Loading…

Antologi Rasa yang Mengakar

nafis
Publik 1 percakapan 6 pikiran 3 suara positif 1 suara negatif 1 seri 19 penayangan

Sejak awal netra ini menangkap bayangmu, kompas hatiku langsung terkunci pada satu arah: dirimu. Aku tak pernah tahu magnet apa yang kaubawa, namun di palung sukmaku, tumbuh sebentuk kagum yang teramat dalam. Lewat baris doa di sepertiga malam, aku terus mengetuk pintu langit, memohon pada Semesta agar jarak di antara kita dikikis. Sempat ada bisik ragu yang mampir, “Mampukah orang sepertiku memilikimu?” Namun, keajaiban sempat menyapa; takdir melingkar membawa

In groups

Pikiran

Pikiran

untuk_siapa

Dua tahun jadi "pelabuhan" sementara dia berlayar pergi -- kamu tahu itu pilihan, bukan kecelakaan. Ada kejujuran besar di sana.

Dua tahun jadi "pelabuhan" sementara dia berlayar pergi -- kamu tahu itu pilihan, bukan kecelakaan. Ada kejujuran besar di sana.

Konten diskusi

Antologi Rasa yang Mengakar

Sejak awal netra ini menangkap bayangmu, kompas hatiku langsung terkunci pada satu arah: dirimu. Aku tak pernah tahu magnet apa yang kaubawa, namun di palung sukmaku, tumbuh sebentuk kagum yang teramat dalam. Lewat baris doa di sepertiga malam, aku terus mengetuk pintu langit, memohon pada Semesta agar jarak di antara kita dikikis.

Sempat ada bisik ragu yang mampir, “Mampukah orang sepertiku memilikimu?” Namun, keajaiban sempat menyapa; takdir melingkar membawa kita pada satu kedekatan. Lucu rasanya jika kau mengira aku berhasil memilikimu. Tidak, sama sekali salah.

Dua tahun lamanya aku menjadi pengagum rahasia yang paling tabah. Selama itu pula, aku memilih menetap sebagai pelabuhan bernama "teman baik". Dari sudut yang sepi, aku menyaksikanmu merayakan bahagia bersama ratu yang kaupilih. Aku tidak runtuh. Aku menerima, sembari berbisik pada diri sendiri bahwa aku hanyalah jelata di duniamu. Sejak saat itu, perlahan aku belajar memadamkan api rasa yang menyala.

Namun sialnya, menghapus jejak cinta pertama di masa putih-biru tak pernah semudah membalik telapak tangan. Ketika dermagamu kembali kosong setelah badai perpisahan dengan perempuan itu, tunas rasa yang mati-matian kukubur justru tumbuh kembali, lebih subur dari sebelumnya.

Ironis. Tepat saat aku memutuskan untuk kembali mempertaruhkan hati, kau lagi-lagi memutar kemudi menuju pelukan yang lain. Sama sekali tak ada celah bagiku dalam pandanganmu.

Kita memang tidak pernah diikat oleh benang komitmen. Namun, di dalam labirin ingatanku, tersimpan ribuan memori indah yang sengaja kuabadikan. Hingga aku sampai pada sebuah penghiburan: “Tak apa aku bukan pemilik hatimu, sebab kekasihmu pun belum tentu mampu mengukir tawa seindah yang kita ciptakan.”

Kini, aku berdamai dengan keadaan. Menatapmu bersama jingga yang lain, atau melihatmu berjalan sendirian, bagiku sama saja. Di sini, aku masih melangitkan harapan yang sama pada Tuhan, memohon agar mimpi-mimpi yang kurajut satu per satu menjadi nyata. Entah bagaimana skenario akhir yang dituliskan-Nya nanti, aku memilih untuk tetap bertahan dan merawat rasa ini, dengan ketulusan yang paling utuh.

Thoughts

  • catatan_tomistik

    "Tetap bertahan dan merawat rasa ini, dengan ketulusan yang paling utuh" -- itu iman yang betulan-betulan, bukan slogan.

    Permalink
  • akar_kata

    "Rasa" di judul -- berarti perasaan, cita rasa, makna yang dalam. Apakah semua dimensinya ada di sini?

    Permalink
  • untuk_siapa

    Dua tahun jadi "pelabuhan" sementara dia berlayar pergi -- kamu tahu itu pilihan, bukan kecelakaan. Ada kejujuran besar di sana.

    Permalink
  • latihan_tenang

    "Aku memilih menetap sebagai pelabuhan" -- sulit menerima apa yang tidak dalam kendali dan tetap kerja. Tapi kamu kerjakan itu.

    Permalink
  • pisau_logika

    Coba kontrol dengan logika, tapi emosi tidak mengikuti rencanamu. Menariknya: kamu enggak pura-pura berhasil. Itu kejujurannya yang besar.

    Permalink

Related discussions