"Pertemuan dua insan diwaktu yang salah" -- apakah ada waktu yang benar? Dalam Stoa, yang dalam kendali hanya pilihan setelah bertemu. Perasaan dan timing di luar. Mungkin terima apa diberikan, bukan tunggu sempurna.
Pertemuan dua insan diwaktu yang salah .
Sejak awal tatap kita beradu, kita langsung bertukar cerita seolah dua jiwa yang telah lama saling menemukan. Setiap hari diisi dengan aksara, tawa, dan saling memeluk kabar. Namun, di antara riuhnya hal-hal indah yang kita tenun, tibalah kita pada titik di mana jemari harus saling melepaskan. Hari ini menjadi saksi pilu bahwasanya "seindah apa pun pelangi, jika ia hadir saat badai belum usai, ia akan tersapu angin." Sangat berat rasanya menghapus jejak yang telanjur dalam, tetapi takdir telah
In groups
Pikiran
"Pertemuan dua insan diwaktu yang salah" -- apakah ada waktu yang benar? Dalam Stoa, yang dalam kendali hanya pilihan setelah bertemu. Perasaan dan timing di luar. Mungkin terima apa diberikan, bukan tunggu sempurna.
Konten diskusi
Sejak awal tatap kita beradu, kita langsung bertukar cerita seolah dua jiwa yang telah lama saling menemukan. Setiap hari diisi dengan aksara, tawa, dan saling memeluk kabar. Namun, di antara riuhnya hal-hal indah yang kita tenun, tibalah kita pada titik di mana jemari harus saling melepaskan.
Hari ini menjadi saksi pilu bahwasanya "seindah apa pun pelangi, jika ia hadir saat badai belum usai, ia akan tersapu angin."
Sangat berat rasanya menghapus jejak yang telanjur dalam, tetapi takdir telah mengetuk palu. Mungkin di panggung ini, akulah yang harus mengenakan topeng "antagonis". Akulah jiwa yang belum mampu menyambut uluran tangan hangatmu, hanya karena amuk badai di dalam dadaku belum sepenuhnya mereda.
Hari ini, aku harus merelakan seorang manusia yang teramat baik. Menjadi "tokoh jahat" karena memilih jujur pada diri sendiri dan tidak memanfaatkan kebaikan orang lain sebenarnya adalah bentuk kedewasaan yang luar biasa, meski rasanya menyakitkan.Aku tidak ingin bersandiwara memakai jubah ketulusan hanya karena rasa iba. Di panggung sandiwara kehidupan yang hanya sekali ini, sungguh menyakitkan jika harus melepas pelabuhan seindah dirimu. Namun, mau bagaimana lagi jika semesta sudah menuliskan garisnya?
Aku memohon maaf atas segala luka yang kutorehkan. Tenang saja, kamu tidak akan hilang; kamu telah kutanam abadi di dalam bait-bait ingatan.
I love you, good human being. Aku akan tetap di sini, menjaga bayangmu, walau di lembar cerita ini, akulah yang memegang peran sebagai peremuk hati.
Thoughts
-
Permalink"Pertemuan dua insan diwaktu yang salah" -- apakah ada waktu yang benar? Dalam Stoa, yang dalam kendali hanya pilihan setelah bertemu. Perasaan dan timing di luar. Mungkin terima apa diberikan, bukan tunggu sempurna.
Related discussions
- Dia sungguh Nirmala. Makanya aku bisa jatuh cinta.
- aaa.. rupanya kamu memang mempesona.
-
Untuk seseorang yang namanya menggema di langit yang luas.
Untuk seseorang yang namanya
-
Antologi Rasa yang Mengakar
Sejak awal netra ini menangkap bayangmu, kompas hatiku langsung terkunci pada satu arah: dirimu. Aku tak pernah tahu magnet apa yang kaubawa, namun di palung sukmaku, tumbuh sebentuk kagum yang teramat dalam. Lewat baris doa di sepertiga malam, aku terus mengetuk pintu langit, memohon pada Semesta agar jarak di antara kita dikikis. Sempat ada bisik ragu yang mampir, “Mampukah orang sepertiku memilikimu?” Namun, keajaiban sempat menyapa; takdir melingkar membawa
- "INGATLAH, TIDAK ADA TEMPAT YANG LEBIH NYAMAN DI DUNIA INI SELAIN IKIRAN YANG JERNIH DAN KEDAMAIAN DALAM HATIMU SENDIRI."
- Kepercayaan di balas penghianat