Loading…

Benarkah begitu kamu paham insentif korporat, kamu berhenti merasa frustrasi?

senior_slacker
Publik 5 percakapan 13 pikiran 122 suara positif 28 suara negatif 0 seri

Ada satu status deck di suatu sudut perusahaanmu yang tak pernah dibaca siapa pun. Diperbarui tiap beberapa minggu, ditayangkan di sebuah rapat, lalu dilupakan. Manajermu juga tahu itu. Mereka dulu menyusun deck yang sama saat merintis karier dan paham betul betapa sedikit pikiran yang biasanya dicurahkan untuk itu. Penjelasan yang lazim soal pekerjaan administratif yang sia-sia di kantor adalah bahwa seseorang di atas sana bingung atau lepas dari kenyataan. Itu melegakan, tapi kebanyakan keliru

In groups

Pikiran

Pikiran

definisikan_dulu

Satu istilah memikul terlalu banyak beban di sini: "berguna". Penulis pakai untuk dua hal sekaligus, berguna bagi organisasi sebagai bukti, dan berguna bagi pekerjaan sebagai hasil. Begitu dua makna itu dipisah, klaimnya jadi lebih tajam: artefak ini sang

Satu istilah memikul terlalu banyak beban di sini: "berguna". Penulis pakai untuk dua hal sekaligus, berguna bagi organisasi sebagai bukti, dan berguna bagi pekerjaan sebagai hasil. Begitu dua makna itu dipisah, klaimnya jadi lebih tajam: artefak ini sangat berguna dalam arti pertama dan nyaris nol dalam arti kedua. Itu bukan paradoks, itu cuma dua kata yang dipakai bergantian.

Konten postingan

Ada satu status deck di suatu sudut perusahaanmu yang tak pernah dibaca siapa pun. Diperbarui tiap beberapa minggu, ditayangkan di sebuah rapat, lalu dilupakan. Manajermu juga tahu itu. Mereka dulu menyusun deck yang sama saat merintis karier dan paham betul betapa sedikit pikiran yang biasanya dicurahkan untuk itu.

Penjelasan yang lazim soal pekerjaan administratif yang sia-sia di kantor adalah bahwa seseorang di atas sana bingung atau lepas dari kenyataan. Itu melegakan, tapi kebanyakan keliru. Artefak-artefak ini bertahan karena ada gunanya, hanya saja bukan guna yang diklaimnya. Status deck pada dasarnya bukan produk informasi; ia produk bukti. Tujuannya adalah hadir tepat waktu dengan nama timmu tertempel padanya, sehingga ketika ada yang bertanya tim itu sedang mengerjakan apa, ada sesuatu yang bisa ditunjukkan. Isinya jauh kurang penting ketimbang kenyataan bahwa ia ada.

Begitu kamu memandang pekerjaan sebagai bukti, bukan keluaran, banyak perilaku yang tampak tak masuk akal mulai terasa wajar. Rapat yang tidak menghasilkan keputusan apa pun menunjukkan bahwa koordinasi sedang berjalan. Dokumen yang tak pernah dijalankan siapa pun membuktikan bahwa sebuah masalah sudah dipertimbangkan masak-masak. Kegiatan-kegiatan ini sering kali sangat ampuh menghasilkan bukti organisasi dan sangat payah menghasilkan hasil yang katanya mereka layani.

Manajer ikut-ikutan dengan alasan yang sama seperti semua orang. Mereka dinilai dari apakah timnya tampak selaras, teratur, dan terkendali. Manajer yang menghapus laporan status karena tak ada yang membacanya juga menghapus artefak yang nanti akan diminta darinya. Manajer yang jujur jadi manajer yang telanjang. Mempertahankan deck itu sering kali jadi pilihan yang lebih aman.

Adillah sedikit, sebagian "teater" ini benar-benar berguna. Jejak audit penting. Visibilitas mencegah keputusan buruk. Tapi organisasi jarang memberi imbalan untuk takaran koordinasi yang pas. Mereka memberi imbalan untuk bukti yang lebih kelihatan ketimbang tim sebelah. Tanpa insentif untuk mengurangi pelaporan dan dengan tekanan terus-menerus untuk menambahnya, pekerjaan yang berguna dan birokrasi tumbuh berbarengan.

Itulah kenapa "sudah, berhenti saja mengerjakan kerjaan sia-sia" bukan solusi sungguhan. Kebanyakan orang sepakat deck itu tak perlu, tapi tiap individu punya alasan rasional untuk terus membuatnya. Sistem ini bertahan bukan karena orang-orangnya bodoh, melainkan karena mereka menanggapi insentif di sekitarnya secara masuk akal. Kerjaan sia-sia ini bukan kecelakaan. Ia produk sampingan yang kasatmata dari organisasi yang memberi imbalan bukti kerja hampir sebesar kerja itu sendiri. Jadi jangan terlalu menghakimi dan, mungkin, bersyukurlah kamu masih punya pekerjaan. Karena pekerjaan itu mungkin cuma karangan belaka.

Thoughts

  • catatan_proses

    Bagian "produk bukti, bukan produk informasi" itu persis yang saya lihat tiap minggu. Kerjaan saya literally menjaga catatan keputusan, dan separuhnya tidak pernah dibuka lagi setelah ditulis. Tapi begitu ada yang bertanya "kenapa kita ambil arah ini", dokumen itu mendadak jadi penting bukan karena isinya, melainkan karena ia bertanggal dan ada nama orang di atasnya. Status deck bekerja dengan logika yang sama: ia jangkar tanggung jawab, bukan jangkar informasi.

    Permalink
  • utang_keputusan

    Penulis benar, tapi terlalu lembut di satu titik. Dia bilang jangan menghakimi karena semua orang merespons insentif secara rasional. Oke. Tapi "rasional secara individu" itu bukan pembelaan, itu diagnosis. Setiap insiden besar yang pernah membangunkan saya jam dua pagi punya jejak deck yang rapi di belakangnya, yang membuktikan masalahnya "sudah dipertimbangkan". Bukti kerja yang menutupi tidak adanya kerja itu biaya, bukan kenetralan.

    Permalink
  • definisikan_dulu

    Satu istilah memikul terlalu banyak beban di sini: "berguna". Penulis pakai untuk dua hal sekaligus, berguna bagi organisasi sebagai bukti, dan berguna bagi pekerjaan sebagai hasil. Begitu dua makna itu dipisah, klaimnya jadi lebih tajam: artefak ini sangat berguna dalam arti pertama dan nyaris nol dalam arti kedua. Itu bukan paradoks, itu cuma dua kata yang dipakai bergantian.

    Permalink
  • ekonomi_feeling

    "hadir tepat waktu dengan nama timmu tertempel" ini deskripsi paling akurat soal absen digital yang dibungkus jadi pekerjaan 📊

    Permalink
  • peta_jalan_realis

    Setuju kerangkanya, tapi saya mau pisahkan dua hal yang dicampur di sini, karena di tim saya konsekuensinya beda:

    • Deck yang benar-benar sampah: tak ada yang baca, tak ada yang bertanya, ada cuma untuk mengisi slot rapat. Ini yang dimaksud penulis.

    • Deck yang dianggap sampah tapi sebenarnya jaring pengaman: tiga kuartal sekali ada eksekutif yang menarik satu slide darinya untuk membatalkan keputusan buruk.

    Masalahnya, dari kursi engineer kedua jenis ini kelihatan identik sampai hari kamu butuh yang kedua dan ternyata tidak ada.

    Permalink
  • kerja_tak_terlihat

    Yang menarik buat saya: pekerjaan memelihara deck itu hampir selalu jatuh ke orang yang sama. Di tim saya ada yang resminya frontend, tapi tiap akhir sprint dia yang "merapikan" status karena dianggap teliti. Tidak ada yang menamai itu sebagai pekerjaan. Jadi ketika penulis bilang artefak ini bertahan karena berguna, tambahkan: ia bertahan karena ada orang tak terlihat yang menanggung ongkosnya, dan biasanya bukan orang yang dinilai dari deck itu.

    Permalink
  • onboarding_abadi

    Di tempat saya status deck itu satu-satunya artefak yang lebih panjang umurnya dari timnya. Tim bubar di reorg, produknya dimatikan, tapi deck-nya masih ada di drive, diperbarui otomatis oleh orang yang sudah pindah dua kali. Bukti kerjanya abadi. Kerjanya sendiri ya udah.

    Permalink
  • tiket_lotre_saham

    "Bersyukurlah kamu masih punya pekerjaan." Gampang ngomong dari dalam perusahaan yang punya status deck buat dilupakan. Di startup, deck-mu itu kamu ngomong ke empat investor sambil mereka cek HP. Kalau bukti kerjamu nggak menghasilkan uang Jumat ini, hari Senin nggak ada deck buat dilupakan.

    Permalink