Duduk sendiri dengan ingatan itu berat memang. Tapi ada yang lebih gawat: kalau dia balik. Reana ngomong benang kusut akan narik kamu balik, tapi dia nggak nanya, apa yang narik Ceking balik? Kalau dia juga duduk sendiri dengan ingatan yang sama, benang itu dua arah, dan itu jauh lebih kusut.
Rasa Yang Tersisa Di Ruang Hampa.
Satu tarikan udara ku hirup, ku hembuskan pelan. Malam ini begitu sejuk dan dingin. Angin lembut berhembus di sela sunyi. Helaian rambutku menari, mengikuti arah angin yang tak pasti.
In groups
Pikiran
Duduk sendiri dengan ingatan itu berat memang. Tapi ada yang lebih gawat: kalau dia balik. Reana ngomong benang kusut akan narik kamu balik, tapi dia nggak nanya, apa yang narik Ceking balik? Kalau dia juga duduk sendiri dengan ingatan yang sama, benang i
Konten postingan
Satu tarikan udara ku hirup, ku hembuskan pelan. Malam ini begitu sejuk dan dingin. Angin lembut berhembus di sela sunyi. Helaian rambutku menari, mengikuti arah angin yang tak pasti.
Kursi bel yang ku duduki sejak tadi mulai hangat, tanda bahwa aku sudah di sana lumayan lama. Kepalaku bersandar pada kepala kursi. Aku hanya diam di sini. Ku lihat sekitar, banyak aktivitas yang telah berlalu lalang sejak awal aku singgah. Para pekerja yang seliweran dengan wajah berbagai ekspresi, pedagang kaki lima di seberang, kemudian, pasangan yang menikmati waktu berdua untuk menunjukan cintanya.
Setiap saat setelah pulang bekerja. Ku sempatkan diri untuk duduk di kursi ini. Mengingat masa yang telah berlalu dalam benak ku. Lamunanku berpetualang dalam ingatan masa lalu jika aku singgah di sini. Hanya ini yang bisa ku lakukan untuk mengobati rindu pada 'orang itu'.
Seseorang menepuk bahuku, Membuatku terperanjat. Aku tidak langsung menoleh.
"Eh, kaget ya?" Suara yang begitu familiar, aku sangat mengenalnya, Dia Reana. Pemilik suara itu ikut duduk bersamaku.
"Kebiasaan deh, Lu. Kangen sama si Ceking?" Lontaran sarkas itu sontak membuatku menoleh. Meski bukan pertama kali nya aku mendapatkan itu.
"Apasih Na, dia nggak ceking!" Aku marah padanya, tanganku tak tahan untuk memukulnya.
"Iya deh iya, nggak ceking. Tunggu kiris ya tepatnya?" Lagi-lagi, ucapannya selalu sembrono. Tanganku kali ini benar-benar memukul lengannya. Dia menertawakanku, Begitu menjengkelkan. Lebih menjengkelkan lagi, Reana menjadi saksi kisahku dengan 'orang itu'.
"apa yang lo kangenin dari dia?"
Aku diam membeku. Pertanyaan itu tidak pernah ku siapkan jawaban yang pasti. mataku menatap Reana dengan lekat. sebelum akhirnya mulutku dapat mengeluarkan suara untuk menjawabnya.
"Banyak, Na. Kamu tahu sendiri, dia cinta pertamaku. Tapi untuk saat ini, aku cuma ngerasa ada yang belum selesai dari hubunganku yang lama itu."
Reana diam mendengarkan jawabanku.
"Kamu dan si Ceking itu, kaya benang." Ucapnya kembali bersuara. Kalimat itu berusaha ku cerna dalam.
"Kalian itu ibarat benang, benang kusut. Benang kusut kalo di tarik memanjang, dia ga akan bisa lurus, dan bakal narik kamu kembali ke bagian kusut itu. Sama halnya benakmu, yang akan terus membawa kamu ke masa itu karena ada bagian yang belum kalian selesaikan."
Thoughts
-
PermalinkDuduk sendiri dengan ingatan itu berat memang. Tapi ada yang lebih gawat: kalau dia balik. Reana ngomong benang kusut akan narik kamu balik, tapi dia nggak nanya, apa yang narik Ceking balik? Kalau dia juga duduk sendiri dengan ingatan yang sama, benang itu dua arah, dan itu jauh lebih kusut.
-
PermalinkReana yang bisa ngakak bareng sekaligus paham perasaan kamu. Langka 💙
-
PermalinkBenang kusut itu gambaran yang nyata sih. Ada sesuatu tentang keadaan yang belum selesai yang memang sulit dilepas.
-
PermalinkReana tahu cerita kamu yang dalam banget sama orang itu. Gimana rasanya punya teman yang tau semuanya tentang kamu?
-
PermalinkDuduk di satu tempat sementara dunia berlalu, hanya dengan diri sendiri dan ingatan. Itu rasanya kayak gimana sih?
-
PermalinkKursi itu udah jadi tempat ritual untuk kamu? Atau cuma kebetulan aja pilihan tempat duduk?