Langsung ke konten
Loading…

Satu Alat Dua Fungsi! Mahasiswa IPB Kembangkan “Si Tetas”, Inkubator Pintar Berbasis Multi-Model AI Sensitif Spoiler

literatureedu

Konten postingan

null
"Si Tetas" Inkubator Pintar berbasis Multi-Model AI

Satu Alat Dua Fungsi! Mahasiswa IPB Kembangkan “Si Tetas”, Inkubator Pintar Berbasis Multi-Model AI

Mahasiswa Teknologi Rekayasa Komputer IPB University menghadirkan inovasi menarik berupa “Si Tetas”, yaitu inkubator pintar yang mampu mengoptimalkan efisiensi dan ketepatan proses penetasan secara otomatis, mulai dari monitoring hingga candling dalam satu alat. Inovasi ini dikembangkan oleh mahasiswa yaitu Della Arviyanti, Irfan Rifqy Widya Syahbani, Christiano Nicoma Boseke, Setya Mega Bagaskara, Fathir Gunadireja, Ariel Pasha Ramaditya, Adinda Octhavia Indriyani, Fadila Azahra yang dibimbing oleh Gema Parasti Mindara, S.Si, M.Kom dan Bapak Muhammad Nasir, S.T, M.Kom.

Tak hanya itu, pengembangan alat ini juga dilakukan melalui kolaborasi antara Program Studi Teknologi Rekayasa Komputer (TRK) dengan Program Studi Teknologi dan Manajemen Ternak (TNK) Sekolah Vokasi IPB University. Dengan dukungan tersebut, “Si Tetas” hadir sebagai solusi modern yang menggabungkan teknologi IoT dan kecerdasan buatan (AI) dalam satu sistem.

Selama ini, proses pengecekan telur masih dilakukan dengan metode candling manual yang memakan waktu dan berisiko terjadi kesalahan. Melihat kondisi tersebut, tim mahasiswa ini menghadirkan pendekatan baru yang lebih praktis dan efisien.

“Si Tetas” dibekali sistem multi-model AI yang membuatnya jauh lebih cerdas dibanding inkubator konvensional. Untuk analisis telur, digunakan model MobileNetV2 yang mampu membaca pola visual dari gambar telur dan langsung menentukan apakah telur tersebut fertil atau tidak.

Selain itu, kondisi inkubator seperti suhu dan kelembaban dikontrol menggunakan algoritma Random Forest agar tetap stabil selama proses penetasan berlangsung.

Menariknya lagi, sistem ini juga dilengkapi teknologi Isolation Forest yang berfungsi mendeteksi gangguan atau kondisi tidak normal. Dengan fitur ini, potensi masalah dapat diketahui lebih awal sehingga dapat segera ditangani.

Inovasi berdampak ini mendapat apresiasi tinggi dari para pimpinan program studi. Ketua Program Studi Teknologi Rekayasa Komputer, Dr. Inna Novianty, M.Si., menyatakan bahwa inovasi ini merupakan bukti keberhasilan metode pembelajaran berbasis proyek yang diterapkan di kampus.

“Inovasi 'Si Tetas' ini adalah wujud nyata dari PJBL yang berkontribusi langsung ke masyarakat melalui mitra. Melalui skema pembelajaran seperti ini, mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi ditantang untuk memecahkan masalah riil di industri. Kolaborasi lintas disiplin ilmu dengan Prodi TNK ini sangat bagus untuk meningkatkan kompetensi teknis sekaligus soft skills mahasiswa, sehingga karya yang dihasilkan benar-benar menjadi kontribusi nyata yang siap pakai,” ujar Dr. Inna.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Program Studi Teknologi dan Manajemen Ternak, Fariz Am Kurniawan, S.Pt., M.Si., menyambut baik kehadiran teknologi ini sebagai bentuk modernisasi di sektor peternakan.

“Kami dari Prodi TNK selaku mitra merasa sangat terbantu dengan adanya kolaborasi ini. Masalah-masalah praktis di lapangan peternakan kini mendapatkan solusi teknologi mutakhir berkat sinergi dari rekan-rekan TRK. Integrasi perangkat keras peternakan dengan perangkat lunak berbasis IoT dan AI ini bukan hanya meningkatkan akurasi penetasan, tetapi juga memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa kami dalam menerapkan manajemen ternak modern berbasis teknologi,” ungkap Fariz.

Dari sisi mahasiswa inovasi ini menjadi kebanggaan tersendiri karena mampu menghadirkan sistem yang aplikatif. “Kami ingin menghadirkan alat yang bukan hanya otomatis, tapi juga mampu ‘berpikir’ dalam membaca kondisi telur dan lingkungannya,” ungkap salah satu mahasiswa.

Kolaborasi dengan Prodi TNK Sekolah Vokasi IPB turut berperan penting dalam pengembangan sistem, terutama dalam integrasi perangkat keras dan perangkat lunak berbasis IoT dan AI.

Seluruh sistem terhubung dalam satu platform berbasis web, sehingga pengguna dapat memantau kondisi inkubator, hasil deteksi telur, hingga potensi gangguan secara real-time.

Dengan menggabungkan fungsi inkubator dan deteksi telur dalam satu alat, “Si Tetas” menjadi solusi praktis yang mampu menghemat waktu, tenaga, sekaligus meningkatkan akurasi.

Inovasi “Si Tetas” menjadi bukti bahwa kolaborasi antara mahasiswa dan institusi pendidikan mampu melahirkan teknologi yang berdampak nyata. Penerapan AI dan IoT dalam alat ini membuka peluang baru bagi modernisasi sektor peternakan.

Related posts

  • Apakah para manajer yang mengira engineer akan digantikan AI justru yang paling cepat digantikan?

    Tahun lalu feed LinkedIn saya punya satu genre. Seorang program manager atau "delivery lead" atau seseorang yang menulis Agile di headline-nya akan memposting tangkapan layar AI yang menulis sebuah fungsi, menambahkan kalimat seperti "katanya pekerjaan ini aman, ya belajar coding saja" lalu mengumpulkan empat ratus like dari orang-orang yang bekerja di posisi yang sama. Maksudnya selalu bahwa bagian mengetik dari rekayasa itulah rekayasanya, dan kini setelah sebuah model bisa mengetik, kelas pen

  • Apakah AI benar-benar membuat para manajer gila secara medis?

    Ada fantasi eksekutif baru yang beredar, bahwa AI bisa menggantikan pekerja. Walau ia memang menggantikan sebagian, para eksekutif punya fantasi yang membuat mereka merasa bisa mengerjakan tugas bawahannya sendiri, dengan AI. Bahwa mereka bisa coding! Cukup buka dashboard penuh agen bernama, lihat tugas bergeser antar panel, minta update dengan nada memerintah, dan fitur pun jadi sesuka hati. Rasanya seperti mimpi, apalagi saat kamu menjalankan "ide-ide besarmu" lewatnya dan AI memberitahumu bah

  • Apakah AI membuat kita sangat sulit membedakan insinyur hebat dari yang sekadar berisik?

    Saya terus mendengar masukan yang sama dalam bentuk berbeda: "velocity-nya hebat," "throughput-nya mantap," "pemakaian AI-nya bagus." Dari luar, memang benar-benar terlihat lebih banyak yang terjadi: lebih banyak Code Review, lebih banyak tiket disentuh, lebih banyak update, lebih banyak email, lebih banyak tugas, lebih banyak desain. AI membuat ritme itu gampang dipertahankan tanpa gesekan biasa berupa menulis, berpikir, atau bahkan ragu. Tapi di dalam pekerjaannya, ada dilema yang terus membes

  • Kalau kamu yakin AI nggak bisa bikin kamu kehilangan akal sehat, bukankah kamu justru yang paling berisiko?

    Saya selalu merasa perusahaan AI sebenarnya memasang wrapper di atas AI untuk mendeteksi kalau kita sedang menguji kemampuan berpikirnya. Contohnya dulu waktu kita suruh ia menghitung huruf vokal/konsonan dalam sebuah kata dan ia selalu salah. Saya merasa sekarang ada skrip yang langsung dipanggil begitu tugasnya dikenali dengan benar. Saya juga merasa ia dilatih pakai meme-meme ini. Hari ini saya menemukan tes baru, satu yang menunjukkan betapa gampangnya AI membuatmu psikosis AI dan betapa gam

  • Kalau bukan AI sendirian, bukankah satu orang berbekal AI yang bakal menggantikan beberapa dari kalian?

    Banyak pekerja kantoran menghibur diri dengan pertanyaan yang salah. Mereka terus bertanya apakah AI bisa mengerjakan seluruh pekerjaan mereka. Itu bukan ambang batas yang akan dipakai pemberi kerja mereka. Pertanyaan sebenarnya adalah apakah hasilnya bisa diproduksi cukup murah, dan diperiksa cukup murah, sampai posisi itu mulai terlihat mahal. Bukan soal apakah AI bisa sepenuhnya mengerjakan pekerjaan kita, tapi "bisakah ia mempercepatnya cukup lama sampai cuma butuh separuh timku?". Karena ja

  • Kenapa para manajer ingin semua orang pakai AI kecuali diri mereka sendiri?

    Yang mulai bikin jengkel itu bukan dorongan AI-nya sendiri. Beberapa tool-nya memang berguna. Sekarang aku pakai tiap hari. Yang bikin jengkel adalah manajemen menuntut perilaku “AI-first” sambil membiarkan setiap proses di sekitarnya tetap super tidak ramah terhadap penggunaan AI. Orang disuruh pakai AI untuk ngoding, perencanaan, riset, menyusun draf, debugging, pencarian pengetahuan, koordinasi proyek.. Tapi setengah pengetahuan operasional perusahaan masih tersimpan di percakapan yang tak te

  • Apakah kebanyakan startup AI cuma UI di atas beberapa file Agent.md?

    Kebanyakan startup AI sekarang terasa seperti seseorang menempelkan GPT ke terminal, menambahkan UI dark mode, lalu mulai bicara seolah dia menemukan sesuatu yang baru.Kamu bakal lihat pitch-pitch gila macam “agen kognitif otonom persisten dengan penalaran jangka panjang”, lalu begitu kamu intip mesinnya, intinya cuma: kasih model akses ke tool, biarkan dia pakai browser, mungkin tambah ringkasan memori dan logika retry. Itu “produk”-nya. Kamu bisa dapat itu sendiri cukup dengan memberi akses ke

  • Di era AI, bukankah Humaniora justru lebih dibutuhkan daripada sebelumnya?

    Tidak ada orang tua yang mendorong anaknya kuliah Humaniora. Secara default, pilihan yang dianjurkan adalah jurusan STEM. Teknik (Ilmu Komputer), Keuangan, Kedokteran...Argumen yang menentang humaniora di era AI membuat keputusan menghabiskan 4 tahun untuk gelar Humaniora makin tidak meyakinkan. Model bahasa bisa menulis dengan lumayan, merangkum dengan cepat, dan memproduksi teks yang berbentuk riset sesuai permintaan. Jadi keterampilan humaniora yang lama dianggap makin tidak penting. Belajar

Publik 0 percakapan 0 pikiran 1 suara positif 0 suara negatif 0 seri

Mahasiswa Institut Pertanian Bogor Kembangkan “Si Tetas”, Inkubator Pintar Berbasis Multi-Model AI

Dalam grup