual kepada para pria dengan kalender Outlook. Jam ini menghabiskan tujuh puluh tahun meyakinkan orang finansial, dokter gigi, dan akuntan bahwa mereka petualang laut yang tangguh, bukan orang yang mengucap hal-hal seperti “kita bahas lagi setelah makan siang.” Submariner secara teknis adalah jam selam, tapi rata-rata jam ini lebih jarang kena air daripada kaktus, karena amit-amit kalau segelnya ternyata tak rapat dan bagian dalamnya b

  • Benarkah stack ranking pasti mengubah rekan kerja jadi musuh?

    Stack ranking selalu berujung politik karena ia mengubah arti kompetensi di dalam sebuah organisasi. Begitu karyawan dinilai relatif terhadap satu sama lain alih-alih terhadap standar atau tujuan yang stabil, rekan kerja terpintarmu berhenti menjadi aset yang bisa kamu pelajari dan ajak berkolaborasi, dan mulai menjadi pesaing. Kesuksesan mereka bisa menurunkan posisimu. Visibilitas mereka bisa merebut ruang promosimu. Keahlian mereka menjadi ancaman bagi rasa amanmu sendiri.

  • Kalau tak ada yang benar-benar memilih Oracle, kenapa semua orang tetap memakainya?

    Oracle adalah kecoak dunia teknologi enterprise: dibenci semua orang, dipakai semua orang, dan diisi orang-orang yang berhenti berpura-pura ia keren sejak era pemerintahan Clinton. Produknya adalah gerak penjualan, dan basis datanya adalah sandera.

  • Kenapa insinyur Meta menyebut kompensasinya sebelum menyebut perusahaannya?

    Meta membeli insinyur-insinyur terbaik di industri dengan paket kompensasi paling gendut yang pernah dilihat siapa pun, dan mendapat persis apa yang dibayarnya: angkatan tentara bayaran bergaji tinggi yang tak punya rasa apa-apa terhadap tempat itu dan tak mau menyebut namanya keras-keras di pesta.