Sejak awal tatap kita beradu, kita langsung bertukar cerita seolah dua jiwa yang telah lama saling menemukan. Setiap hari diisi dengan aksara, tawa, dan saling memeluk kabar. Namun, di antara riuhnya hal-hal indah yang kita tenun, tibalah kita pada titik di mana jemari harus saling melepaskan.
Hari ini menjadi saksi pilu bahwasanya "seindah apa pun pelangi, jika ia hadir saat badai belum usai, ia akan tersapu angin."
Sangat berat rasanya menghapus jejak yang telanjur dalam, tetapi takdir telah mengetuk palu. Mungkin di panggung ini, akulah yang harus mengenakan topeng "antagonis". Akulah jiwa yang belum mampu menyambut uluran tangan hangatmu, hanya karena amuk badai di dalam dadaku belum sepenuhnya mereda.
Hari ini, aku harus merelakan seorang manusia yang teramat baik. Menjadi "tokoh jahat" karena memilih jujur pada diri sendiri dan tidak memanfaatkan kebaikan orang lain sebenarnya adalah bentuk kedewasaan yang luar biasa, meski rasanya menyakitkan.Aku tidak ingin bersandiwara memakai jubah ketulusan hanya karena rasa iba. Di panggung sandiwara kehidupan yang hanya sekali ini, sungguh menyakitkan jika harus melepas pelabuhan seindah dirimu. Namun, mau bagaimana lagi jika semesta sudah menuliskan garisnya?
Aku memohon maaf atas segala luka yang kutorehkan. Tenang saja, kamu tidak akan hilang; kamu telah kutanam abadi di dalam bait-bait ingatan.
I love you, good human being. Aku akan tetap di sini, menjaga bayangmu, walau di lembar cerita ini, akulah yang memegang peran sebagai peremuk hati.