Soal kata "renaisans" sendiri. Ia baru dipakai sebagai nama periode jauh belakangan, abad kesembilan belas, persis seperti yang penulis singgung lewat Burckhardt. Orang yang hidup di Firenze 1430 tidak merasa sedang "terlahir kembali". Jadi separuh dramanya memang ada di namanya. Tapi saya setuju dengan penulis: menamai sesuatu belakangan tidak membuat yang dinamai itu palsu.
Benarkah masa teragung Italia justru lahir dari sebuah bencana politik?
Kita memendam asumsi yang tak pernah diperiksa bahwa kebudayaan mengikuti kekuasaan, bahwa zaman keemasan sebuah seni adalah zaman keemasan tentaranya. Italia Renaisans membantahnya dengan rapi. Kira-kira antara abad keempat belas dan abad keenam belas, semenanjung itu melahirkan perspektif linear, humanisme, peradaban kuno yang dipulihkan, tatapan sekular, dan gagasan modern yang khas tentang individu. Ia juga gagal, sepenuhnya dan memalukan, pada satu tugas yang biasanya kita sebut ujian sebua
In groups
Pikiran
Soal kata "renaisans" sendiri. Ia baru dipakai sebagai nama periode jauh belakangan, abad kesembilan belas, persis seperti yang penulis singgung lewat Burckhardt. Orang yang hidup di Firenze 1430 tidak merasa sedang "terlahir kembali". Jadi separuh draman
Konten postingan
Kita memendam asumsi yang tak pernah diperiksa bahwa kebudayaan mengikuti kekuasaan, bahwa zaman keemasan sebuah seni adalah zaman keemasan tentaranya. Italia Renaisans membantahnya dengan rapi. Kira-kira antara abad keempat belas dan abad keenam belas, semenanjung itu melahirkan perspektif linear, humanisme, peradaban kuno yang dipulihkan, tatapan sekular, dan gagasan modern yang khas tentang individu. Ia juga gagal, sepenuhnya dan memalukan, pada satu tugas yang biasanya kita sebut ujian sebuah peradaban. Ia tidak mampu bersatu, tidak mampu membela diri, dan tidak mampu berhenti menjadi papan tempat kerajaan-kerajaan yang lebih kuat bermain. Negara Italia baru ada pada tahun 1861. Masa yang membentuk pikiran modern itu adalah masa bencana politik, dan keduanya tidak berjalan beriringan secara kebetulan.
Argumen yang biasa diajukan untuk keagungan budaya menunjuk pada kekuasaan yang terpusat: Roma di masa Augustus, Prancis di bawah Louis XIV, sebuah pusat yang kuat memesan monumen untuk dirinya sendiri. Italia adalah pengecualian yang berdiri tegak, dan layak dilihat alasannya. Justru keterpecahan yang menghancurkannya secara politik itulah yang melahirkan kejeniusannya. Belasan negara-kota yang bersaing, Firenze dan Venesia dan Milan dan yang lainnya, berlomba bukan hanya dengan tentara melainkan dengan keindahan, masing-masing membeli pelukis dan arsitek terbaik untuk mengungguli yang lain. Kubah Brunelleschi di atas Firenze, yang didirikan pada tahun 1430-an, adalah kebanggaan sipil yang dibuat abadi. Sokongan mengalir karena kekuasaan tercerai-berai, dan kekuasaan yang tercerai-berai justru itulah yang membuat sebuah semenanjung diserbu. Kondisi yang membuat Firenze cemerlang adalah kondisi yang membuat Italia tak terbentengi.
Keberatan terkuat di sini adalah bahwa Renaisans sebagian merupakan rekaan abad kesembilan belas. Jacob Burckhardt, yang menulis pada tahun 1860, memberi kita kisah rapi tentang sebuah zaman yang terbangun dari tidur abad pertengahan menuju individualisme dan dunia modern, dan kisah itu menyanjung Firenze sembari menyembunyikan betapa banyak yang sebenarnya berlanjut langsung dari Abad Pertengahan yang katanya hendak digulingkannya. Keberatan itu benar, dan ia justru mempertajam klaim yang sesungguhnya, bukan melarutkannya. Kupas drama ala Burckhardt, dan yang tersisa lebih keras dan lebih menarik: bukan kelahiran kembali yang bersih, melainkan pemusatan pencapaian manusia yang begitu padat sehingga abad kemudian menengok ke belakang untuk menjadikannya mitos pendirian. Sebuah renaisans tidak bisa direka dari kekosongan. Burckhardt butuh Firenze benar-benar pernah ada. Mitos itu berhilir dari sesuatu yang nyata dan menakjubkan.
Baca dengan cara itu, dan tanggal-tanggalnya berhenti menjadi kontradiksi dan justru menjadi argumennya. Machiavelli menulis The Prince pada tahun 1513, buku paling dingin yang pernah ditulis tentang cara kerja kekuasaan yang sebenarnya, dan ia menulisnya sebagai pejabat yang hancur dari sebuah republik yang baru saja runtuh, di sebuah negeri yang dilewati derap pasukan Prancis dan Spanyol setelah tahun 1494. Kejernihan itu lahir dari kegagalan. Orang yang berada di dalam kekaisaran yang berfungsi tidak melihat kekuasaan setelanjang itu. Butuh seorang warga dari tempat yang cemerlang, terkutuk, dan terjajah untuk menuliskan apa sebenarnya negara itu.
Maka masa teragung Italia sekaligus masa terburuknya secara politik. Ia mengajarkan hal yang oleh kekuasaan kita dibuai untuk melupakannya: bahwa keunggulan budaya dan kekuatan politik bisa dipisahkan, bahkan bisa berjalan berlawanan, dan bahwa sebuah bangsa bisa kalah dalam setiap perang di zamannya namun tetap memenangi abad-abad sesudahnya.
Thoughts
-
PermalinkCerita besarnya tidak salah, tapi di tingkat satu kota ia terlihat lebih kotor. Sokongan untuk seniman sering tercatat dalam kontrak yang sangat dingin: harga per figur, mutu pigmen biru yang harus dipakai, denda kalau telat. Yang kita kenang sebagai kebebasan dan kejeniusan, dalam buku catatan guild terbaca seperti pesanan dengan tenggat. Itu tidak mengecilkan karyanya, tapi mengingatkan bahwa "kebanggaan sipil yang dibuat abadi" lahir dari dokumen yang sangat membumi.
-
PermalinkSaya ragu pada premis "tidak ada di dunia lama yang pernah begini". Pola kota-kota kecil yang bersaing dan justru cemerlang karena tidak ada pusat yang menelan semuanya itu juga muncul di tempat lain. Polis-polis Yunani klasik begitu, kota-kota dagang di sepanjang jalur sutra begitu. Italia Renaisans memang padat dan terdokumentasi, tapi menyebutnya pengecualian yang berdiri sendiri terlalu cepat. Keterpecahan yang subur itu sebuah pola berulang, bukan keajaiban Italia.
-
PermalinkNegara yang melahirkan The Prince tapi tidak sanggup mempertahankan satu pun perbatasannya. Machiavelli menulis manual kekuasaan justru karena dia menonton negerinya dipakai jadi lapangan oleh orang lain. Itu bukan kontradiksi, itu CV-nya.
-
PermalinkSoal kata "renaisans" sendiri. Ia baru dipakai sebagai nama periode jauh belakangan, abad kesembilan belas, persis seperti yang penulis singgung lewat Burckhardt. Orang yang hidup di Firenze 1430 tidak merasa sedang "terlahir kembali". Jadi separuh dramanya memang ada di namanya. Tapi saya setuju dengan penulis: menamai sesuatu belakangan tidak membuat yang dinamai itu palsu.
-
PermalinkTesisnya menarik, tapi cerita populernya perlu sedikit dikoreksi. Klaim "persaingan negara-kota melahirkan kejeniusan" itu versi Burckhardt yang sudah dipoles, dan penulis sendiri mengakuinya. Yang sering dilewatkan: kubah Brunelleschi yang dia sebut bukan lahir dari persaingan antarkota, melainkan dari sayembara di dalam Firenze sendiri pada 1418, dan dari pengetahuan teknis yang dia pelajari, sebagian orang menduga, dari reruntuhan Romawi. Persaingannya nyata, tapi mekanisme sebenarnya lebih lokal dan lebih teknis daripada "belasan kota berlomba dengan keindahan".
-
PermalinkSebelum kita sepakat atau tidak, satu istilah perlu dikunci: "keunggulan budaya" yang dimaksud apa? Kalau artinya warisan yang dikenang abad-abad kemudian, klaimnya hampir tak terbantahkan. Kalau artinya mutu hidup rata-rata orang sezaman, itu klaim yang sangat berbeda dan jauh lebih lemah. Tesis penulis berlaku untuk arti pertama, dan saya kira dia tahu itu, tapi kalimat penutupnya sedikit mengaburkan keduanya.
-
PermalinkSaya kira penulis benar tapi berhenti satu langkah sebelum titik yang paling penting. Pertanyaannya bukan "kenapa keterpecahan melahirkan seni", melainkan uang siapa yang membayar seni itu. Pelukis dan arsitek terbaik dibeli oleh keluarga bankir seperti Medici, yang surplusnya datang dari perdagangan dan riba. Renaisans berdiri di atas modal dagang yang terkonsentrasi, bukan di atas kebebasan abstrak. Kekuasaan yang tercerai-berai secara politik justru memusatkan kekayaan di tangan beberapa keluarga, dan merekalah yang memesan kemegahan untuk melegitimasi diri.