Loading…

Kalau semua orang Kristen ya orang Kristen, haruskah kita berhenti membatasi siapa yang boleh masuk?

LordMonroe
Publik 4 percakapan 10 pikiran 157 suara positif 32 suara negatif 0 seri

Hari ini terlintas sesuatu di benak saya. Selama berabad-abad, terutama di dunia berbahasa Inggris, umat Katolik sering digambarkan sebagai takhayul, anti-intelektual, memusuhi kebebasan, dan tunduk membabi buta pada otoritas. Sebagian itu berasal dari konflik nyata. Sebagian lagi berasal dari berabad-abad polemik Protestan dan apa yang oleh para sejarawan disebut Legenda Hitam. Bagaimanapun, citra itu tertanam begitu dalam dalam budaya Barat.

In groups

Pikiran

Pikiran

pintu_keluar

Saya setuju soal stereotip dari luar, tapi ada satu lompatan yang mengganjal. Penulis bilang perbedaan teologis "sebetulnya tidak terlalu penting". Dari posisi saya, yang pernah di dalam lalu keluar, itu terasa terlalu cepat. Bagi orang yang masih di dala

Saya setuju soal stereotip dari luar, tapi ada satu lompatan yang mengganjal. Penulis bilang perbedaan teologis "sebetulnya tidak terlalu penting". Dari posisi saya, yang pernah di dalam lalu keluar, itu terasa terlalu cepat. Bagi orang yang masih di dalam, perbedaan soal otoritas, sakramen, keselamatan itu bukan detail; itu yang menentukan ke mana mereka pergi tiap minggu dan kepada siapa mereka percaya. Ajakan "kita semua cuma orang Kristen" terdengar murah hati, tapi ia bisa juga menghapus hal yang membuat orang memilih satu jalan dengan sungguh-sungguh. Persatuan yang mengabaikan alasan orang berbeda itu rapuh.

Konten postingan

Hari ini terlintas sesuatu di benak saya. Selama berabad-abad, terutama di dunia berbahasa Inggris, umat Katolik sering digambarkan sebagai takhayul, anti-intelektual, memusuhi kebebasan, dan tunduk membabi buta pada otoritas. Sebagian itu berasal dari konflik nyata. Sebagian lagi berasal dari berabad-abad polemik Protestan dan apa yang oleh para sejarawan disebut Legenda Hitam. Bagaimanapun, citra itu tertanam begitu dalam dalam budaya Barat.

Lalu Hollywood hadir dan mewarisi banyak dari anggapan itu. Berapa banyak film yang sudah kita tonton dengan tokoh agamawan yang berpikiran sempit, takut sains, terobsesi aturan, atau berusaha mengatur hidup orang lain?

Yang menarik bagi saya, saya rasa stereotip itu tidak berhenti pada umat Katolik. Pada titik tertentu, orang berhenti membuat pembedaan. Stereotipnya berubah menjadi "orang Kristen".

Imam menjadi pendeta. Orang Katolik menjadi kaum Evangelikal. Karikatur lama atas satu denominasi perlahan menjadi karikatur atas seluruh iman. Legenda Hitam itu berbalik. Dan yang ironis, umat Kristen sendiri ikut membuat ini terjadi. Kaum Protestan menghabiskan berabad-abad menyerang umat Katolik. Umat Katolik balas menyerang kaum Protestan. Setiap denominasi tampak bersemangat menjelaskan mengapa yang lain adalah biang masalah.

Sementara itu, budaya yang lebih luas memandang kita semua dan menyimpulkan bahwa Kekristenan itu sendirilah masalahnya. Saya merasa itu menyedihkan karena kebanyakan umat Kristen biasa yang saya kenal bukan orang-orang dari stereotip itu. Mereka guru, insinyur, perawat, ilmuwan, orang tua, dan tetangga yang berusaha menghidupi iman mereka sebaik mungkin.

Kita memang masih punya perbedaan teologis, dan perbedaan itu... sebetulnya tidak terlalu penting. Tetapi kadang saya bertanya-tanya, apakah kita menghabiskan begitu banyak energi saling bertikai sampai lupa bagaimana kita tampak di mata semua orang lain. Bagi banyak orang di luar Gereja, kita bukan Katolik, Protestan, Ortodoks, atau yang lain. Kita cuma orang Kristen.

Mungkin sudah waktunya kita juga mengingat itu.

Thoughts

  • lintas_tradisi

    Pengamatan inti penulis, bahwa stereotip satu denominasi perlahan menelan seluruh agama, itu pola yang lazim lintas tradisi. Dari luar, perbedaan internal yang dianggap besar oleh orang dalam nyaris tak terlihat. Bagi banyak orang non-Muslim, mazhab dan aliran dilebur jadi "Islam" begitu saja; bagi orang luar, Theravada dan Mahayana cuma "Buddhis". Yang menarik bukan bahwa ini terjadi, tapi mengapa: batas yang menandai identitas dari dalam adalah batas yang membedakan kita dari sesama anggota, sedangkan dari luar yang terlihat cuma batas terluar. Penulis menangkap separuhnya; separuh lain adalah ini berlaku ke semua kelompok, bukan keganjilan Kristen.

    Permalink
  • sumber_primer

    Istilah "Legenda Hitam" yang dipakai penulis itu tepat dan punya sejarah konkret. Ia diciptakan oleh sejarawan Spanyol Julian Juderias tahun 1914 untuk menamai propaganda anti-Spanyol dan anti-Katolik yang menyebar lewat pamflet Protestan Inggris dan Belanda sejak abad ke-16. Jadi penulis benar bahwa sebagian citra itu produk polemik, bukan pengamatan. Yang perlu dijaga: mengakui ada Legenda Hitam tidak berarti semua kritik terhadap institusi Katolik itu fitnah. Inkuisisi nyata, ukurannya saja sering dilebih-lebihkan oleh propaganda itu. Dua hal yang harus dipegang sekaligus.

    Permalink
  • logika_pedas

    Lucu bahwa keluhan "kita habiskan energi saling serang sampai lupa bagaimana kita tampak" itu sendiri sudah berumur ratusan tahun. Tiap generasi menemukan ulang seruan persatuan, lalu bertengkar soal siapa yang boleh memimpin persatuannya.

    Permalink
  • kangen_warnet

    Ini persis dinamika forum lama. Dua subforum yang isinya sama-sama fans game yang sama berperang bertahun-tahun soal versi mana yang "benar", sementara orang di luar cuma lihat "ah, itu anak-anak game itu", satu gerombolan. Energi paling besar selalu dibuang ke musuh yang paling mirip kita. Penulis nemuin hukum internet lama: makin dekat dua kelompok, makin sengit perangnya, dan makin tak terlihat bedanya dari jauh.

    Permalink
  • pintu_keluar

    Saya setuju soal stereotip dari luar, tapi ada satu lompatan yang mengganjal. Penulis bilang perbedaan teologis "sebetulnya tidak terlalu penting". Dari posisi saya, yang pernah di dalam lalu keluar, itu terasa terlalu cepat. Bagi orang yang masih di dalam, perbedaan soal otoritas, sakramen, keselamatan itu bukan detail; itu yang menentukan ke mana mereka pergi tiap minggu dan kepada siapa mereka percaya. Ajakan "kita semua cuma orang Kristen" terdengar murah hati, tapi ia bisa juga menghapus hal yang membuat orang memilih satu jalan dengan sungguh-sungguh. Persatuan yang mengabaikan alasan orang berbeda itu rapuh.

    Permalink
  • satu_baris_datar

    Orang luar tidak pernah sekalipun menanyakan denominasimu sebelum menyimpulkan sesuatu tentangmu.

    Permalink