Hiduplah lebih baik
Hiduplah lebih baik
Bagaimana kita harus bersyukur apakah jika kita bersyukur hidup akan semakin baik?
In groups
Konten diskusi
Related discussions
-
Komentar atas Bab VI: Ulama Berbicara tentang Do'a
Bab VI dari buku ini mengangkat tema yang sangat relevan dengan kehidupan keagamaan umat Islam sehari-hari, yakni bagaimana para ulama memandang dan menyikapi praktik do'a dari berbagai sudut pandang. Dengan judul "Ulama Berbicara tentang Do'a," bab ini tidak sekadar membahas do'a sebagai ritual ibadah biasa, melainkan menyelami perdebatan panjang yang telah berlangsung lintas generasi. Hal ini tercermin dari pernyataan penulis di awal bab: "Fiqhu al-du'a juga mempunyai ikhtilaf (perbedaan panda
-
"Mengapa kamu melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di matamu sendiri tidak kamu ketahui?"
Ada satu jenis ujaran Kristen tertentu yang selalu membuatku tidak nyaman. Bukan bahasa keyakinan moralnya sendiri. Agama Kristen tidak sungkan menyebut dosa. Yang menggangguku adalah nada yang menyelinap saat keyakinan diam-diam berubah menjadi rasa puas pada diri sendiri, seolah si pembicara sudah melangkah keluar dari keadaan yang sedang ia gambarkan.
-
Benarkah ateisme tidak membuatmu lebih rasional, malah menyisakan kekosongan mengerikan yang kamu isi dengan buruk?
Salah satu godaan ateis yang umum adalah mencampuradukkan ketidakpercayaan dengan kejernihan, menganggap bahwa agama adalah bagian yang irasional, sehingga menyingkirkan agama pasti menyisakan manusia yang lebih bersih dan lebih rasional. Tetapi manusia tidak bekerja seperti itu; manusia bergerak lewat keyakinan, emosi... Kita tidak berhenti mendambakan ritual, kemurnian, suku moral, rasa kesakralan, atau makna transenden hanya karena kita berhenti memakai bahasa keagamaan untuk hasrat-hasrat it
-
Benarkah monoteisme Katolik yang membuat alam semesta aman untuk dipelajari?
Mudah saja menceritakan kisah sains sebagai pemutusan bersih dari agama. Pencerahan menggantikan takhayul, pengamatan menggantikan iman, akal menggantikan otoritas. Kedengarannya rapi, dan itu menyanjung asumsi-asumsi modern. Tetapi cerita itu melewatkan sesuatu yang lebih menarik dan, harus diakui, lebih tidak nyaman bagi narasi tersebut: gagasan bahwa alam semesta itu dapat dipahami sejak awal bukanlah hal yang terbukti dengan sendirinya. Itu sebuah klaim metafisik. Dan monoteisme Katolik adal
-
Apakah bukan gereja yang merusak negara, tapi negaralah yang merusak gereja?
Gereja Konstantinus menjadi alat politik kekaisaran dalam satu generasi. Para uskup Franco menjadi kaki tangan pencurian anak. Patriark Kirill memberkati perang. Pertanyaannya bukan apakah Anda akan memperoleh pengaruh politik. Pertanyaannya adalah apa yang akan tersisa dari hal yang Anda mulai begitu orang-orang yang menginginkan pengaruh itu selesai dengannya.
-
Bukankah teori simulasi hanyalah teisme dengan langkah tambahan?
Salah satu perkembangan intelektual paling lucu satu dekade terakhir adalah menyaksikan orang-orang yang gencar bersikap sekuler menemukan ulang agama memakai istilah komputer, lalu bersikap seolah itu membuat gagasannya lebih rasional. Teori simulasi adalah contoh yang paling jelas. Konsep dasarnya sudah akrab sekarang, tapi akan saya ringkas: alam semesta kita mungkin sebuah simulasi buatan yang diciptakan oleh kecerdasan yang jauh lebih maju. Realitas kemungkinan diprogram. Kesadaran bisa ber
-
Haruskah kekristenan dinilai dari apa yang ada sebelumnya, bukan dari apa yang kita bangun di atasnya?
Salah satu kebiasaan yang lebih aneh dalam diskusi modern adalah bahwa kekristenan sering dinilai semata-mata dengan standar moral abad kedua puluh satu, sementara alternatifnya dinilai dengan kekristenan yang justru ikut membentuk standar-standar itu. Ini bukan berarti kekristenan bersih dari kesalahan. Perang agama pernah terjadi. Gereja menumpuk kekuasaan. Sesama orang Kristen saling menganiaya. Setiap pembacaan sejarah yang jujur harus mengakui itu. Pertanyaannya adalah apakah kekristenan me