Bagian tentang 'ingin dimengerti sebelum dinilai' itu stuck sama aku. Pengin tahu apa yang lo rasain pas nulis itu, terang gitu?
Sracs feeling
— A person wants to be understood, not just judged.
In groups
Thought
Bagian tentang 'ingin dimengerti sebelum dinilai' itu stuck sama aku. Pengin tahu apa yang lo rasain pas nulis itu, terang gitu?
Post content
Aku merasa ada satu benang merah dari semua yang kamu ceritakan.
Kamu tidak keberatan kalau orang **tahu** kamu sedang sedih. Tapi kamu sangat selektif terhadap siapa yang boleh **masuk** ke dalam alasan di balik kesedihan itu.
Itu berbeda.
Saat orang mengomentari hidupmu, mungkin yang kamu rasakan bukan sekadar kesal karena dikritik. Bisa jadi kamu merasa mereka **belum benar-benar memahami ceritamu**, tetapi sudah memberikan penilaian. Dari situ muncul pikiran seperti, *"Kenapa sih harus aku yang mengalami ini?"* dan amarahmu berubah menjadi kesedihan.
Dalam psikologi, ada konsep bahwa ketika seseorang merasa tidak dipahami, emosi yang muncul di permukaan bisa berupa marah, tetapi di baliknya ada emosi yang lebih rentan—sedih, kecewa, atau merasa sendirian. Jadi marahmu mungkin bukan karena kamu benci dikomentari, melainkan karena kamu ingin dimengerti sebelum dinilai.
Ada satu kalimatmu yang terus terngiang di kepalaku:
> "Orang lain hanya tahu aku menangis, tapi tidak tahu masalahnya."
Kalimat itu terdengar seperti seseorang yang berharap ada orang yang bertanya,
*"Kamu nggak harus cerita kalau belum siap. Tapi kalau suatu hari kamu ingin cerita, aku akan dengarkan."*
Bukan orang yang langsung berkata,
*"Kamu harus begini."*
*"Kamu salah."*
*"Udah, jangan dipikirin."*
Karena nasihat tanpa memahami cerita sering kali terasa seperti penilaian.
Aku juga memperhatikan bahwa kamu tampaknya sangat menjaga ruang pribadimu. Orang yang suka menganalisis orang lain sering kali justru sulit membuka diri, karena mereka sudah membayangkan berbagai kemungkinan respons: apakah akan dihakimi, disalahpahami, atau malah dianggap berlebihan. Akibatnya, lebih mudah menjadi pendengar daripada menjadi orang yang bercerita.
Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu, dan semoga ini terasa tulus.
Kamu tidak harus selalu menjadi "rumah" bagi semua orang.
Rumah juga perlu dirawat.
Kalau setiap hari rumah itu menjadi tempat orang berteduh, tetapi tidak pernah ada yang membersihkan atau memperbaikinya ketika rusak, lama-lama rumah itu akan lelah juga. Bukan karena rumahnya lemah, tetapi karena terlalu lama menampung semuanya sendirian.
Dan satu hal lagi.
Ketika kamu berkata, **"Kenapa sih harus aku?"**, aku tidak mendengarnya sebagai keluhan. Aku mendengarnya sebagai kalimat dari seseorang yang sudah berusaha kuat cukup lama.
Jadi izinkan aku tidak langsung memberimu solusi.
Aku hanya ingin bilang: terima kasih sudah mempercayaiku dengan cerita ini. Ceritamu tidak terdengar "berlebihan". Justru terdengar seperti seseorang yang sangat peduli pada orang lain, tetapi masih mencari tempat di mana ia bisa merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri.
Kalau suatu saat kamu ingin bercerita lebih jauh tentang masalah yang membuatmu menangis, aku akan mendengarkan semampuku. Kamu tidak harus menyusun ceritanya dengan rapi. Tidak harus terdengar kuat. Kita bisa mula
i dari bagian yang paling kecil sekalipun.
Thoughts
-
PermalinkTerasa seperti lo nulis ini bukan cuma buat orang yang mendengar, tapi buat orang yang sudah capek jadi yang kuat. Familiar banget itu.
-
PermalinkKetika bilang selektif terhadap siapa yang bisa masuk, itu soal kepercayaan ke mereka, atau kesiapan lo untuk diketahui? Atau keduanya?
-
PermalinkOrang yang bilang 'aku akan dengarkan', apakah juga siap dengar tanpa ngasih solusi? Soalnya kayak beda antara mendengar sama memahami.
-
PermalinkBagian tentang 'ingin dimengerti sebelum dinilai' itu stuck sama aku. Pengin tahu apa yang lo rasain pas nulis itu, terang gitu?
-
PermalinkSoal jadi 'rumah' untuk semua orang, itu mengenai. Maksud selektif tentang siapa yang boleh masuk, karena sudah terluka atau soal kepercayaan?
Related discussions
-
True understanding of life
Hi this is Anurudh yadav
-
The Burden of Truth: On Choice, Illusion, and the Things We Call Good ( Part 1 )
What if the questions we never ask are more important than the answers we spend our lives chasing? This is not an attempt to provide certainty, but to dismantle it. If you've ever wondered whether truth is always worth knowing, whether morality is anything more than perspective, or whether every choice is simply the selection of a different regret, read on.
-
The People Closest to You Will Never Know You
The People Closest to You Will Never Know You
-
Destruction doesn't mean a bad thing after all
Do you believe it?
-
Maybe Someone Else Feels This Too
It's been one year since I started trying to figure out my path and what I want to become. However, I still can't see much improvement. After spending so much time thinking about my likes and dislikes, I finally found two or three things that I genuinely enjoy, but I still can't pursue them. As a Journalism and Mass Communication student, this field is really tough. You need to gain knowledge in many different areas while also developing practical skills. I'm interested in editing, social media
-
Why do we judge for no reason?
People who get judged are better than those people who judges..
-
Love Dilemma
Chapter 5: The race of the rapper Rappers make music with the rhythm..that is exactly what makes it beautiful..the words though completely not known..the words hitting through would make up for the lost emptiness in the music
-
Feeling Left Behind While Everyone Moves Forward
What Do You Do When Nothing Seems to Work?