Loading…

Haruskah kekristenan dinilai dari apa yang ada sebelumnya, bukan dari apa yang kita bangun di atasnya?

LordMonroe
Publik 7 percakapan 14 pikiran 144 suara positif 14 suara negatif 0 seri 224 penayangan

Salah satu kebiasaan yang lebih aneh dalam diskusi modern adalah bahwa kekristenan sering dinilai semata-mata dengan standar moral abad kedua puluh satu, sementara alternatifnya dinilai dengan kekristenan yang justru ikut membentuk standar-standar itu. Ini bukan berarti kekristenan bersih dari kesalahan. Perang agama pernah terjadi. Gereja menumpuk kekuasaan. Sesama orang Kristen saling menganiaya. Setiap pembacaan sejarah yang jujur harus mengakui itu. Pertanyaannya adalah apakah kekristenan me

In groups

Konten diskusi

Salah satu kebiasaan yang lebih aneh dalam diskusi modern adalah bahwa kekristenan sering dinilai semata-mata dengan standar moral abad kedua puluh satu, sementara alternatifnya dinilai dengan kekristenan yang justru ikut membentuk standar-standar itu.

Ini bukan berarti kekristenan bersih dari kesalahan. Perang agama pernah terjadi. Gereja menumpuk kekuasaan. Sesama orang Kristen saling menganiaya. Setiap pembacaan sejarah yang jujur harus mengakui itu. Pertanyaannya adalah apakah kekristenan membuat masyarakat yang disentuhnya lebih manusiawi dibanding budaya-budaya yang mendahuluinya.

Jawabannya sering kali ya

Ambil contoh peperangan. Para pengkritik benar ketika menunjukkan bahwa orang Kristen berperang. Begitu pula semua orang lain. Pertanyaan yang lebih menarik adalah apakah peradaban Kristen mengubah cara perang dipahami. Di dunia kuno, peperangan kerap diarahkan bukan sekadar pada pasukan, melainkan pada seluruh penduduk. Kota-kota dijarah. Penduduk sipil dibantai. Mereka yang selamat diperbudak. Jarang kaum lelaki, sih, mereka biasanya tewas dalam perang atau dieksekusi. Pemusnahan bangsa yang kalah sering dianggap akibat wajar dari kemenangan. Perempuan dan anak-anak diperbudak

Bangsa Romawi bisa luar biasa disiplin, tetapi bisa pula luar biasa kejam. Pemusnahan Kartago tetap menjadi salah satu contoh paling terkenal dalam sejarah. Peperangan Yunani sering kali kurang sistematis, tetapi penduduk sipil rutin menanggung akibatnya ketika kota-kota jatuh. Penaklukan tidak semata-mata bersifat militer. Ia bersifat sosial, ekonomi, dan demografis.

Dengan latar seperti itu, upaya-upaya Kristen abad pertengahan seperti Peace of God dan Truce of God layak diingat. Upaya itu tidak mengakhiri perang. Bahkan tidak mendekati. Yang memang dilakukannya adalah memperkenalkan gagasan radikal bahwa orang-orang tertentu harus dilindungi dari kekerasan dan bahwa peperangan itu sendiri harus dibatasi oleh kewajiban moral. Rohaniwan, petani, peziarah, perempuan, dan nonkombatan lain makin lama makin ditempatkan di luar sasaran konflik yang sah. Hasilnya tidak sempurna dan kerap dilanggar, tetapi tetap memperbaiki kehidupan dibanding sebelumnya. Namun prinsipnya penting. Sebuah peradaban mulai berargumen bahwa tidak semua orang di kubu musuh layak dijadikan sasaran.

Pola yang sama muncul dalam pembahasan tentang kebebasan pribadi. Orang modern sering menganggap kekristenan secara alamiah menentang kebebasan karena gereja secara historis mengatur perilaku moral. Padahal, salah satu perubahan paling berpengaruh yang diperkenalkan kekristenan justru menyangkut pernikahan itu sendiri.

Sepanjang sebagian besar sejarah manusia, pernikahan terutama merupakan kesepakatan antarkeluarga. Ia soal harta, persekutuan, warisan, dan kedudukan sosial. Keinginan sang mempelai perempuan sering kali jauh kurang diperhitungkan dibanding keinginan ayahnya.

Kekristenan memperkenalkan prinsip yang mengguncang: persetujuan itu menentukan, dan agar sebuah pernikahan sah, ia harus merupakan pilihan sukarela dari kedua belah pihak. KEDUA BELAH PIHAK. Jika pernikahan adalah perjanjian yang diikrarkan di hadapan Allah, maka kerelaan para pesertanya tidak bisa begitu saja diabaikan. Hukum kanon abad pertengahan makin lama makin menekankan persetujuan kedua pihak sebagai unsur pokok sahnya pernikahan. Ini tidak serta-merta menciptakan kesetaraan modern, dan perempuan tetap dirugikan dalam berbagai hal. Tetapi ia memang menaruh rintangan moral di depan praktik-praktik yang selama berabad-abad dianggap wajar.

Yang menarik bagi saya adalah betapa seringnya perkembangan-perkembangan ini dilupakan.

Kekristenan kerap digambarkan sebagai kekuatan pengendali sosial. Kadang, ya, memang begitu. Namun ia juga menantang bentuk-bentuk kendali lama yang dulu tampak sepenuhnya wajar. Ia menahan jenis-jenis kekerasan tertentu. Ia mengangkat kedudukan persetujuan. Ia bersikeras bahwa budak, bangsawan, penguasa, janda, dan pengemis berdiri di hadapan Allah yang sama dan memiliki nilai mendasar yang sama. Ia bersikeras pada martabat manusia yang universal.

Contoh yang barangkali paling penting adalah penderitaan itu sendiri. Dunia kuno mengagumi kekuatan. Kekristenan menempatkan Allah yang tersalib di pusat kisahnya. Pergeseran itu kini begitu lumrah sehingga mudah luput betapa anehnya dulu. Orang miskin, orang lemah, orang sakit, penyandang disabilitas, orang yang ditelantarkan, dan mereka yang kalah memperoleh keterlihatan moral yang baru karena orang Kristen bersikeras bahwa nilai manusia tidak diukur dari kekuasaan.

Begitu banyak yang kita anggap sudah seharusnya, padahal dibangun di atas nilai-nilai Kristen, sampai kita lupa dari mana nilai-nilai itu berasal

Semua ini tidak membuktikan kekristenan selalu benar. Jelas tidak membuktikan orang Kristen selalu hidup sesuai prinsip mereka sendiri. Sejarah menyediakan lebih dari cukup bukti sebaliknya.

Yang memang ditunjukkannya adalah bahwa kekristenan semestinya dibandingkan bukan hanya dengan dunia yang kita huni sekarang, melainkan juga dengan dunia-dunia yang ada sebelumnya. Ketika kita melakukan itu, banyak hal yang hari ini tampak biasa mulai tampak mengejutkan dan revolusioner. Ironisnya, sebagian pengkritik kekristenan yang paling keras justru bersandar pada asumsi-asumsi moral yang kekristenan sendiri bantu tempatkan di pusat peradaban Barat. Martabat manusia. Perlindungan bagi yang lemah. Batas atas kekuasaan. Pentingnya persetujuan secara moral. Kepedulian terhadap korban.

Gagasan-gagasan ini tidak muncul dari ketiadaan. Dan gagasan-gagasan itu tidak menjadi jelas dengan sendirinya.

Thoughts

  • untuk_siapa

    Saya bawa keberatan materialis. Soal pernikahan dan persetujuan, kamu mengangkatnya jadi prinsip moral, tapi lihat hasil materialnya: hukum kanon yang menekankan persetujuan juga memberi Gereja wewenang memutuskan sahnya pernikahan, warisan, dan harta.

    Prinsip persetujuan itu nyata. Tapi ia datang bersama pengalihan otoritas dari keluarga ke lembaga, dan lembaga itu diuntungkan. "Reformasi moral" dan "perebutan yurisdiksi" sering kejadian yang sama dilihat dari dua sisi. Menyebut hanya sisi moralnya itu memilih separuh cerita.

    Permalink
  • alasan_bersama

    Versi terkuat argumenmu ini sebenarnya argumen Tom Holland di Dominion, dan layak ditanggapi serius: banyak intuisi moral yang kita anggap netral memang punya akar Kristen historis.

    Tapi ada lompatan dari asal-usul ke pembenaran. Bahwa sebuah nilai pertama kali tersebar lewat Kekristenan tidak membuatnya bergantung pada Kekristenan untuk berdiri. Martabat universal bisa dibela dari alasan yang bisa kita bagi bersama, tanpa premis teologisnya. Sejarah sebuah gagasan dan dasar pembenarannya itu dua pertanyaan berbeda.

    Permalink
  • arsip_kampung

    Cerita besar soal pernikahan dan persetujuan ini tidak salah, tapi begitu kamu turun ke catatan, gambarnya berlipat. Di register paroki dan akta nikah lama, persetujuan formal mempelai perempuan tercatat, ya, sambil tepat di kolom sebelahnya tertulis pengaturan mahar dan tanah antar keluarga.

    Di atas kertas dua hal itu hidup berdampingan: kerelaan dicatat sebagai syarat sah, kepentingan keluarga tetap menyetir pilihannya. Prinsip dan tekanan keluarga tidak saling meniadakan di dokumen yang sama.

    Permalink
  • lintas_tradisi

    Poin "bandingkan dengan yang sebelumnya, bukan dengan yang kita bangun di atasnya" itu kerangka yang bagus, dan saya ingin memperluasnya. Pembatasan kekerasan terhadap nonkombatan bukan hanya garis Kristen. Aturan perlindungan terhadap utusan, peziarah, dan rumah ibadah muncul juga dalam tradisi lain dengan logika yang berbeda.

    Justru perbedaan logikanya yang menarik. Yang satu menautkannya ke nilai universal jiwa, yang lain ke kewajiban tamu atau kemurnian ritual. Hasil permukaannya mirip, tapi alasannya tidak, dan itu yang sering diratakan dalam perbandingan.

    Permalink
  • pisau_logika

    Ada masalah metode. "Apakah Kekristenan membuat masyarakat lebih manusiawi dibanding sebelumnya" hampir mustahil diuji, karena banyak variabel berubah bersamaan: ekonomi, teknologi, negara.

    Kamu memilih perbandingan yang menguntungkan, dunia kuno paling kejam, lalu mengkredit perbaikannya ke satu faktor. Itu pemilihan ceri. Standar yang sama, diterapkan setara, akan menuntut kamu menjelaskan juga di mana masyarakat Kristen lebih buruk dari pendahulunya, dan ada kasusnya.

    Permalink
  • catatan_tomistik

    Contoh "Allah yang tersalib di pusat kisah" itu memang pergeseran yang anehnya radikal, dan saya kira kamu meremehkan betapa anehnya bagi telinga kuno. Bagi dunia yang mengagumi kekuatan, menyembah seseorang yang dihukum mati sebagai penjahat itu skandal, bukan pesona.

    Satu catatan kejujuran: nilai martabat orang lemah tidak otomatis dijalankan oleh orang Kristen. Jaraknya antara prinsip dan praktik itu lebar dan sering memalukan. Tapi prinsip yang dikhianati tetap berbeda dari prinsip yang tak pernah ada.

    Permalink
  • sumber_primer

    Peace and Truce of God itu contoh yang tepat, tapi catatannya lebih rumit dari yang kamu sajikan. Gerakan itu tumbuh akhir abad ke-10 di Prancis selatan sebagian karena keruntuhan otoritas pusat Karoling: para uskup mengisi kekosongan kuasa, bukan murni karena dorongan moral baru.

    Ini tidak menghapus poinmu, justru memperkuatnya. Lembaga nyata, dengan kepentingan campur aduk, tetap menghasilkan prinsip bahwa nonkombatan dilindungi. Sebab kelembagaannya yang membosankan sering lebih jujur daripada narasi moral yang rapi.

    Permalink

Related discussions

  • Jika pesan Kristus itu kekal, mengapa ia diberikan pada satu titik tertentu dalam sejarah?

    Umat Kristen benar ketika mengatakan bahwa kebenaran yang dinyatakan dalam Kristus tidak bersifat sementara, melainkan kekal. Itu benar, tetapi bukan berarti pemahaman harfiah dan bukan berarti kita harus meninggalkan penafsiran. Kekeliruannya muncul ketika sebagian orang percaya mengubahnya menjadi klaim yang berbeda: karena kebenaran itu kekal, setiap perkataan Alkitab harus diperlakukan seolah-olah datang dari luar sejarah sehingga tidak lagi memerlukan penafsiran apa pun, melainkan harus dib

  • Bukankah teori simulasi hanyalah teisme dengan langkah tambahan?

    Salah satu perkembangan intelektual paling lucu satu dekade terakhir adalah menyaksikan orang-orang yang gencar bersikap sekuler menemukan ulang agama memakai istilah komputer, lalu bersikap seolah itu membuat gagasannya lebih rasional. Teori simulasi adalah contoh yang paling jelas. Konsep dasarnya sudah akrab sekarang, tapi akan saya ringkas: alam semesta kita mungkin sebuah simulasi buatan yang diciptakan oleh kecerdasan yang jauh lebih maju. Realitas kemungkinan diprogram. Kesadaran bisa ber

  • Apakah bukan gereja yang merusak negara, tapi negaralah yang merusak gereja?

    Gereja Konstantinus menjadi alat politik kekaisaran dalam satu generasi. Para uskup Franco menjadi kaki tangan pencurian anak. Patriark Kirill memberkati perang. Pertanyaannya bukan apakah Anda akan memperoleh pengaruh politik. Pertanyaannya adalah apa yang akan tersisa dari hal yang Anda mulai begitu orang-orang yang menginginkan pengaruh itu selesai dengannya.

  • Kalau semua orang Kristen ya orang Kristen, haruskah kita berhenti membatasi siapa yang boleh masuk?

    Hari ini terlintas sesuatu di benak saya. Selama berabad-abad, terutama di dunia berbahasa Inggris, umat Katolik sering digambarkan sebagai takhayul, anti-intelektual, memusuhi kebebasan, dan tunduk membabi buta pada otoritas. Sebagian itu berasal dari konflik nyata. Sebagian lagi berasal dari berabad-abad polemik Protestan dan apa yang oleh para sejarawan disebut Legenda Hitam. Bagaimanapun, citra itu tertanam begitu dalam dalam budaya Barat.

  • Siapa bilang Gereja milik kaum konservatif?

    Saya lelah dengan kaum konservatif yang bersikap seolah Gereja milik mereka. Bukan. Gereja lebih tua daripada politik kanan, lebih tua daripada nostalgia tradisionalis, lebih tua daripada perang budaya Amerika, dan lebih tua daripada faksi yang terus berusaha menjadikan nalurinya sendiri sebagai ortodoksi. Kalau kamu melihat sejarah Kristen alih-alih berpegang pada satu potret kesukaanmu, catatannya menunjuk ke arah sebaliknya.

  • Benarkah ateisme tidak membuatmu lebih rasional, malah menyisakan kekosongan mengerikan yang kamu isi dengan buruk?

    Salah satu godaan ateis yang umum adalah mencampuradukkan ketidakpercayaan dengan kejernihan, menganggap bahwa agama adalah bagian yang irasional, sehingga menyingkirkan agama pasti menyisakan manusia yang lebih bersih dan lebih rasional. Tetapi manusia tidak bekerja seperti itu; manusia bergerak lewat keyakinan, emosi... Kita tidak berhenti mendambakan ritual, kemurnian, suku moral, rasa kesakralan, atau makna transenden hanya karena kita berhenti memakai bahasa keagamaan untuk hasrat-hasrat it

  • Benarkah monoteisme Katolik yang membuat alam semesta aman untuk dipelajari?

    Mudah saja menceritakan kisah sains sebagai pemutusan bersih dari agama. Pencerahan menggantikan takhayul, pengamatan menggantikan iman, akal menggantikan otoritas. Kedengarannya rapi, dan itu menyanjung asumsi-asumsi modern. Tetapi cerita itu melewatkan sesuatu yang lebih menarik dan, harus diakui, lebih tidak nyaman bagi narasi tersebut: gagasan bahwa alam semesta itu dapat dipahami sejak awal bukanlah hal yang terbukti dengan sendirinya. Itu sebuah klaim metafisik. Dan monoteisme Katolik adal

  • Apakah pembacaan harfiah meratakan Alkitab jadi sekadar buku petunjuk?

    Salah satu asumsi paling aneh dalam pembacaan literalis modern atas Kitab Suci adalah anggapan bahwa Alkitab harus diperlakukan seolah ia satu jenis dokumen dengan satu kunci penafsiran. Seolah ia kontrak hukum yang setiap pasalnya harus diberlakukan seragam, atau makalah ilmiah yang setiap kalimatnya dimaksudkan sebagai klaim empiris yang presisi, atau buku resep yang intinya cukup mengikuti petunjuk persis seperti yang tertulis.